Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH temuan ilmiah terbaru dari University of California, San Diego (UCSD) pada awal 2026 mengungkap ancaman serius tersembunyi di bawah lapisan es Greenland. Para peneliti menemukan adanya lapisan sedimen lunak yang luas di bawah gletser, yang berperan sebagai “tumit Achilles” atau titik lemah utama pemicu kenaikan permukaan laut global.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Geology dan dilaporkan oleh Earth.com ini menunjukkan bahwa sedimen lunak tersebut secara signifikan mempercepat aliran es Greenland ke laut, jauh lebih cepat dibandingkan perkiraan model iklim sebelumnya.
Mengutip laporan GeoscienceWorld (Januari 2026), tim peneliti menggunakan teknologi pemindaian seismik untuk memetakan struktur di bawah Greenland Ice Sheet (GrIS). Hasilnya mengejutkan, karena area yang selama ini diyakini berupa batuan keras ternyata didominasi sedimen basah, lunak, dan licin.
Penelitian ini berfokus pada Gletser Jakobshavn Isbræ serta beberapa aliran es utama lainnya. Lapisan sedimen tersebut bekerja layaknya pelumas alami, memungkinkan gletser raksasa meluncur lebih cepat ke arah samudra. Ketika suhu global meningkat dan dasar es mencair, kecepatan aliran es pun meningkat secara drastis.
Laporan dari Indian Defence Review menegaskan bahwa temuan ini mengubah cara ilmuwan memprediksi masa depan wilayah pesisir dunia. Beberapa dampak utama yang disoroti antara lain:
Para ilmuwan memperingatkan bahwa dunia mungkin telah mendekati titik kritis (tipping point), di mana aliran es tidak lagi dapat diperlambat karena gesekan di dasar es telah berkurang secara signifikan.
Studi yang dirilis luas pada 17-18 Januari 2026 ini menjadi alarm keras bagi kota-kota pesisir dan negara kepulauan. Selama ini, banyak model iklim hanya memperhitungkan pencairan es dari permukaan akibat suhu udara, tanpa memasukkan faktor mekanis di bagian bawah lapisan es.
Keberadaan sedimen lunak di bawah es Greenland membuat sistem es ini jauh lebih sensitif terhadap pemanasan global. Akibatnya, kenaikan permukaan laut dapat terjadi lebih cepat dari perkiraan, mengancam infrastruktur pesisir, populasi manusia, serta ekosistem laut dalam waktu yang relatif singkat. (Earth.com/ Jurnal Geology (GeoscienceWorld)/ Indian Defence Review/Z-10)
LEMBAGA think tank GIF menilai kebijakan luar negeri Amerika Serikat (AS) menunjukkan kecenderungan yang semakin agresif dan koersif dalam merespons dinamika geopolitik global.
Megatsunami Greenland menjadi salah satu fenomena alam paling mengejutkan dalam beberapa tahun terakhir. Peristiwa ini bukan tsunami biasa.
PARA menteri luar negeri Uni Eropa untuk pertama kali dalam pertemuan pada Kamis (29/1) menyebut Amerika Serikat sebagai ancaman bagi benua tersebut.
Peristiwa ini bermula pada September 2023, namun detail penyebabnya baru terungkap melalui laporan penelitian internasional yang dirilis pada akhir 2024.
Menlu Sugiono menegaskan menjaga kepentingan nasional harus tetap menjadi prioritas utama dalam setiap langkah kebijakan luar negeri Indonesia.
Menlu Sugiono menegaskan Indonesia akan terus mendorong terciptanya perdamaian serta stabilitas internasional melalui jalur diplomasi dan penguatan kerja sama global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved