Headline

Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.

Studi UNDP: Perang Iran Berpotensi Gerus Ekonomi Arab hingga Rp3.000 Triliun

Haufan Hasyim Salengke
31/3/2026 20:38
Studi UNDP: Perang Iran Berpotensi Gerus Ekonomi Arab hingga Rp3.000 Triliun
Kapal kargo dan tanker terlihat di Selat Hormuz pada 25 Februari 2026.(Giuseppe Cacace/AFP/Getty Images)

ESKALASI militer antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang kini memasuki minggu kelima diprediksi akan memicu guncangan ekonomi hebat di kawasan Timur Tengah.

Studi terbaru dari Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) mengungkapkan bahwa kawasan Arab berpotensi kehilangan pertumbuhan ekonomi senilai US$120 miliar hingga US$194 miliar (sekitar Rp1.900 triliun hingga Rp3.076 triliun).

Laporan bertajuk “Military Escalation in the Middle East: Economic and Social Implications for the Arab States region” yang dirilis Selasa (31/3) ini memaparkan realitas mengkhawatirkan mengenai kerentanan struktural kawasan. Gangguan ini diperkirakan akan memangkas 3,7% hingga 6% dari total Produk Domestik Bruto (PDB) kolektif negara-negara Arab.

“Eskalasi militer yang singkat di Timur Tengah dapat menghasilkan dampak sosial ekonomi yang mendalam dan luas di seluruh kawasan Negara-negara Arab,” ujar mereka.

“Sejak eskalasi dimulai, risiko keamanan maritim dan serangan terhadap kapal tanker telah secara tajam mengurangi aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz,” kata studi tersebut.

Lonjakan Pengangguran dan Kemiskinan

Dampak sosial dari krisis ini diprediksi akan sangat masif. UNDP memperkirakan adanya kenaikan tingkat pengangguran hingga 4 poin persentase atau setara dengan hilangnya 3,6 juta lapangan kerja. Angka ini lebih besar dari total lapangan kerja yang berhasil diciptakan di seluruh wilayah tersebut pada 2025.

Kondisi ini diperkirakan akan mendorong tambahan 4 juta orang ke dalam jurang kemiskinan. Wilayah Levant (Irak, Libanon, Yordania, dan Suriah) menjadi yang paling rentan, dengan proyeksi penurunan PDB hingga 8,7% dan kemunduran progres pembangunan manusia (HDI) selama satu hingga satu setengah tahun.

Ancaman di Selat Hormuz

Studi tersebut juga menyoroti lumpuhnya aktivitas pengapalan di Selat Hormuz sebagai titik nadi energi dunia. Risiko keamanan maritim dan serangan terhadap kapal tanker telah menekan pasar energi global. UNDP memperingatkan bahwa insiden sekecil apa pun di selat tersebut dapat mendestabilisasi pasar global secara instan dan memicu lonjakan harga yang tajam.

Untuk merespons tekanan inflasi dan nilai tukar, bank sentral di wilayah tersebut kemungkinan besar harus menaikkan suku bunga secara agresif dan melakukan intervensi pasar mata uang guna menjaga likuiditas perbankan di tengah ketidakpastian yang berkepanjangan. (CNA/Asharq Al-Awsat/B-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya