Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

AS Rancang Serangan Darat ke Iran, Mayoritas Rakyat Menolak

Media Indonesia
29/3/2026 19:21
AS Rancang Serangan Darat ke Iran, Mayoritas Rakyat Menolak
Warga Iran.(Al Jazeera)

DEPARTEMEN Pertahanan Amerika Serikat tengah merancang skenario serangan darat ke Iran untuk beberapa pekan di tengah pengerahan personel AS ke Timur Tengah, meski keputusan operasi darat tetap di tangan Presiden Donald Trump.

Menurut laporan Washington Post, Sabtu (28/3), para pejabat mengatakan rencana tersebut dapat menandai fase baru perang yang akan lebih berbahaya secara signifikan bagi pasukan AS dibanding dengan yang sudah berlangsung selama empat pekan terakhir.

Operasi darat yang direncanakan itu tidak akan menjadi invasi berskala penuh, tetapi dapat mencakup penyergapan oleh personel operasi khusus dan infanteri, menurut pejabat yang tak disebutkan namanya.

Namun, operasi semacam itu membuat personel AS terpapar ancaman dari drone dan rudal, tembakan darat, dan peledak rakitan.

"Tugas Pentagon adalah membuat persiapan agar Panglima Tertinggi mendapatkan pilihan yang paling optimal," ucap juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt, sebagaimana dikutip media AS itu.

"Hal tersebut bukan berarti Presiden telah membuat keputusan," kata Leavitt.

Di antara skenario yang dibahas yaitu operasi terhadap Pulau Kharg, titik ekspor minyak yang penting bagi Iran, dan operasi penyergapan di pesisir Selat Hormuz untuk mengatasi ancaman pelayaran.

Para pejabat menyebut misi tersebut dapat berlangsung beberapa pekan, bukan beberapa bulan. Pejabat lain memperkirakan operasi berlangsung beberapa bulan.

Adapun Trump sebelumnya berkata bahwa ia tidak akan mengerahkan personel ke manapun.

Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan perang dengan Iran tak akan menjadi perang berkepanjangan karena tujuan perang tersebut dapat dicapai tanpa pengerahan pasukan darat.

Menurut pejabat, 13 personel militer AS tewas dan 300 lebih lain terluka dalam berbagai serangan di kawasan Teluk sejak perang pecah pada akhir Februari 2026.

Pandangan masyarakat terhadap pengerahan pasukan darat AS ke Iran juga terbelah, dengan jajak pendapat mendapati 62 persen responden menolak serangan darat ke Iran dan hanya 12 persen yang mendukung.

Pakar militer Michael Eisenstadt, menyoroti risiko yang akan dihadapi jika pasukan darat benar dikerahkan ke Iran. "Saya tidak ingin ada di tempat sekecil itu dengan kemampuan Iran menghujani mereka dengan drone," katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya aspek mobilitas, karena kelincahan adalah bagian dari perlindungan pasukan.

Ketegangan di kawasan Teluk mengalami eskalasi sejak Israel dan AS melancarkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari, sehingga menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Iran membalas dengan serangan drone dan rudal ke Israel serta wilayah-wilayah di Yordania, Irak, dan negara Teluk yang menampung asset militer AS.

Serangan balasan itu menelan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar dan penerbangan global. (Anadolu/Ant/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya