Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Pentagon Kaji Operasi Darat Risiko Tinggi dan Lamanya ke Iran

Ferdian Ananda Majni
29/3/2026 13:45
Pentagon Kaji Operasi Darat Risiko Tinggi dan Lamanya ke Iran
Warga Iran.(Al Jazeera)

PENTAGON dilaporkan tengah menyiapkan skenario operasi darat di Iran selama beberapa minggu ke depan. Ini seiring pengerahan ribuan pasukan Amerika Serikat (AS) ke kawasan Timur Tengah. 

Namun langkah ini masih menunggu keputusan dari Presiden Donald Trump sebagaimana dilaporkan media pada Sabtu (28/3).

Sejumlah pejabat menyebut rencana tersebut berpotensi menandai fase baru perang yang dinilai akan jauh lebih berbahaya dibandingkan empat minggu awal konflik, menurut laporan The Washington Post.

Meski demikian, operasi darat yang dipertimbangkan disebut tidak akan berupa invasi skala penuh. Opsi yang dibahas meliputi serangan terbatas oleh pasukan Operasi Khusus dan infanteri konvensional. 

Para pejabat, yang berbicara secara anonim, mengingatkan bahwa pasukan dapat menghadapi ancaman serius berupa drone dan rudal, tembakan darat, dan bahan peledak improvisasi.

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa persiapan ini bersifat opsional bagi presiden. 

"Tugas Pentagon adalah melakukan persiapan untuk memberikan Panglima Tertinggi pilihan maksimal," ujarnya dikutip Anadolu, Minggu (29/3).

"Ini tidak berarti Presiden telah membuat keputusan," tambahnya.

Diskusi internal juga mencakup kemungkinan operasi yang menargetkan Pulau Kharg serta serangan di kawasan pesisir dekat Selat Hormuz untuk mengurangi ancaman terhadap jalur pelayaran internasional.

Durasi misi yang diusulkan bervariasi. Sebagian pejabat memperkirakan operasi dapat berlangsung beberapa minggu, bukan beberapa bulan. Sementara lainnya menilai potensi keterlibatan bisa lebih lama.

Sebelumnya, Trump sempat menyatakan pihaknya tidak akan menempatkan pasukan di mana pun. Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan konflik ini tidak akan menjadi konflik yang berkepanjangan dan dapat mencapai tujuan tanpa pengerahan pasukan darat.

Di tengah wacana tersebut, data menunjukkan sedikitnya 13 tentara AS telah tewas dan lebih dari 300 lain terluka sejak konflik dimulai pada akhir Februari.

Opini publik di dalam negeri juga terbelah. Hasil jajak pendapat menunjukkan 62% responden menolak pengerahan pasukan darat ke Iran. Hanya 12% yang mendukung langkah tersebut.

Analis militer Michael Eisenstadt memperingatkan tingginya risiko di lapangan. 

"Saya tidak ingin berada di tempat kecil itu dengan kemampuan Iran untuk menghujani drone," ujarnya. 

"Kelincahan adalah bagian dari perlindungan pasukan Anda," ucapnya yang menekankan pentingnya mobilitas pasukan.

Ketegangan kawasan terus meningkat sejak operasi militer gabungan AS dan Israel dimulai pada 28 Februari. Hingga kini, lebih dari 1.300 orang dilaporkan tewas, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Sebagai respons, Iran melancarkan serangan drone dan rudal ke berbagai target, termasuk Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. 

Serangan tersebut menimbulkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan terhadap pasar global dan jalur penerbangan internasional. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya