Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Konfrontasi Teheran-Washington: Di Balik Krisis Ekonomi dan Gelombang Protes Iran

Irvan Sihombing
14/1/2026 14:08
Konfrontasi Teheran-Washington: Di Balik Krisis Ekonomi dan Gelombang Protes Iran
Ilustrasi(X)

DUNIA tengah menyoroti ketegangan yang kian meruncing antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat. Di tengah gelombang unjuk rasa masif yang melanda 585 lokasi di Iran, kedua negara saling melempar tudingan terkait dalang di balik kerusuhan serta isu perlindungan hak asasi manusia.

Kedutaan Besar (Kedubes) Iran di Jakarta menegaskan bahwa aparat penegak hukum Teheran memprioritaskan pelindungan terhadap nyawa warga sipil yang berunjuk rasa pada 28 Desember lalu dan terus meluas ke banyak wilayah. Pemerintah Iran mengeklaim bahwa unjuk rasa tersebut awalnya berlangsung damai, dipicu oleh fluktuasi nilai tukar yang digerakkan oleh serikat pekerja dan ekonomi di Tehran.

Namun, Teheran melihat adanya pola sabotase dari pihak luar. “Melindungi nyawa warga negara, termasuk para pengunjuk rasa damai, selalu menjadi prioritas, meskipun selama kerusuhan ini, sejumlah warga Iran yang tidak bersalah serta petugas keamanan dan ketertiban umum telah kehilangan nyawa di tangan elemen teroris bayaran,” demikian pernyataan resmi Kedubes Iran di Jakarta.

Iran menuding bahwa pernyataan-pernyataan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Kepala Otoritas Israel Benjamin Netanyahu yang berisi provokasi, telah memicu peningkatan kekerasan teroris dan destabilisasi sosial di Teheran.

“Republik Islam Iran menyatakan kekhawatiran yang mendalam dan serius atas peran sikap dan intervensi terang-terangan dari beberapa aktor asing, terutama AS dan rezim Zionis,” bunyi pernyataan kedutaan.

Mengenai penanganan di lapangan, Kedubes Iran menyampaikan bahwa aparat penegak hukum Iran telah bertindak dengan menahan diri dan dalam kerangka hukum, serta sesuai dengan prinsip-prinsip urgensi tinggi dan proporsionalitas untuk menjaga ketertiban dan keamanan publik.

Perspektif Washington: Ancaman Tindakan Keras dan Isu Eksekusi

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan peringatan keras terhadap Teheran. Trump menegaskan bahwa AS siap mengambil “tindakan yang sangat keras” jika laporan mengenai rencana Iran untuk mengeksekusi para pengunjuk rasa terbukti benar.

“Isu hukuman gantung ini menjadi perhatian serius Washington. “Saya belum mendengar soal hukuman gantung itu. Jika mereka menggantung orang-orang tersebut, Anda akan melihat beberapa hal terjadi. Kami akan mengambil tindakan yang sangat keras jika mereka melakukan hal seperti itu,” kata Trump dalam wawancara dengan CBS News.

Ketika ditanya mengenai target akhirnya terhadap Iran, Trump menjawab, “Tujuan akhirnya adalah menang. Saya suka menang.”

Trump juga menyinggung bantuan ekonomi yang diklaim tengah disiapkan. “Ya, ada banyak bantuan yang sedang dalam perjalanan, dalam berbagai bentuk, termasuk bantuan ekonomi. Kami telah melumpuhkan Iran dalam hal kapasitas nuklirnya,” ujarnya merujuk pada serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni tahun lalu.

Dampak Ekonomi dan Krisis di Lapangan

Kedubes Iran mengakui adanya tekanan ekonomi yang berat, namun mereka menunjuk faktor eksternal sebagai penyebab utama. Menurut pihak kedutaan, sanksi sepihak dan tindakan paksa AS selama beberapa tahun terakhir telah memainkan peran langsung dan tak terbantahkan dalam meningkatkan tekanan ekonomi pada rakyat Iran.

Untuk meredam gejolak, pemerintah Iran mengeklaim telah menyiapkan langkah praktis, termasuk menyediakan paket bantuan untuk kelompok rentan.

Namun, situasi di lapangan dilaporkan tetap kritis. Berdasarkan data organisasi HRANA yang berbasis di AS, diperkirakan jumlah korban tewas mencapai sedikitnya 544 orang dengan lebih dari 10.000 orang ditahan. Salah satu kasus yang mencuri perhatian adalah Erfan Soltani (26), yang dilaporkan dijatuhi hukuman mati dengan eksekusi yang dijadwalkan berlangsung pekan ini.

Instruksi Evakuasi Warga Amerika

Merespons meningkatnya eskalasi, Kedutaan Besar virtual AS untuk Iran mengimbau warga AS agar segera meninggalkan Iran seiring meningkatnya ketegangan dan aksi unjuk rasa di seluruh negeri. Mengingat tidak adanya hubungan diplomatik sejak 1980, warga AS diminta keluar melalui jalur darat menuju Turki atau Armenia.

“Warga negara AS harus segera meninggalkan Iran. Pertimbangkan untuk keluar melalui jalur darat menuju Turki atau Armenia, jika aman untuk dilakukan,” demikian bunyi pernyataan peringatan keamanan tersebut.

Mereka juga memperingatkan bahwa otoritas Iran tidak mengakui kewarganegaraan ganda, sehingga menunjukkan paspor AS atau memperlihatkan hubungan dengan Amerika Serikat dapat menjadi alasan bagi otoritas Iran untuk menahan seseorang.

Konfrontasi ini menandai babak baru dalam hubungan dingin kedua negara yang telah berlangsung sejak April 1980, di mana komunikasi hanya dilakukan melalui negara perantara yakni Swiss dan Pakistan. (Ant/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya