Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

Greenland Jadi Rebutan, Trump Klaim Demi Keamanan AS

Ferdian Ananda Majni
22/1/2026 11:41
Greenland Jadi Rebutan, Trump Klaim Demi Keamanan AS
Greenland(Visit Greenland)

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memicu ketegangan diplomatik setelah menyatakan ingin segera bernegosiasi untuk mengambil alih Greenland dengan dalih keamanan nasional. Meski rencana tersebut ditolak keras oleh Denmark, Greenland, dan sejumlah sekutu NATO.

Polemik ini berkembang menjadi ketegangan diplomatik yang lebih luas. Apalagi Trump sempat mengancam akan menjatuhkan tarif perdagangan tambahan terhadap sejumlah negara Eropa yang menentang rencananya.

Dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Trump mengungkapkan ancaman tarif itu telah dicabut setelah ia mencapai kerangka kesepakatan masa depan terkait Greenland melalui pembicaraan dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte.

Di manakah Greenland dan mengapa Greenland penting bagi Trump?

Greenland merupakan pulau terbesar di dunia yang terletak di kawasan Arktik. Dengan luas sekitar 2,2 juta kilometer persegi, wilayah ini hampir enam kali lebih besar dibandingkan Jerman.

Pulau tersebut juga dikenal sebagai wilayah dengan kepadatan penduduk terendah di dunia, dengan populasi sekitar 56.000 jiwa, mayoritas berasal dari komunitas Inuit.

Letak geografis Greenland yang berada di antara Amerika Utara dan Kutub Utara menjadikannya strategis untuk sistem peringatan dini serangan rudal serta pemantauan jalur pelayaran di kawasan Arktik.

Pada masa Perang Dingin, Amerika Serikat sempat merencanakan penempatan rudal nuklir di Greenland, namun rencana itu dibatalkan karena kendala teknis serta keberatan dari Denmark.

AS hingga kini mengoperasikan Pangkalan Luar Angkasa Pituffik yang telah ada sejak Perang Dunia Kedua dan berfungsi sebagai fasilitas pemantauan rudal.

Sekitar 80% wilayah Greenland tertutup lapisan es, sehingga sebagian besar penduduk bermukim di pesisir barat daya, termasuk di sekitar ibu kota Nuuk.

Perekonomian Greenland bertumpu pada sektor perikanan dan sangat bergantung pada subsidi dari pemerintah Denmark.

Dalam beberapa tahun terakhir, minat global terhadap sumber daya alam Greenland meningkat, termasuk mineral langka, uranium dan bijih besi. Wilayah ini juga diyakini menyimpan potensi cadangan minyak dan gas yang signifikan.

Trump membantah faktor sumber daya alam menjadi motif utama ambisinya. Namun, ia kerap menyoroti apa yang disebutnya sebagai ancaman Rusia dan Tiongkok di kawasan tersebut.

"NATO telah memberi tahu Denmark, selama 20 tahun, bahwa Anda harus menyingkirkan ancaman Rusia dari Greenland. Sayangnya, Denmark tidak mampu berbuat apa pun. Sekaranglah saatnya, dan itu akan dilakukan!," tulis Trump dalam unggahan di Truth Social.

Dalam pesan teks kepada Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Store, Trump juga menyatakan bahwa ia tidak lagi merasa berkewajiban memprioritaskan perdamaian setelah tidak menerima Hadiah Nobel Perdamaian 2025.

Apa yang telah dikatakan Trump tentang rencananya di Greenland?

Dalam pidatonya di Davos pada Rabu, Trump menegaskan hanya Amerika Serikat yang mampu melindungi, mengembangkan, dan meningkatkan kapasitas Greenland.

Ia juga berargumen AS memiliki dasar historis untuk mengklaim pulau tersebut. Hal yang merujuk pada peran Amerika dalam mempertahankan Greenland selama Perang Dunia Kedua setelah Denmark diduduki Jerman Nazi.

"Kami sudah memilikinya, tetapi kami mengembalikannya ke Denmark," ujar Trump, seraya menambahkan bahwa AS seharusnya menyimpannya.

Meski demikian, Trump berulang kali menegaskan bahwa ia tidak berniat menggunakan kekuatan militer.

"Kita mungkin tidak akan mendapatkan apa pun kecuali saya memutuskan untuk menggunakan kekuatan dan paksaan yang berlebihan, di mana kita akan benar-benar tak terkalahkan. Tapi saya tidak akan melakukan itu," katanya di hadapan para pemimpin dunia.

"Saya tidak perlu menggunakan kekerasan, saya tidak ingin menggunakan kekerasan, saya tidak akan menggunakan kekerasan," lanjutnya.

Trump juga menepis anggapan langkah AS akan merugikan NATO. Ia justru mengklaim Amerika Serikat selama ini diperlakukan sangat tidak adil oleh aliansi tersebut meski telah memberikan begitu banyak. Pernyataan itu kontras dengan fakta, NATO memberikan dukungan besar kepada AS pasca-serangan 11 September 2001 melalui penerapan Pasal 5 untuk pertama kalinya dalam sejarah aliansi.

Pada 17 Januari, Trump sempat mengancam akan mengenakan tarif baru sebesar 10% terhadap semua barang dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia, yang akan naik menjadi 25% jika tidak tercapai kesepakatan hingga 1 Juni. Ancaman itu kemudian dicabut setelah Trump menyebut pertemuannya dengan Mark Rutte sebagai sangat produktif dan menghasilkan kesepakatan kerangka kerja awal.

Trump pertama kali mengusulkan pembelian Greenland pada 2019. Namun ditolak karena pulau tersebut tidak dijual. Minat itu kembali mencuat setelah ia kembali menjabat pada Januari 2025.

Wakil Presiden JD Vance mengunjungi Greenland pada Maret 2025 dan menuduh Denmark gagal berinvestasi cukup untuk melindungi wilayah tersebut. Pada akhir 2025, Trump menunjuk Jeff Landry sebagai utusan khusus untuk Greenland.

Seruan Trump meningkat setelah serangan militer AS di Venezuela pada awal Januari 2026.

Apa yang telah dikatakan Denmark dan sekutu NATO lainnya tentang masa depan Greenland?

Greenland tidak memiliki militer sendiri dan bukan anggota NATO. Namun termasuk dalam perlindungan aliansi melalui Denmark. 

Menanggapi ancaman tarif, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menegaskan bahwa Eropa tidak akan diintimidasi. Ia bersama para pemimpin Eropa lainnya memperingatkan retorika Trump dapat merusak hubungan transatlantik dan berisiko menciptakan spiral penurunan yang berbahaya.

Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer menyebut langkah Trump sepenuhnya salah, sementara Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan kebijakan tarif AS pada dasarnya tidak dapat diterima. Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyatakan respons Eropa akan tegas, bersatu dan proporsional.

Para pemimpin Eropa menegaskan masa depan Greenland hanya dapat ditentukan Denmark dan rakyat Greenland sendiri.

Mengapa Denmark menguasai Greenland?

Meski secara geografis berada di Amerika Utara, Greenland telah berada di bawah kendali Denmark selama sekitar tiga abad. Pulau ini berstatus koloni hingga pertengahan abad ke-20 dan lama mengalami keterisolasian serta kemiskinan.

Saat Denmark diduduki Nazi Jerman, Amerika Serikat menginvasi Greenland dan mendirikan pangkalan militer. Kehadiran AS berlanjut pascaperang.

Perjanjian pertahanan 1951 memberi AS peran utama dalam pertahanan Greenland. Pada 1953, Greenland resmi menjadi bagian dari Kerajaan Denmark.

Referendum 1979 memberikan pemerintahan sendiri kepada Greenland, meski urusan luar negeri dan pertahanan tetap dipegang Denmark.

Apa pendapat masyarakat Greenland tentang Trump dan ancamannya?

Perdana Menteri Greenland Jens Frederik Nielsen secara konsisten menolak klaim Trump dan menyebut gagasan penguasaan AS sebagai fantasi. Survei menunjukkan mayoritas warga Greenland mendukung kemerdekaan dari Denmark, tetapi sebagian besar menolak menjadi bagian dari Amerika Serikat.

Penolakan publik itu diwujudkan melalui aksi demonstrasi di Greenland dan Denmark, dengan ribuan orang turun ke jalan memprotes rencana Trump. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya