Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Iran Kecam Provokasi AS dan Israel karena Picu Eskalasi Kekerasan di Teheran

Dhika Kusuma Winata
14/1/2026 13:45
Iran Kecam Provokasi AS dan Israel karena Picu Eskalasi Kekerasan di Teheran
Aksi protes di Iran.(Antara/Anadolu)

KEDUTAAN Besar (Kedubes) Iran di Jakarta melontarkan kritik tajam terhadap sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Kepala Otoritas Israel Benjamin Netanyahu. Pernyataan-pernyataan dari kedua pemimpin tersebut dinilai berisi provokasi yang memicu peningkatan kekerasan teroris serta destabilisasi sosial di Teheran.

Dalam keterangan resminya yang dirilis pada Rabu, pihak Kedutaan mengungkapkan keresahan mendalam atas campur tangan pihak luar terhadap kedaulatan mereka. 

“Republik Islam Iran menyatakan kekhawatiran yang mendalam dan serius atas peran sikap dan intervensi terang-terangan dari beberapa aktor asing, terutama AS dan rezim Zionis,” bunyi pernyataan kedutaan yang diterbitkan di Jakarta, Rabu (14/1/2026).

Kedutaan memandang bahwa sikap eksplisit dan intervensionis dari pejabat Amerika Serikat dan Israel yang memprovokasi kekerasan merupakan pelanggaran nyata terhadap prinsip hukum internasional dan Piagam PBB. 

Secara khusus, intervensi tersebut dianggap menabrak prinsip kedaulatan nasional, non-intervensi urusan internal, serta larangan ancaman penggunaan kekerasan.

Teheran menegaskan bahwa segala bentuk hasutan atau dukungan terhadap tindakan subversif di negara merdeka adalah perbuatan melawan hukum internasional yang menuntut tanggung jawab langsung dari negara pelakunya. 

“Upaya untuk mengeksploitasi tuntutan ekonomi rakyat Iran sebagai dalih untuk memberikan tekanan politik, perang psikologis, atau bahkan ancaman militer merupakan pelanggaran nyata terhadap kemerdekaan dan integritas teritorial Republik Islam Iran,” tambah pernyataan tersebut.

Dipicu oleh fluktuasi nilai tukar

Terkait latar belakang situasi domestik, Kedubes Iran menjelaskan bahwa gelombang unjuk rasa yang dimulai pada 28 Desember 2025 tersebut awalnya dipicu oleh fluktuasi nilai tukar. Aksi tersebut digerakkan oleh serikat pekerja dan sektor ekonomi, termasuk pengusaha serta pedagang di Tehran.

Awalnya, unjuk rasa berlangsung damai dengan fokus utama menuntut stabilitas pasar dan langkah ekonomi yang efektif. Namun, pihak Kedutaan mencatat adanya pergeseran situasi akibat penyalahgunaan oleh kelompok tertentu. 

Berdasarkan dokumentasi yang ada, unjuk rasa damai sengaja disusupi oleh sejumlah kecil elemen kekerasan yang berafiliasi dengan gerakan luar negeri, yang kemudian berujung pada kerusakan fasilitas publik dan serangan terhadap aparat.

“Tindakan-tindakan ini tidak ada hubungannya dengan tuntutan ekonomi yang sah dan dianggap berada di luar cakupan perlindungan terhadap unjuk rasa damai menurut hukum hak asasi manusia internasional,” tegas pernyataan Kedubes Iran.

Kategori Data Statistik Terkait
Cakupan Wilayah 585 lokasi di 186 kota (31 Provinsi)
Estimasi Korban Jiwa (HRANA) Sedikitnya 544 orang (termasuk aparat & demonstran)
Jumlah Penahanan Sedikitnya 10.681 orang
Korban Luka-luka Lebih dari 1.000 orang
Aparat Gugur (Kantor Berita Tasnim) Setidaknya 109 anggota keamanan

Trump beri komentar provokatif

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump terus memberikan komentar provokatif terkait situasi di Iran. Pada Selasa (13/1), Trump menyatakan kesiapan AS untuk mengambil langkah drastis jika laporan mengenai rencana eksekusi terhadap demonstran terbukti benar.

“Saya belum mendengar soal hukuman gantung itu. Jika mereka menggantung orang-orang tersebut, Anda akan melihat beberapa hal terjadi. Kami akan mengambil tindakan yang sangat keras jika mereka melakukan hal seperti itu,” ucap Trump.

Ketegangan ini menunjukkan semakin meruncingnya hubungan diplomatik antara Teheran dan Washington di tengah gejolak ekonomi yang melanda Iran sejak akhir 2025. (Ant/I-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya