Headline

Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.

Korban Tewas Protes Iran Lampaui 2.600 Orang, Terburuk Sejak Revolusi 1979

Khoerun Nadif Rahmat
17/1/2026 10:26
Korban Tewas Protes Iran Lampaui 2.600 Orang, Terburuk Sejak Revolusi 1979
Bentrokan terjadi di Iran.(Anadolu)

Gelombang protes yang mengguncang Iran sejak akhir Desember mencatatkan rekor kelam sebagai kerusuhan paling mematikan dalam sejarah pemerintahan negara tersebut. Kelompok hak asasi manusia HRANA melaporkan jumlah korban tewas telah mencapai 2.677 orang, angka yang melampaui skala penindasan pada episode kerusuhan sebelumnya. Dari total tersebut, HRANA mencatat 2.478 korban merupakan pengunjuk rasa, sementara 163 lainnya berasal dari aparat atau pihak yang berafiliasi dengan pemerintah. 

Tingginya angka korban demo Iran mencerminkan kerasnya tindakan aparat keamanan sejak protes pecah pada 28 Desember lalu, dipicu tekanan ekonomi dan inflasi yang memburuk. Seorang warga lanjut usia di wilayah barat laut Iran menggambarkan situasi mencekam sebelum kota-kota berubah sunyi akibat pengerahan militer. 

“Saya tidak pernah melihat pemandangan seperti itu sebelumnya,” ujarnya, dikutip Al Arabiya.

Meski media pemerintah mengklaim situasi telah kembali terkendali, laporan kekerasan sporadis masih muncul. Salah satunya adalah tewasnya seorang perawat perempuan akibat tembakan langsung pasukan pemerintah di Karaj, wilayah barat Iran.

Tragedi kemanusiaan itu menjadi tantangan paling serius bagi stabilitas domestik Iran sejak Revolusi Islam 1979. Namun, tindakan keras aparat dinilai sementara berhasil meredam gelombang protes krisis Iran.

Di tengah laporan media pemerintah tentang penangkapan massal lanjutan pada Jumat (16/1), sejumlah kota dilaporkan berada dalam kondisi relatif tenang, di bawah bayang-bayang ancaman intervensi Amerika Serikat. Kekhawatiran akan serangan AS mulai mereda sejak Rabu setelah Presiden Donald Trump menyebut adanya laporan bahwa pembunuhan di Iran mulai menurun. 

Upaya itu disebut tak lepas dari diplomasi intensif yang dilakukan sekutu Washington, termasuk Arab Saudi dan Qatar, guna mencegah eskalasi militer yang dikhawatirkan berdampak luas bagi kawasan. Meski demikian, Gedung Putih menegaskan tekanan terhadap Teheran tetap berlanjut. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan Presiden Trump memahami bahwa sekitar 800 rencana eksekusi mati telah dihentikan.

“Semua opsinya tetap di atas meja,” ujar Leavitt. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya