Headline

“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.

Dampak Perang Iran: Harga BBM AS Melonjak Biaya Hidup Melambung

Ferdian Ananda Majni
01/4/2026 13:05
Dampak Perang Iran: Harga BBM AS Melonjak Biaya Hidup Melambung
Warga AS.(Al Jazeera)

LONJAKAN harga bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat (AS) memicu kemarahan publik, menyusul dampak perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran yang terus meluas.

Laporan AFP pada Selasa (31/3) menyebutkan bahwa harga bensin di berbagai wilayah AS meningkat hingga 35%, bahkan melampaui ambang US$4 atau sekitar Rp68 ribu per galon yang sebelumnya menjadi patokan.

Jeanne Williams, 83, warga yang melakukan perjalanan dari Richmond, Virginia, menuju Falls Church, mengaku terkejut saat melihat harga bahan bakar di papan digital sebuah pom bensin.

"Itu mengerikan. Saya tidak marah, saya hanya bingung, kacau, dan tidak senang," ujarnya.

"Kami tidak meminta perang ini," tegas dia.

Di wilayah Falls Church, harga bensin tercatat mulai dari US$3,7 atau sekitar Rp63 ribu per galon untuk pembayaran tunai, sementara tarif lebih tinggi diberlakukan bagi pengguna kartu. Di lokasi lain yang tak jauh, harga bahkan mencapai US$4,25 atau sekitar Rp72 ribu per galon.

Williams, seorang pensiunan pegawai negeri yang tengah menjalani pengobatan kanker, mengaku sebelumnya merasa dana pensiunnya cukup. Namun, lonjakan biaya hidup membuatnya kini harus mengandalkan tabungan.

"Untungnya saya tidak punya anak. Saya juga tidak punya pasangan. Jadi hanya saya sendiri dan apa pun yang saya miliki, saya bantu kerjakan untuk saudara perempuan saya," ucapnya.

Meski inflasi di AS telah menurun dari puncaknya sebesar 9,1 persen pada masa pandemi covid-19, harga kebutuhan pokok tetap tinggi. Kondisi ini diperburuk oleh krisis energi global akibat konflik di Iran.

Luis Ramos, 26, warga New York City, mengaku beban hidup semakin berat akibat kenaikan harga bahan bakar.

"Sungguh tidak masuk akal. Melihat harga bensin meroket, benar-benar luar biasa. Biaya hidup sudah meroket," katanya saat ditemui di sebuah pom bensin di New Jersey.

Keluhan serupa disampaikan David Lee, 39, yang rutin mengisi bahan bakar dua kali dalam sepekan.

"Saya merasa setiap kali mengisi bensin, saya mungkin membayar setidaknya 10 dolar lebih mahal daripada biasanya," ujarnya dikutip CNN, Rabu (1/4).

Meski mengaku masih mampu menanggung biaya tersebut, Lee menilai banyak orang di sekitarnya mulai terdampak.

"Namun, saya melihat banyak teman saya mengeluh bahwa mereka tidak akan bisa mengemudi sesering dulu," lanjutnya.

Kondisi ini juga dirasakan Joseph Crouch, 77, yang kini membatasi aktivitas berkendara karena harga bahan bakar yang dinilai tidak masuk akal.

"Ini konyol. Harganya sangat tinggi. Saya rasa pemerintah tidak tahu apa yang mereka lakukan," keluhnya.

"Kami sedang menanggung akibat dari perang ini. Mereka mencoba mengatakan bahwa ini adalah hal lain, tetapi ini jelas perang," paparnya.

Sementara itu, Fred Koester, 78, menyebut konflik tersebut sebagai perang bodoh dan menilai dampaknya justru merugikan masyarakat Amerika.

Perang yang pecah sejak 28 Februari itu telah memicu krisis energi global. Harga minyak dunia berulang kali menembus angka US$100 per barel, memicu tekanan ekonomi di berbagai negara.

Dampaknya tidak hanya dirasakan di Amerika Serikat, tetapi juga meluas ke kawasan Asia dan Eropa. 

Sejumlah negara bahkan mulai menerapkan langkah antisipatif, seperti kebijakan kerja dari rumah (work from home) dan mendorong penggunaan transportasi publik untuk menekan konsumsi energi. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya