Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Pentagon Prediksi Operasi Militer terhadap Iran Bisa Berlangsung Hingga 8 Minggu

Thalatie K Yani
05/3/2026 10:46
Pentagon Prediksi Operasi Militer terhadap Iran Bisa Berlangsung Hingga 8 Minggu
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengisyaratkan perang melawan Iran bisa memakan waktu hingga 8 minggu. AS klaim kuasai ruang udara dan lumpuhkan rudal Iran.(Media Sosial X)

MENTERI Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, memberikan sinyalemen terbaru mengenai durasi operasi militer gabungan AS-Israel terhadap Iran. Dalam konferensi pers di Pentagon, Rabu (5/3), Hegseth mengindikasikan konflik ini bisa memakan waktu hingga delapan minggu, lebih lama dari perkiraan awal Presiden Donald Trump yang menyebut angka empat hingga lima minggu.

Meski enggan menetapkan garis waktu yang pasti, Hegseth menegaskan AS memegang kendali penuh atas tempo permainan. "Kita bisa katakan empat minggu, tapi bisa saja enam, delapan, atau tiga minggu. Pada akhirnya, kamilah yang menetapkan kecepatan dan temponya," ujar Hegseth. Ia menambahkan AS memiliki stok persenjataan yang "hampir tak terbatas" untuk memenangkan perang atrisi ini.

Klaim Keunggulan Udara dan Pelemahan Iran

Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine, melaporkan kemajuan signifikan dalam operasi yang dimulai sejak Sabtu lalu. Menurut data Pentagon, kemampuan rudal balistik Iran telah berkurang drastis sebesar 86% sejak hari pertama permusuhan. Selain itu, kekuatan angkatan laut Iran dilaporkan sebagian besar telah hancur.

Kondisi ini memungkinkan AS membangun keunggulan udara di sepanjang pesisir selatan Iran. Pasukan kini mulai berekspansi ke pedalaman dengan melakukan serangan yang semakin dalam ke wilayah teritorial Iran. Strategi serangan juga mulai beralih dari penggunaan rudal jelajah yang mahal ke bom gravitasi berpemandu laser yang lebih ekonomis, seiring rontoknya sistem pertahanan udara Iran.

Dampak Kemanusiaan dan Kerugian Personel

Di balik klaim keunggulan militer tersebut, dampak kemanusiaan mulai menuai sorotan. Pemantau hak asasi manusia melaporkan lebih dari 1.000 warga sipil tewas di Iran, termasuk 180 anak-anak. Salah satu insiden yang menjadi perhatian adalah pengeboman Sekolah Shajareh Tayyebeh yang menewaskan siswi usia sekolah dasar. Terkait hal ini, Hegseth menyatakan pihak militer sedang melakukan investigasi dan menegaskan pasukan AS tidak pernah menyasar target sipil.

Di sisi lain, AS juga mengonfirmasi gugurnya enam tentara mereka akibat serangan drone Iran terhadap pusat operasi di Kuwait pada Minggu. Jenderal Caine menyebutkan risiko bagi personel AS masih tetap tinggi meski superioritas militer berada di pihak Washington.

Perburuan Pemimpin Unit Elite

Hegseth juga mengungkapkan keberhasilan intelijen dalam memburu pemimpin unit Iran yang diduga merencanakan pembunuhan terhadap Donald Trump. "Pemimpin unit yang mencoba membunuh Presiden Trump telah dilacak dan tewas," tegasnya.

Sementara itu, negara-negara tetangga seperti Arab Saudi, UEA, Qatar, dan Yordania dilaporkan aktif membantu mencegat rudal dan drone Iran yang mengarah ke wilayah mereka. Pentagon terus menambah kekuatan dengan mendatangkan jet tempur dan pesawat pengebom tambahan ke kawasan tersebut untuk memastikan keberhasilan operasi dalam jangka panjang. (The Guardian/NDTV/Z-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya