Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
JUTAAN warga di berbagai kota di Amerika Serikat (AS) turun ke jalan dalam aksi No Kings untuk memprotes kebijakan Presiden Donald Trump.
Gelombang demonstrasi bertajuk No Kings mencerminkan meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap arah pemerintahan saat ini.
Aksi ini digelar secara luas, mulai dari kota besar hingga wilayah pinggiran, dengan tuntutan yang beragam.
Para demonstran menyuarakan penolakan terhadap kebijakan imigrasi, konflik dengan Iran, hingga meningkatnya biaya hidup.
Meski latar belakang peserta berbeda, sebagian besar menyampaikan kekhawatiran terhadap arah kebijakan pemerintah saat ini.
Di Minneapolis, seorang demonstran menyebut keikutsertaannya sebagai bentuk tanggung jawab sebagai warga negara.
"Demokrasi sedang terancam," ujarnya dikutip CNN, Minggu (29/3).
Nada serupa juga disampaikan oleh Tom Arndorfer yang membawa poster bertuliskan Elvis adalah satu-satunya raja. Ia menilai kondisi saat ini memprihatinkan.
"Sangat menyedihkan apa yang terjadi di negara ini dan di dunia. Saya hanya ingin suara saya didengar bersama orang lain," katanya.
Di Chicago, seorang veteran bernama Chris Holy mengaku baru pertama kali ikut dalam aksi protes. Ia merasa situasi yang berkembang tidak lagi bisa diabaikan.
"Saya melihat ketidakadilan yang terjadi. Menurut saya, apa yang dialami masyarakat saat ini tidak benar, dan saya ingin menyampaikan ketidakpuasan saya," jelasnya.
Aksi serupa juga berlangsung di New York City. Seorang demonstran bernama Yohanna mengatakan alasan keikutsertaannya terlalu banyak untuk dirangkum dalam satu poster.
"Kalau kita ingin demokrasi, kita harus ikut berpartisipasi dan menjaganya," ujarnya.
Sementara itu, di Portland, perwakilan serikat guru Fedrick Ingram mengajak masyarakat tetap optimistis di tengah situasi yang dinilai penuh tantangan.
"Kita pernah mengalami masa sulit sebelumnya, dengan kebijakan dan pemimpin yang tidak ideal. Tapi kita selalu bisa bangkit dengan bersatu," katanya.
Di Los Angeles, demonstrasi berlangsung dengan suasana relatif santai namun tetap sarat pesan politik. Musik salsa mengiringi peserta aksi yang membawa poster anti-perang dan mengenakan berbagai kostum unik. Salah satu peserta menegaskan aksi dilakukan secara damai.
"Ini cara kami menyampaikan pesan tanpa kekerasan, dengan cara yang ringan tapi tetap bermakna," ujarnya.
Namun demikian, tidak semua aksi berjalan kondusif. Di pusat kota Los Angeles, aparat keamanan dilaporkan menggunakan gas air mata setelah sebagian demonstran melempar benda ke arah gedung federal.
Polisi setempat menyatakan beberapa orang ditangkap karena tidak membubarkan diri setelah peringatan diberikan.
Secara keseluruhan, aksi No Kings mencerminkan meningkatnya partisipasi publik dalam menyuarakan aspirasi politik di Amerika Serikat.
Seorang peserta di Sacramento berharap demonstrasi ini dapat memengaruhi pilihan politik masyarakat ke depan.
"Semoga lebih banyak orang mulai memikirkan siapa yang mereka pilih," pungkasnya. (I-2)
Gerakan No Kings mengguncang Amerika Serikat setelah aksi massa serentak digelar di lebih dari 3.300 titik di seluruh 50 negara bagian pada Sabtu (28/3).
Usai aksi besar 28 Maret, gerakan No Kings menyiapkan langkah lanjutan lewat agenda nasional. Simak rencana berikutnya dan catat tanggal pentingnya.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Jumat (27/3), mengatakan bahwa Kuba bisa menjadi target aksi AS di masa depan setelah Iran.
Jutaan warga AS gelar protes 'No Kings' jilid III untuk lawan gaya kepemimpinan otoriter Donald Trump dan menuntut penghentian perang dengan Iran yang kian memanas.
Presiden AS Donald Trump beri sinyal kuat bahwa Kuba akan jadi target berikutnya setelah Venezuela dan Iran. Simak pernyataan kontroversial Trump di Miami dan kondisi terkini Kuba.
Usai aksi besar 28 Maret, gerakan No Kings menyiapkan langkah lanjutan lewat agenda nasional. Simak rencana berikutnya dan catat tanggal pentingnya.
AKSI massa bertajuk No Kings atau Bukan Raja digelar serentak di 50 negara bagian Amerika Serikat pada Sabtu (18/10) menandai salah satu demonstrasi nasional terbesar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved