Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
KENAIKAN permukaan laut global sudah jadi isu utama krisis iklim. Kota-kota pesisir bersiap menghadapi banjir rob yang semakin sering terjadi, sementara ilmuwan terus memantau laju pencairan es di kutub. Tapi ada satu temuan yang terdengar kontradiktif yaitu ketika laut dunia naik, permukaan laut di sekitar Greenland justru diproyeksikan turun.
Studi terbaru yang dipublikasikan di Nature Communications dan dilaporkan oleh Columbia Climate School menunjukkan bahwa wilayah pesisir Greenland bisa mengalami penurunan permukaan laut relatif hingga akhir abad ini. Penelitian ini melibatkan tim ilmuwan dari Columbia University yang memodelkan perubahan es, daratan, dan distribusi air laut secara global.
Lapisan es Greenland sangat besar dan berat. Selama ribuan tahun, massa es itu bukan hanya menekan daratan di bawahnya, tetapi juga menarik air laut di sekitarnya lewat gaya gravitasi. Artinya, air laut secara alami “menumpuk” lebih tinggi di sekitar Greenland karena tarikan massa es tersebut.
Ketika es mencair akibat pemanasan global, dua hal terjadi. Pertama, massa es berkurang sehingga tarikan gravitasinya melemah. Air laut pun perlahan menjauh dari wilayah itu. Kedua, daratan yang sebelumnya tertekan es mulai terangkat kembali, proses yang dikenal sebagai glacial isostatic adjustment. Kombinasi dua efek ini membuat permukaan laut relatif di Greenland turun, meskipun secara global volumenya meningkat.
Dikutip dari Euronews, model proyeksi menunjukkan penurunan permukaan laut lokal di Greenland bisa mencapai lebih dari satu meter dalam skenario tertentu pada akhir abad ini. Namun ini tidak berarti ancaman kenaikan laut hilang.
Sebaliknya, air yang menjauh dari Greenland akan terdistribusi ke wilayah lain. Dampaknya, kawasan pesisir di Amerika Utara, Eropa, hingga Asia tetap menghadapi kenaikan permukaan laut yang signifikan.
Fenomena ini bukan kabar baik untuk iklim global. Justru sebaliknya, ini menunjukkan betapa kompleksnya sistem bumi. Pencairan es tetap menjadi sinyal kuat bahwa pemanasan global berlangsung cepat. Hanya saja, dampaknya tidak merata.
Greenland mungkin melihat garis pantainya berubah ke arah yang berbeda dibandingkan kota-kota pesisir dunia lainnya. Tapi secara keseluruhan, laut dunia terus naik, dan risiko iklim makin nyata.
Sains kembali mengingatkan bahwa perubahan iklim bukan proses linear. Ada dinamika gravitasi, geologi, dan oseanografi yang saling terhubung. Fenomena di Greenland menunjukkan bahwa perubahan iklim tidak bekerja secara sederhana dan sering kali hasilnya berbeda dari dugaan awal.
Sumber: State of the Planet, euronews
Sebuah temuan ilmiah terbaru dari University of California, San Diego (UCSD) pada awal 2026 mengungkap ancaman serius tersembunyi di bawah lapisan es Greenland
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved