Headline

“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.

Warga AS Mulai Tercekik Harga BBM Dampak Ekonomi Perang Iran: Kami yang Membayar Harganya

Haufan Hasyim Salengke
01/4/2026 11:38
Warga AS Mulai Tercekik Harga BBM Dampak Ekonomi Perang Iran: Kami yang Membayar Harganya
Harga rata-rata nasional untuk satu galon (3,78 liter) bensin reguler mencapai US$4 pada Selasa, naik sekitar 35% sejak awal perang. Harga di tempat-tempat seperti New York jauh lebih tinggi daripada rata-rata.(AFP)

DAMPAK nyata perang di Iran kini merambah hingga ke kantong warga Amerika Serikat (AS). Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) di berbagai stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) mulai memukul anggaran rumah tangga, memicu kebingungan dan kemarahan di kalangan konsumen.

Berdasarkan data klub motor AAA, rata-rata harga bensin reguler di AS telah melampaui ambang batas psikologis US$4,00 per galon (setara 3,78 liter), atau sekitar Rp16.800 per liter, pada Selasa (31/3). Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 35% sejak serangan gabungan AS-Israel ke Iran dimulai pada Februari lalu.

Dilema Pensiunan dan Pekerja

Jeanne Williams, 83, seorang pensiunan pegawai sipil yang sedang menjalani pengobatan kanker, mengaku tertegun melihat angka di papan LED SPBU Liberty di pinggiran Washington.  Ia baru saja berkendara sejauh 160 km dari Richmond, Virginia, tempat ia mengunjungi kakak perempuannya.

"Ini mengerikan. Saya tidak marah, saya hanya tercengang, bingung, dan tidak bahagia. Karena kita tidak meminta perang ini," ujar Williams kepada AFP. 

Meski memiliki uang pensiun yang cukup, kenaikan biaya hidup memaksa Williams untuk mulai menguras tabungan. "Untungnya, saya tidak punya anak. Saya tidak punya pasangan, jadi hanya saya seniri dan apa pun yang saya punya, saya bantu untuk saudara perempuan saya."

Laporan terbaru kepercayaan konsumen AS juga menunjukkan ekspektasi inflasi meningkat pada Maret ke level tertinggi dalam tujuh bulan terakhir.

Luis Ramos, 26, warga New York, menyebut situasi ini konyol. “Melihat harga bensin melonjak seperti ini, luar biasa. Biaya hidup sudah melonjak,” katanya.

David Lee, 39, seorang ahli anestesi di pinggiran Washington, mengaku harus mengisi bensin dua kali seminggu. “Saya rasa setiap kali isi, setidaknya bayar lebih dari sebelumnya,” ujarnya.

Kondisi serupa dirasakan oleh Joseph Crouch, 77, seorang veteran Perang Vietnam. Ia terpaksa mengurangi aktivitas mengemudi karena harga yang dianggapnya sudah tidak masuk akal. "Kita sedang membayar harga dari perang ini. Mereka mencoba mengatakan itu karena hal lain, tapi ini jelas karena perang," tegas Crouch.

Fred Koester, 78, warga AS lainnya, mengkritik kebijakan perang pemerintah, menyebut konflik militer dengan Iran sebagai perang bodoh yang sama sekali tidak perlu.

Efek Domino Ekonomi

Ekonom Bloomberg, Eliza Winger, memperingatkan bahwa lonjakan harga bahan bakar tidak hanya memukul warga di pompa bensin, tetapi juga mengurangi konsumsi secara keseluruhan. Estimasi menunjukkan bahwa setiap kenaikan 10% harga minyak akan memangkas belanja konsumen riil sekitar 0,2%. Mengingat harga BBM AS telah melonjak lebih dari tiga kali lipat dari jumlah tersebut sejak perang pecah, ancaman terhadap stabilitas ekonomi menjadi kian nyata.

Di sisi lain, Kristen, 36, seorang guru, memberikan pandangan berbeda yang cukup tajam. Menurutnya, mengeluhkan perang hanya saat isi dompet terganggu adalah sikap yang egois. "Kita seharusnya sudah peduli jauh sebelum hal ini memengaruhi kantong kita," pungkasnya. (Bangkok Post/B-3)

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya