Headline

Warga AS menolak kepemimpinan yang kian otoriter.

IHSG Masih Tertekan Risiko Geopolitik, Berpotensi Uji Level 7.000

 Gana Buana
30/3/2026 19:25
IHSG Masih Tertekan Risiko Geopolitik, Berpotensi Uji Level 7.000
IHSG dalam fase risk-off.(Antara)

INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai masih berada dalam tekanan dan belum sepenuhnya pulih seiring meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.

Analis pasar modal Hendra Wardana mengatakan kondisi pasar saat ini berada dalam fase risk off, terutama karena kekhawatiran terhadap potensi penutupan Selat Hormuz yang dapat mengganggu pasokan energi global.

“Jika skenario terburuk terjadi, yakni perang berlangsung lebih lama dan harga minyak melonjak hingga US$130-150 per barel, maka dampaknya akan signifikan terhadap inflasi global, suku bunga yang bertahan tinggi lebih lama, serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah,” ujar Hendra pada Media Indonesia, Senin (30/3).

Hendra menilai, dalam kondisi tersebut, IHSG berpotensi kembali melemah dan menguji level psikologis 7.000. Bahkan, dalam skenario ekstrem, indeks diperkirakan bisa turun ke kisaran 6.800-6.900.

Meski demikian, menurut Hendra, penurunan di bawah 7.000 kemungkinan hanya bersifat sementara.

“Secara fundamental, ekonomi Indonesia masih relatif stabil, sehingga level 6.800-6.900 berpotensi menjadi area support kuat,” katanya.

Di tengah tekanan global, sejumlah faktor domestik dinilai masih mampu menahan pelemahan IHSG. Stabilitas inflasi, kebijakan suku bunga Bank Indonesia yang relatif terjaga, serta potensi belanja pemerintah dan daya tarik dividend yield saham berkapitalisasi besar menjadi penopang pasar.

Selain itu, kenaikan harga komoditas energi seperti minyak dan batu bara justru memberikan keuntungan bagi Indonesia sebagai negara eksportir. Hal ini mendorong penguatan saham-saham sektor energi dan tambang.

“Kita melihat adanya dikotomi di pasar. Saham energi naik, sementara saham perbankan dan consumer cenderung melemah. Ini membuat IHSG tidak jatuh terlalu dalam karena ditopang sektor komoditas,” jelasnya.

Hendra juga menekankan pentingnya langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas pasar. Menurutnya, pengendalian defisit fiskal dan stabilitas nilai tukar rupiah menjadi kunci utama untuk menjaga kepercayaan investor.

“Dalam kondisi global yang tidak pasti, investor sangat sensitif terhadap stabilitas APBN dan rupiah. Pemerintah perlu memastikan belanja negara tepat sasaran, terutama untuk menjaga daya beli masyarakat,” ujarnya.

Dari sisi strategi investasi, Hendra menyarankan investor untuk tidak bersikap agresif, melainkan lebih selektif dan bertahap. Pendekatan buy on weakness serta fokus pada saham dengan fundamental kuat dan dividend yield menarik dinilai lebih relevan.

“Dalam kondisi seperti ini, cash is king. Investor sebaiknya menghindari strategi agresif jangka pendek dan lebih fokus pada peluang jangka menengah,” katanya.

Ia menambahkan, volatilitas pasar justru membuka peluang investasi, terutama pada saham berbasis komoditas dan sektor defensif. Beberapa saham yang dinilai menarik untuk dicermati antara lain PTBA dengan target 3.500, PGAS target 2.100, BUMI target 280, serta LSIP target 1.600.

“Saham-saham ini berpotensi diuntungkan dari kenaikan harga komoditas dan pelemahan rupiah, sehingga berpeluang menjadi outperform di tengah fluktuasi IHSG,” tutup Hendra. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya