Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
KONFLIK yang kian memanas dengan Iran memaksa negara-negara di kawasan Teluk untuk mengevaluasi ulang fondasi keamanan mereka. Kemitraan strategis dengan Amerika Serikat (AS) yang selama ini dianggap sebagai "perisai" utama kini mulai dipertanyakan efektivitasnya.
Hussein Ibish, pakar senior dari Arab Gulf States Institute (IGSI), menilai bahwa kehadiran militer Amerika di tanah Arab ternyata bukan jaminan keamanan mutlak. Meskipun banyak negara Teluk menampung pangkalan militer AS, serangan demi serangan tetap saja terjadi tanpa ada perlindungan nyata.
Kepada Al Jazeera, Ibish menekankan bahwa ketidakpastian ini telah mencapai titik balik yang krusial.
"Ini adalah salah satu titik balik dari sekian banyak (kejadian), yang bermula setidaknya sejak masa Barack Obama dan 'garis merah'-nya terkait penggunaan senjata kimia oleh rezim Suriah beberapa pemerintahan lalu. Dan sekarang, Anda melihat contoh lain di mana janji, atau asumsi tersirat, mengenai perlindungan yang Anda dapatkan dengan menampung pangkalan Amerika dan menjadikan AS sebagai mitra keamanan tidak terbukti dalam praktiknya. Hal itu tidak melindungi Anda dari destabilisasi," ujar Ibish.
Ibish membeberkan deretan fakta pahit yang dialami negara-negara kawasan. Arab Saudi, misalnya, gagal terlindungi dari pengeboman oleh Iran pada September 2019. Setahun kemudian, Abu Dhabi juga dihujani bom oleh pemberontak Houthi dari Yaman.
Ia menyoroti bahwa seluruh negara anggota GCC (Dewan Kerja Sama Teluk) yang beraliansi dengan Washington tetap menjadi sasaran empuk tanpa ada konsekuensi yang berarti bagi pihak penyerang.
"Hal itu tidak melindungi Qatar dari pengeboman oleh Israel selama negosiasi dengan Hamas. Dan itu tidak melindungi siapa pun, karena keenam negara GCC, yang semuanya memiliki hubungan keamanan utama dengan Washington, semuanya telah diserang oleh Iran, sekali lagi, tanpa ada konsekuensi apa pun."
Menurut analisis Ibish, negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Qatar mulai menyadari bahwa terlibat dalam strategi agresif AS untuk membendung Iran justru menempatkan mereka dalam posisi berbahaya. Mereka merasa terekspos risiko besar, namun hanya mendapat sedikit perlindungan sebagai imbalannya.
Kondisi ini tidak hanya mengancam stabilitas kawasan, tetapi juga diprediksi akan menyeret ekonomi dunia ke dalam pusaran konflik.
"Jadi, ini bukan hanya menimbulkan kerugian di Washington, tetapi juga di China, Jepang, India, Korea Selatan, secara global, karena minyak dan LNG bersifat saling menggantikan (fungible)," pungkasnya.
(Al Jazeera/P-4)
Penurunan produksi di tiga negara pertama sekitar seperlima dari total produksi Januari mereka, dan di Irak mencapai 70%, menurut laporan tersebut.
SERANGAN drone mengguncang Konsulat Amerika Serikat di Dubai di tengah eskalasi konflik antara AS-Israel dan Iran, memperluas ketegangan yang kini menjalar ke sejumlah negara Teluk dan Eropa.
Menlu Prancis Jean-Noel Barrot tegaskan kesiapan bela sekutu Teluk dari serangan rudal Iran. Simak rencana evakuasi 400 ribu warga Prancis di sini.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres melakukan komunikasi intensif dengan sejumlah pemimpin negara Teluk guna menekan eskalasi konflik di Timur Tengah.
Perang Iran dan Israel kini memasuki fase menentukan. Simak rincian jumlah korban tewas di Iran, Lebanon, hingga pasukan AS pasca serangan 28 Februari.
AS pindahkan 2.000 Marinir dan Kapal Serbu Tripoli dari Jepang ke Timur Tengah. Donald Trump peringatkan Iran soal jalur minyak Selat Hormuz. Baca selengkapnya.
DIKSI “Siaga Satu” dalam pekan-pekan terakhir ramai diperbincangkan publik setelah Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengumumkan Indonesia dalam status Siaga Satu.
Hingga 12 Maret 2026, tercatat 24.022 jemaah umrah Indonesia telah kembali ke Tanah Air melalui berbagai penerbangan internasional dari Arab Saudi menuju Indonesia.
PRESIDEN Amerika Serikat, Donald Trump, memperingatkan kemungkinan serangan terhadap infrastruktur minyak di Pulau Kharg, Iran, jika kebebasan navigasi di Selat Hormuz terganggu.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved