Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Harga Minyak Naik Drastis di Tengah Klaim Berbeda AS-Israel

Ferdian Ananda Majni
19/3/2026 11:31
Harga Minyak Naik Drastis di Tengah Klaim Berbeda AS-Israel
Trump membantah keterlibatan AS dalam serangan ke ladang gas Iran, meski Israel klaim koordinasi. Eskalasi konflik picu ancaman Iran dan lonjakan harga minyak dunia.(White House)

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump, mengeklaim negaranya tidak terlibat dalam serangan Israel ke ladang gas South Pars Iran, meski pernyataan ini bertentangan dengan klaim militer Israel. Eskalasi konflik memicu ancaman balasan Iran dan lonjakan harga minyak dunia.

"Amerika Serikat tidak mengetahui apa pun tentang serangan khusus ini," tulis Trump.

"Qatar sama sekali tidak terlibat di dalamnya, dan juga tidak tahu bahwa serangan itu akan terjadi," tambahnya.

Pernyataan Trump ini bertolak belakang dengan keterangan juru bicara militer Israel, Effie Defrin, yang sebelumnya menegaskan adanya koordinasi erat dengan pihak Amerika Serikat. 

"Tidak ada kesenjangan di antara kita, dan koordinasinya sangat baik," ujar Defrin.

Iran menuduh Israel dan Amerika Serikat berada di balik serangan terhadap fasilitas gas utama di South Pars yang terjadi pada Rabu (18/3) waktu setempat. Serangan tersebut memicu kebakaran di kawasan Zona Ekonomi Khusus Energi South Pars di Asaluyeh.

"Beberapa saat yang lalu, sebagian fasilitas gas yang terletak di Zona Ekonomi Khusus Energi South Pars di Asaluyeh, dihantam roket yang ditembakkan oleh musuh Amerika-Zionis," demikian dilaporkan televisi pemerintah Iran.

Ladang gas South Pars atau North Dome sendiri merupakan cadangan gas terbesar di dunia dan memasok sekitar 70% kebutuhan gas domestik Iran, menjadikannya aset vital bagi perekonomian negara tersebut.

Peringatan IRGC

Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengeluarkan peringatan keras terhadap negara-negara sekutu AS di kawasan Teluk. IRGC menegaskan akan meningkatkan serangan jika infrastruktur energi Iran kembali menjadi target.

"Kami memperingatkan Anda sekali lagi Anda telah melakukan kesalahan besar dengan menyerang infrastruktur energi Republik Islam, dan tanggapannya sedang dilaksanakan," demikian pernyataan yang dimuat media Iran.

"Jika hal itu diulangi lagi, serangan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi Anda dan sekutu Anda tidak akan berhenti sampai benar-benar hancur, dan tanggapan kami akan jauh lebih keras daripada serangan malam ini," lanjut pernyataan tersebut.

IRGC juga mengancam akan menargetkan fasilitas energi di negara-negara Teluk seperti Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab yang dianggap bersekutu dengan Amerika Serikat.

Pada hari yang sama, serangan rudal Iran dilaporkan menyebabkan kerusakan signifikan pada fasilitas gas Ras Laffan di Qatar. Insiden tersebut memicu kecaman keras dari negara Teluk tersebut dan memperparah eskalasi konflik di kawasan.

Ketegangan ini turut berdampak pada pasar global. Harga minyak dunia melonjak tajam pada Kamis (19/3) pagi, dengan minyak mentah Brent naik menjadi US$112 per barel atau meningkat 4,27%. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik 2,73% menjadi US$98,95 per barel.

Lonjakan harga energi ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan global, terutama karena kawasan Teluk merupakan salah satu jalur utama distribusi minyak dan gas dunia. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik