Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Parlemen Eropa Siap Tangguhkan Kesepakatan Tarif dengan AS 

Thalatie K Yani
21/1/2026 05:32
Parlemen Eropa Siap Tangguhkan Kesepakatan Tarif dengan AS 
Ilustrasi(freepik)

KETEGANGAN perdagangan antara Amerika Serikat dan Uni Eropa kembali mencapai titik didih. Parlemen Eropa dikabarkan berencana menangguhkan persetujuan kesepakatan tarif yang sebelumnya disepakati pada Juli lalu. Langkah ini dipicu manuver terbaru Donald Trump yang menekan sekutu Eropa terkait ambisinya mengakuisisi Greenland.

Penangguhan ini rencananya akan diumumkan secara resmi di Strasbourg, Prancis, pada Rabu waktu setempat. Keputusan ini menandai eskalasi serius setelah Trump mengancam akan memberlakukan tarif baru selama akhir pekan jika tuntutannya terkait wilayah Arktik tersebut tidak dipenuhi.

Pasar Keuangan Global Terguncang

Kabar kembalinya wacana perang dagang ini langsung memukul pasar finansial di kedua sisi Atlantik. Di bursa AS, indeks Dow Jones merosot lebih dari 1,7%, sementara S&P 500 jatuh lebih dari 2% dan Nasdaq ditutup melemah 2,4%. Di pasar valuta asing, dolar AS jatuh tajam terhadap Euro dan Poundsterling. Gejolak ini juga memicu aksi jual surat utang pemerintah jangka panjang yang menyebabkan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi di AS, Inggris, hingga Jerman.

Bernd Lange, Ketua Komite Perdagangan Internasional Parlemen Eropa, menegaskan tidak ada pilihan lain selain menunda kerja sama tersebut.

"Dengan mengancam integritas teritorial dan kedaulatan negara anggota UE serta menggunakan tarif sebagai instrumen paksaan, AS merusak stabilitas dan prediksi hubungan dagang UE-AS," ujar Lange. Ia menambahkan, "Tidak ada alternatif selain menangguhkan pengerjaan dua proposal legislatif Turnberry sampai AS memutuskan untuk kembali pada jalur kerja sama dan bukan konfrontasi."

Batas Waktu 6 Februari

Kesepakatan yang terancam ini awalnya dipandang sebagai "gencatan senjata" setelah Trump memangkas rencana tarif barang-barang Eropa dari 30% menjadi 15% pada pertemuan di Skotlandia, Juli lalu. Sebagai imbalannya, Eropa setuju untuk berinvestasi di AS dan melakukan perubahan kebijakan demi mendongkrak ekspor Amerika.

Namun, jeda ini memiliki batas waktu hingga 6 Februari. Jika Uni Eropa tidak meratifikasi kesepakatan atau mengajukan perpanjangan, maka tarif balasan senilai €93 miliar (sekitar Rp1.560 triliun) terhadap barang-barang AS akan otomatis berlaku pada 7 Februari.

Peringatan dari Washington

Menanggapi situasi di Davos, Menteri Keuangan AS Scott Bessent meminta para pemimpin Eropa untuk tetap tenang dan menghindari aksi balasan. "Saya katakan kepada semua orang, duduklah. Tarik napas dalam-dalam. Jangan membalas. Presiden akan berada di sini besok dan dia akan menyampaikan pesannya," imbau Bessent.

Namun, nada berbeda datang dari perwakilan dagang AS yang memperingatkan Washington tidak akan membiarkan aksi balasan tanpa respons yang lebih keras. Jamieson Greer, Perwakilan Dagang AS, memberikan peringatan tersirat: "Apa yang saya temukan adalah ketika negara-negara mengikuti saran saya, mereka cenderung baik-baik saja. Ketika mereka tidak mengikutinya, hal-hal gila terjadi."

Di tengah ancaman ini, Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyerukan agar negara-negara kekuatan menengah bersatu melawan diplomasi "siapa yang kuat dia menang". Menurutnya, bernegosiasi secara bilateral dengan hegemon hanya akan menempatkan negara dalam posisi lemah. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya