Headline

Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.

Menlu Oman: Perang AS-Israel Lawan Iran bukan Salah Teheran

Haufan Hasyim Salengke
25/3/2026 15:33
Menlu Oman: Perang AS-Israel Lawan Iran bukan Salah Teheran
Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi berpose untuk foto bersama Presiden AS Donald Trump pada KTT deklarasi gencatan senjata Gaza di Sharm el-Sheikh, Mesir, 13 Oktober 2025.(Yoan Valat/AFP)

MENTERI Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi, mengeluarkan pernyataan diplomatik yang tajam terkait eskalasi militer di Timur Tengah. Sosok yang dikenal sebagai perancang negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran ini menegaskan bahwa Republik Islam Iran bukanlah pihak yang bertanggung jawab atas pecahnya perang yang dimulai oleh AS dan Israel pada 28 Februari lalu.

"Apa pun pandangan Anda tentang Iran, perang ini bukan buatan mereka (Iran)," tulis Al-Busaidi melalui akun resminya di media sosial X, Senin (23/3).

Pernyataan ini menandai pergeseran sikap yang cukup kontras dibandingkan negara-negara Teluk lainnya. Saat ini, kawasan tersebut tengah menghadapi tekanan ekonomi hebat akibat gangguan pada rantai pasokan energi. Al-Busaidi menyatakan bahwa Oman sedang bekerja intensif untuk memastikan pengaturan jalur aman (safe passage) di Selat Hormuz guna memitigasi dampak ekonomi global yang kian memburuk.

Al-Busaidi, yang biasanya menjaga profil rendah, kini tampil lebih vokal. Hanya 24 jam sebelum perang pecah, ia sempat terbang ke Washington untuk memohon dilanjutkannya jalur diplomasi. Menurutnya, Iran sebenarnya telah memberikan konsesi signifikan selama proses negosiasi.

Namun, laporan di lapangan menunjukkan adanya kendala teknis dalam mediasi tersebut. Pihak mediator AS dilaporkan tidak menyertakan pakar teknis dalam pembicaraan, yang mengakibatkan kurangnya pemahaman terhadap tawaran-tawaran substantif di atas meja runding.

Dalam tulisannya di The Economist pekan lalu, Al-Busaidi menyebut aksi balasan Iran terhadap aset-aset AS sebagai konsekuensi yang "tak terelakkan meskipun sangat disesalkan". Ia menilai kepemimpinan Iran berada dalam posisi sulit ketika menghadapi perang yang dirancang untuk mengakhiri eksistensi Republik Islam tersebut.

Tekanan di Kawasan Teluk

Situasi kian pelik bagi negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC). Arab Saudi, misalnya, berada di posisi sulit antara keinginan menjaga hubungan yang telah membaik dengan Teheran dan tekanan besar dari Washington untuk bergabung dalam serangan ofensif.

Hingga saat ini, konflik tersebut telah menelan korban jiwa yang signifikan. Lebih dari 2.000 warga Iran dilaporkan tewas, bersama dengan 13 warga Amerika dan puluhan warga Israel. Di wilayah Teluk, 25 orang dilaporkan tewas, sebagian besar merupakan warga ekspatriat yang terkena serpihan rudal hasil intersepsi di udara.

Al-Busaidi menutup pernyataannya dengan peringatan keras kepada Washington. "Saya mendesak Amerika Serikat agar tidak terseret lebih jauh. Ini bukan perang Anda," tegasnya. (MEE)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya