Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Iran Klaim Siap Hadapi Invasi Darat AS-Israel dengan Delapan Lapis Pertahanan

Ferdian Ananda Majni
29/3/2026 14:00
Iran Klaim Siap Hadapi Invasi Darat AS-Israel dengan Delapan Lapis Pertahanan
Ilustrasi.(Freepik)

MILITER Iran menyatakan kesiapan penuh untuk menghadapi kemungkinan invasi darat dari Amerika Serikat (AS) dan Israel. Sistem pertahanan yang disiapkan disebut terdiri dari delapan lapisan terkoordinasi yang dirancang untuk menghadapi berbagai skenario serangan.

Dalam wawancara dengan Fars News Agency pada Sabtu (28/3), seorang pejabat militer Iran menjelaskan bahwa setiap lapisan pertahanan memiliki peran dan fungsi tersendiri dengan dukungan intelijen yang memantau pergerakan musuh secara menyeluruh.

"Apa yang menanti para penyerang jika terjadi kesalahan perhitungan adalah memasuki lapisan pertahanan yang telah kita buat mustahil untuk dilewati," katanya.

Delapan Lapis Pertahanan Iran

Lapisan pertama terdiri dari pasukan khusus elite yang menjadi garda terdepan. Unit ini mencakup Pasukan Khusus Angkatan Laut Garda Revolusi (IRGC), Korps Marinir, serta Brigade Lintas Udara ke-65, yang bertugas menghadapi ancaman awal dan menghancurkan kekuatan inti musuh.

Lapisan kedua diisi oleh pasukan lintas udara dan unit penyerang cepat, termasuk brigade dan divisi infanteri gunung yang dirancang untuk operasi ofensif di dalam wilayah pertempuran.

Lapisan ketiga merupakan brigade infanteri mekanis yang dilengkapi kendaraan lapis baja serta dukungan artileri berat dan penerbangan militer.

Lapisan keempat melibatkan unit kepolisian khusus dan pasukan operasi dalam negeri yang berfokus pada pengamanan wilayah perkotaan serta penanganan ancaman infiltrasi.

Lapisan kelima dan keenam masing-masing diisi oleh batalyon tempur, termasuk unit Imam Hussein dan Imam Ali, yang bertugas memperkuat garis pertahanan dan menjalankan operasi khusus dalam situasi kritis.

Lapisan ketujuh terdiri dari mobilisasi veteran, termasuk anggota Garda Revolusi dan Basij yang memiliki pengalaman perang sebelumnya.

Sementara itu, lapisan kedelapan adalah mobilisasi rakyat dalam jumlah besar, terutama di wilayah perbatasan. Jumlahnya diperkirakan mencapai lebih dari satu juta orang dan dapat meningkat hingga puluhan juta dalam kondisi darurat.

Pejabat militer tersebut menegaskan bahwa kekuatan utama sistem ini terletak pada koordinasi antarlapisan.

"Yang menjadikan struktur delapan lapis ini ancaman strategis bagi musuh bukanlah sekadar jumlah pasukan, tetapi koordinasi unik antar lapisan tersebut," sebutnya.

Ia juga menambahkan bahwa seluruh unit berada dalam kondisi siaga tinggi.

"Dari Pasukan Khusus Nuhed hingga Mobilisasi Rakyat, setiap lapisan bukanlah garis pertahanan pasif, melainkan kompleks ofensif independen yang dirancang untuk menghancurkan musuh dan menangkap tawanan dari pihak agresor," lanjutnya.

Ketegangan meningkat sejak 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran. Teheran kemudian membalas dengan serangan rudal ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.

Dalam perkembangan terbaru, laporan Axios menyebut Washington tengah mempertimbangkan opsi invasi darat, termasuk kemungkinan merebut Pulau Kharg untuk menekan Iran membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Sejumlah pejabat AS juga dilaporkan telah mengerahkan sekitar 5.000 personel Marinir dan Angkatan Laut ke kawasan tersebut, dengan rencana tambahan hingga 10.000 personel lainnya.

Situasi ini menunjukkan eskalasi konflik yang semakin serius, dengan kedua pihak memperkuat kesiapan militer di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya