Headline

Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.

Trump Pertimbangkan Serangan Udara ke Iran, Nasib Diplomasi di Tangan Kushner dan Witkoff

Thalatie K Yani
24/2/2026 06:33
Trump Pertimbangkan Serangan Udara ke Iran, Nasib Diplomasi di Tangan Kushner dan Witkoff
Presiden AS Donald Trump bersiap untuk opsi militer terhadap Iran jika negosiasi nuklir di Jenewa gagal. (White House)

PRESIDEN Amerika Serikat, Donald Trump, kini berada di titik krusial dalam menentukan kebijakan terhadap Iran. Keputusan untuk memerintahkan serangan udara akan sangat bergantung pada penilaian dua utusan khususnya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, mengenai keseriusan Teheran dalam melepaskan ambisi senjata nuklirnya.

Hingga saat ini, Trump belum menetapkan keputusan final. Namun, ketegangan meningkat menjelang putaran negosiasi yang disebut sebagai "upaya terakhir" yang dijadwalkan berlangsung Kamis ini di Jenewa. Jika kesepakatan gagal tercapai, Trump dilaporkan mempertimbangkan serangan terbatas untuk menekan Iran, atau bahkan serangan skala besar guna memicu perubahan rezim.

Diplomasi di Ujung Tanduk

Laporan dari internal administrasi menyebutkan penilaian Witkoff dan Kushner akan menjadi faktor penentu kalkulasi Trump. Di satu sisi, Witkoff menegaskan arahan Trump adalah memastikan Iran tidak memiliki kemampuan pengayaan nuklir sama sekali. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara tegas menyatakan Teheran belum siap melepaskan kemampuan tersebut.

Sebagai langkah antisipasi, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, pada 28 Februari untuk melaporkan hasil negosiasi tersebut.

Kekhawatiran Militer dan Risiko Retaliasi

Meski opsi militer terus dimatangkan melalui berbagai pengarahan di White House Situation Room, terdapat perdebatan di internal penasihat Trump. Wakil Presiden JD Vance dilaporkan telah mempertanyakan risiko suksesnya serangan ini kepada Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine.

Kekhawatiran utama militer AS berpusat pada rendahnya stok sistem anti-rudal. Pengalaman tahun lalu menunjukkan AS harus menembakkan 30 rudal Patriot, penggunaan tunggal terbesar dalam sejarah AS, hanya untuk mencegat serangan balik Iran setelah pengeboman situs nuklir. Kali ini, pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah bersumpah akan membalas lebih keras, bahkan mengancam akan menenggelamkan kapal perang AS.

Pengerahan Kekuatan Udara Terbesar Sejak 2003

Guna memberikan tekanan maksimal, Amerika Serikat telah mengumpulkan konsentrasi kekuatan udara terbesar di Timur Tengah sejak invasi Irak tahun 2003. Kapal induk tercanggih, USS Gerald Ford, dijadwalkan tiba dalam beberapa hari untuk bergabung dengan puluhan jet tempur siluman F-35, F-22, dan pesawat pengebom strategis yang sudah bersiaga.

Pengerahan ini memberi Trump opsi untuk menjalankan kampanye udara jangka panjang. Jauh lebih luas dibandingkan serangan terbatas musim panas lalu yang menyasar situs pengayaan di Fordow, Isfahan, dan Natanz.

Di tengah ancaman konflik bersenjata, beberapa pejabat administrasi masih berupaya mencari "jalan keluar" damai, termasuk gagasan untuk mengizinkan Iran mempertahankan kemampuan pengayaan nuklir terbatas hanya untuk tujuan medis dan energi sipil. (The Guardian/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya