Headline
Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.
Kumpulan Berita DPR RI
DEPARTEMEN Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) resmi mengidentifikasi empat dari enam anggota militer yang tewas dalam serangan drone Iran pada Minggu lalu. Para prajurit tersebut merupakan bagian dari unit pendukung 103rd Sustainment Command yang berbasis di Iowa.
Keempat prajurit yang teridentifikasi adalah Kapten Cody Khork, 35, Sersan Kepala Noah Tietjens, 42, Sersan Kepala Nicole Amor, 39, dan Sersan Declan Coady, 20. Sementara itu, identitas dua prajurit lainnya yang turut gugur dalam serangan tersebut masih dalam proses identifikasi.
"Dengan kesedihan mendalam dan duka yang tak tergoyahkan, kami mengakui dan menghormati prajurit kami yang telah memberikan pengorbanan tertinggi bagi negaranya," ujar Brigjen Clint A. Barnes, Wakil Komandan Jenderal 1st Theater Sustainment Command, dalam pernyataan resminya.
Laporan CNN menyebutkan serangan drone tersebut menghantam pusat operasi taktis sementara di Pelabuhan Shuaiba, Kuwait. Fasilitas tersebut digambarkan sebagai kontainer tiga pintu yang dijadikan ruang kantor.
Meskipun bangunan tersebut dikelilingi pagar beton untuk perlindungan dari bom mobil, tidak ada pelindung atas yang mampu menahan serangan drone atau rudal. Menurut sumber yang mengetahui situasi tersebut, tidak ada sirine atau peringatan dini sebelum ledakan terjadi, sehingga para prajurit tidak sempat menyelamatkan diri ke bunker.
Para korban memiliki rekam jejak pengabdian yang panjang. Kapten Cody Khork asal Florida tercatat pernah bertugas di Arab Saudi, Polandia, dan Guantanamo. Sersan Kepala Nicole Amor asal Minnesota telah mengabdi sejak 2005 dan pernah dikerahkan ke Kuwait serta Irak.
Sementara itu, Sersan Kepala Noah Tietjens merupakan mekanik berpengalaman yang sudah dua kali bertugas di Kuwait. Sersan Declan Coady, prajurit termuda asal Iowa yang juga mahasiswa di Drake University, mendapatkan kenaikan pangkat anumerta atas dedikasinya yang luar biasa.
Komando Pusat AS (CENTCOM) melaporkan selain korban jiwa, sebanyak 18 anggota militer lainnya mengalami luka serius akibat konflik yang terus memanas dengan Iran.
Presiden Donald Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth telah memberikan sinyal potensi jatuhnya korban lebih lanjut masih sangat tinggi. Dalam sebuah wawancara, Trump mengungkapkan belasungkawanya namun juga memberikan peringatan keras.
"Mereka adalah orang-orang hebat. Dan, Anda tahu, kita memperkirakan hal itu (jatuhnya korban) akan terjadi, sayangnya. Itu bisa terus berlanjut, hal itu bisa terjadi lagi," ujar Trump.
1st Theater Sustainment Command saat ini terus mengawasi rantai pasokan dan dukungan pasukan AS di seluruh Timur Tengah, termasuk pengelolaan amunisi, bahan bakar, dan logistik di tengah situasi keamanan yang kian tidak menentu. (CNN/Z-2)
Enam tentara AS terkonfirmasi tewas dalam serangan drone Iran di Pelabuhan Shuaiba, Kuwait. Ini merupakan korban jiwa pertama AS dalam Operasi Epic Fury.
Pentagon ajukan dana Rp3.386 triliun untuk perang melawan Iran. Simak rincian biaya militer AS yang membengkak hingga dampak penutupan Selat Hormuz di sini.
Pentagon meminta persetujuan Gedung Putih untuk anggaran perang di Iran senilai lebih dari US$200 miliar. Akankah Kongres meloloskan dana raksasa ini?
Donald Trump sempat menuding Iran atas serangan maut di SD Minab. Padahal, investigasi mengungkap rudal tersebut adalah Tomahawk milik AS yang salah sasaran akibat data intelijen usang.
Enam tentara AS tewas setelah pesawat KC-135 jatuh di Irak. Pentagon tutup mulut soal detail korban KIA dan WIA di tengah eskalasi perang yang terus memakan korban.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menuduh Iran menembakkan rudal dari sekolah dan rumah sakit. Ia menegaskan AS tidak akan terjebak dalam perang tanpa akhir.
Gedung Putih mengonfirmasi Pentagon akan merilis laporan terkait serangan rudal di sekolah perempuan Iran Selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved