Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Dari New York City hingga Los Angeles, Protes No Kings Penuhi Jalanan AS

Ferdian Ananda Majni
29/3/2026 19:45
Dari New York City hingga Los Angeles, Protes No Kings Penuhi Jalanan AS
Demonstrasi No Kings.(Al Jazeera)

AKSI protes besar-besaran menentang pemerintahan Presiden Donald Trump kembali berlangsung di berbagai kota di Amerika Serikat dalam gelombang demonstrasi bertajuk No Kings. Aksi ini menjadi yang ketiga kali digelar, setelah mampu menarik jutaan peserta di seluruh negeri.

Para penyelenggara menyatakan bahwa demonstrasi ini merupakan bentuk penolakan terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk keterlibatan dalam konflik dengan Iran, penegakan hukum imigrasi federal, serta meningkatnya biaya hidup masyarakat.

"Trump ingin memerintah kita sebagai seorang tiran. Namun, ini Amerika dan kekuasaan ialah milik rakyat, bukan milik calon raja atau kroni-kroni miliarder mereka," kata para penyelenggara dilansir BBC News, Minggu (29/3).

Menanggapi aksi tersebut, juru bicara Gedung Putih menyebut protes itu sebagai Sesi Terapi Gangguan Trump dan menyatakan bahwa satu-satunya pihak yang peduli ialah para reporter yang dibayar untuk meliputnya.

Sepanjang Sabtu (28/3), demonstrasi berlangsung hampir di seluruh kota besar, termasuk New York City, Washington DC, Los Angeles, Boston, Nashville, dan Houston, serta menjangkau kota-kota kecil di berbagai wilayah.

Di Washington DC, ribuan demonstran memenuhi pusat kota dengan berbaris menuju Monumen Lincoln dan memadati kawasan National Mall. 

Seperti pada aksi sebelumnya, peserta membawa patung tiruan Trump, Wakil Presiden JD Vance, serta pejabat lain, sembari menyerukan pemecatan dan penangkapan mereka.

Salah satu aksi terbesar berlangsung di negara bagian Minnesota, dipicu oleh kematian dua warga yakni Renee Nicole Good dan Alex Pretti yang diduga terkait tindakan agen imigrasi federal. Peristiwa tersebut memicu kemarahan publik dan gelombang protes nasional terhadap kebijakan imigrasi pemerintah.

Ribuan orang berkumpul di depan gedung Capitol Negara Bagian di St. Paul dengan sejumlah tokoh Partai Demokrat turut menyampaikan orasi. Musisi Bruce Springsteen juga tampil membawakan lagu kritik berjudul Streets of Minneapolis.

Di New York, massa memadati Times Square dan berbaris di kawasan Midtown Manhattan, memaksa penutupan sejumlah ruas jalan utama. Kepolisian sebelumnya mencatat lebih dari 100.000 orang mengikuti aksi serupa pada Oktober lalu.

Meski sebagian besar berlangsung damai, beberapa insiden terjadi di sejumlah kota. Di Los Angeles, dua orang ditangkap setelah diduga menyerang petugas federal. 

Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) menyebut dua petugas terluka akibat lemparan balok semen saat kerumunan mengepung Gedung Federal Roybal.

Polisi juga melakukan beberapa penangkapan setelah demonstran tidak mematuhi perintah pembubaran di dekat penjara federal. Aparat menggunakan tindakan nonmematikan untuk mengendalikan situasi setelah peringatan diabaikan.

Insiden serupa juga dilaporkan terjadi di Dallas, ketika bentrokan kecil pecah antara demonstran dan kelompok tandingan yang memblokir jalur pawai.

Aksi No Kings turut meluas ke luar negeri, dengan warga Amerika menggelar demonstrasi di kota-kota seperti Paris, London, dan Lisbon.

Sejak kembali menjabat pada Januari 2025, Trump dinilai memperluas kewenangan presiden melalui berbagai perintah eksekutif, termasuk restrukturisasi lembaga federal dan pengerahan Garda Nasional ke sejumlah kota meski mendapat penolakan dari pemerintah daerah.

Trump membantah tudingan bahwa dirinya bertindak seperti diktator. 

"Mereka menyebut saya sebagai raja. Saya bukan raja," katanya dalam wawancara dengan Fox News pada Oktober lalu.

Namun, para kritikus menilai sejumlah kebijakan tersebut berpotensi melanggar konstitusi dan mengancam sistem demokrasi di Amerika Serikat. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya