Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
SERANGKAIAN serangan militer Amerika Serikat terhadap kapal-kapal yang diduga mengangkut narkotika di Laut Karibia dan Samudra Pasifik menimbulkan kontroversi setelah sejumlah penyintas mengalami nasib berbeda. Dari lima orang yang selamat setelah serangan awal, dua ditahan lalu dipulangkan, satu dibiarkan mengapung dan kini dianggap meninggal, sementara dua lainnya tewas setelah serangan lanjutan yang memicu sorotan publik.
Serangan pada 2 September menjadi perhatian utama karena merupakan operasi pertama yang dilakukan dalam kampanye penumpasan kapal narkotika. Dari insiden tersebut, 87 orang tewas di 23 kapal. Dua penyintas diduga menjadi korban serangan kedua setelah militer AS menembakkan kembali ke kapal yang telah terbalik.
Sejumlah anggota parlemen dari Partai Demokrat menuntut penjelasan, bahkan menilai tindakan tersebut berpotensi melanggar hukum internasional yang melarang pembunuhan terhadap pihak yang sudah hors de combat atau tidak lagi mampu bertempur.
Laksamana Frank “Mitch” Bradley, yang memimpin Komando Operasi Khusus Bersama saat serangan terjadi, memberi penjelasan tertutup kepada anggota Kongres. Bradley disebut memerintahkan serangan lanjutan karena diyakini bagian kapal masih mengapung akibat adanya kokain di dalamnya. Menurut penalarannya, para penyintas bisa saja menyelamatkan diri lalu kembali melanjutkan penyelundupan.
Namun sejumlah pihak yang mengetahui operasi itu menyatakan kekhawatiran tindakan tersebut melanggar hukum perang. “Mereka melanggar hukum dalam kondisi apa pun. Mereka membunuh warga sipil, dan jika menganggap mereka kombatan, itu juga melanggar hukum karena seseorang yang ‘hors de combat’ harus diperlakukan secara manusiawi,” ujar Sarah Harrison, mantan penasihat hukum Pentagon.
Perlakuan berbeda terjadi pada 16 Oktober, ketika dua penyintas dari kapal selam kecil di Karibia justru diselamatkan dan dipulangkan ke Ekuador dan Kolombia. Dua rekannya tewas dalam serangan awal. Menurut pejabat AS, keduanya selamat menggunakan rakit dan tidak lagi memiliki akses ke narkotika di kapal tersebut.
Sebuah laporan The New York Times mengungkap awalnya ada usulan internal agar kedua pria itu dibawa ke penjara “mega-prison” di El Salvador untuk menghindari proses hukum di AS. Namun usulan itu ditolak oleh Departemen Luar Negeri.
Dalam insiden lain pada 27 Oktober, seorang penyintas dilaporkan menghilang setelah militer Meksiko diberi informasi adanya korban selamat. Pencarian dilakukan sesuai protokol 96 jam, tetapi pria tersebut tidak ditemukan dan kini dianggap meninggal.
Laju serangan AS kini melambat, dengan jeda 19 hari sebelum serangan terakhir pada 4 Desember. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menegaskan bahwa kontroversi tidak mengubah rencana operasi. “Kami baru saja memulai serangan terhadap kapal narkotika,” ujarnya. (CNN/Z-2)
Militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap kapal yang diduga membawa narkotika di Pasifik Timur, menewaskan empat orang.
Militer AS melancarkan serangan mematikan terhadap kapal yang disebut terkait organisasi teroris di Karibia atas perintah Presiden Donald Trump.
Amerika Serikat dan Nigeria melakukan operasi serangan udara gabungan terhadap ISIS di Sokoto.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved