Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Iran Balas Serangan, Infrastruktur Energi Teluk Jadi Sasaran

Ferdian Ananda Majni
19/3/2026 12:53
Iran Balas Serangan, Infrastruktur Energi Teluk Jadi Sasaran
Suasana perairan di Selat Hormuz(Anadolu)

KORPS Garda Revolusi Islam melancarkan serangan balasan dengan menargetkan infrastruktur energi di negara-negara Teluk sekutu AS, setelah fasilitas gas Iran di South Pars diserang. Eskalasi ini memicu lonjakan harga minyak dan kekhawatiran terhadap stabilitas energi global

Sebelumnya, IRGC telah mengeluarkan peringatan keras bahwa pihaknya akan menargetkan fasilitas energi di negara-negara Teluk yang dianggap bersekutu dengan Washington, termasuk Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. 

"Kami memperingatkan Anda bahwa serangan terhadap infrastruktur energi Iran adalah kesalahan besar," demikian pernyataan IRGC dikutip The Guardian, Kamis (19/3)

Ancaman tersebut juga disertai penegasan bahwa fasilitas energi di kawasan Teluk merupakan target yang sah dan dapat diserang sewaktu-waktu. Tidak lama berselang, serangan balasan benar-benar terjadi.

Fasilitas gas Ras Laffan di Qatar dilaporkan terbakar akibat serangan rudal Iran, meski api berhasil dipadamkan. 

Di Arab Saudi, sistem pertahanan udara disebut berhasil mencegat drone yang mengarah ke fasilitas energi di wilayah timur, sementara puing rudal ditemukan di sekitar area kilang minyak.

Serangan Iran juga berdampak pada sektor energi di Uni Emirat Arab. Sejumlah fasilitas dilaporkan menghentikan operasional sementara

Serangan ini dilakukan setelah fasilitas di Zona Ekonomi Khusus Energi South Pars di Asaluyeh, Iran selatan, terkena serangan roket sehari sebelumnya. 

"Sebagian fasilitas gas yang terletak di Zona Ekonomi Khusus Energi South Pars di Asaluyeh dihantam roket yang ditembakkan oleh musuh Amerika-Zionis," demikian laporan televisi pemerintah Iran yang dikutip AFP.

Ladang gas South Pars atau North Dome diketahui sebagai cadangan gas terbesar di dunia dan menyuplai sekitar 70 persen kebutuhan gas domestik Iran. 

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak AS maupun Israel, meski militer Israel menyebut operasinya dilakukan dalam koordinasi erat dengan Washington.

Harga minyak melonjak

Eskalasi serangan terhadap infrastruktur energi ini memicu kekhawatiran global. Ketegangan yang meningkat menyebabkan volatilitas pasar energi dan meningkatkan risiko terhadap stabilitas ekonomi dunia.

Bank sentral Kanada memperingatkan bahwa konflik ini telah memperbesar risiko ekonomi global akibat lonjakan harga energi dan ketidakpastian di pasar keuangan. 

Harga minyak dunia bahkan melonjak mendekati 110 dolar AS per barel seiring meningkatnya ancaman terhadap fasilitas energi di kawasan Teluk, terutama di tengah gangguan di Selat Hormuz.

Gangguan tersebut berpotensi menghambat pasokan energi global secara signifikan, mengingat kawasan Teluk merupakan jalur utama distribusi minyak dan gas dunia.

Sejumlah negara seperti Irak, Oman, dan Uni Emirat Arab turut mengecam serangan terhadap fasilitas energi Iran. Mereka menilai penargetan infrastruktur vital sebagai bentuk eskalasi berbahaya yang dapat mengancam stabilitas kawasan dan keamanan energi global.

Laporan The Guardian juga menyebut serangan terhadap sektor energi Iran sebagai titik balik penting dalam konflik, yang sebelumnya cenderung menghindari target langsung pada industri minyak dan gas. 

Kini, konflik dinilai mulai mengarah pada perang ekonomi terbuka, dengan sektor energi sebagai sasaran utama kedua pihak.

Iran sendiri menegaskan akan terus melakukan serangan balasan apabila infrastruktur energinya kembali diserang, bahkan dengan skala yang lebih besar. (P-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akmal
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik