Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

AS Kepung Iran dengan Kekuatan Militer Jelang Perundingan Jenewa

Thalatie K Yani
17/2/2026 07:18
AS Kepung Iran dengan Kekuatan Militer Jelang Perundingan Jenewa
Ketegangan AS-Iran memuncak. Presiden Trump kerahkan kapal induk dan jet tempur ke Timur Tengah jelang perundingan nuklir Jenewa. Simak analisis lengkapnya.(US Navy)

MILITER Amerika Serikat terus memperkuat kehadiran aset udara dan lautnya secara besar-besaran di Timur Tengah. Langkah agresif ini dilakukan tepat sebelum dimulainya perundingan nuklir dengan Iran di Jenewa yang dijadwalkan pada Selasa esok.

Sejumlah sumber militer menyebutkan pengerahan kekuatan ini bertujuan ganda, memberikan tekanan psikologis kepada Teheran sekaligus menyiapkan opsi serangan langsung jika negosiasi menemui jalan buntu. Saat ini, jet tempur F-15, kapal induk USS Abraham Lincoln, serta pesawat tanker pengisi bahan bakar telah diposisikan di titik-titik strategis seperti Yordania, Bahrain, dan Arab Saudi.

Opsi Militer dan Isu Pergantian Rezim

Presiden Donald Trump dalam beberapa pekan terakhir berulang kali mengancam akan mengambil tindakan militer. Pada Jumat lalu, Trump bahkan menyatakan pergantian rezim "akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi" di Iran.

"Saya pikir mereka (negosiasi) akan berhasil. Jika tidak, itu akan menjadi hari yang sangat buruk bagi Iran," tegas Trump. Saat ditanya mengenai pergerakan kapal induk ke wilayah tersebut, ia menambahkan, "Jika kita tidak mencapai kesepakatan, kita akan membutuhkannya."

Namun, di internal pemerintahan AS sendiri muncul kekhawatiran mengenai kekosongan kekuasaan jika rezim Teheran runtuh. Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengakui ketidakpastian tersebut. "Tidak ada yang tahu siapa yang akan mengambil alih jika rezim itu jatuh," ujar Rubio dalam dengar pendapat di Kongres.

Tantangan di Meja Perundingan

Perundingan di Swiss ini diperkirakan akan dipimpin oleh utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner dari pihak AS, sementara Iran diwakili oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Poin krusial yang menjadi penghambat adalah tuntutan Trump agar Iran menghentikan seluruh aktivitas pengayaan uranium tanpa pengecualian.

Marco Rubio bersikap skeptis terhadap peluang kesepakatan mengingat latar belakang ideologis kepemimpinan Iran. "Iran pada akhirnya diperintah oleh ulama Syiah, ulama Syiah radikal. Orang-orang ini membuat keputusan kebijakan atas dasar teologi murni. Jadi, sulit untuk mencapai kesepakatan dengan Iran," kata Rubio dalam konferensi pers di Budapest, Senin.

Penolakan dari Sekutu Regional

Meskipun AS telah menyiapkan opsi serangan terhadap markas besar Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan instalasi nuklir, sekutu-sekutu Arab di Teluk Persia menyatakan keberatan. Diplomat regional menyebutkan bahwa hampir semua negara tetangga menolak opsi serangan militer karena khawatir akan destabilisasi kawasan secara total. Hanya Israel yang sejauh ini dilaporkan mendesak AS untuk melakukan serangan.

Di sisi lain, Iran merespons tekanan ini dengan menggelar latihan militer udara, laut, dan darat. Panglima Angkatan Bersenjata Iran, Mayjen Abdolrahim Mousavi, memberikan peringatan keras kepada Trump.

"Trump harus tahu bahwa dia akan memasuki konfrontasi yang memberikan pelajaran keras, yang hasilnya akan memastikan dia tidak lagi menebar ancaman di seluruh dunia," lapor media pemerintah Press TV. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik