Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
SETELAH aksi demonstrasi besar pada Minggu (28/3), gerakan No Kings di Amerika Serikat bersiap memasuki fase lanjutan. Penyelenggara mengumumkan agenda berikutnya berupa “Mass Call” pada 31 Maret, yang akan mempertemukan pemimpin gerakan dan aktivis lokal dari berbagai wilayah.
Dalam pengumumannya, mereka menyebut aksi sebelumnya sebagai mobilisasi besar. Ini menegaskan penolakan terhadap kepemimpinan yang dianggap otoriter.
“Pada 28 Maret, jutaan dari kita telah menyatakan dengan jelas, kita tidak mengenal raja di Amerika. Gerakan non-kekerasan ini terus berkembang,” tulis penyelenggara dalam situs resmi No Kings.
Demonstrasi No Kings sendiri berlangsung luas di seluruh Amerika Serikat. Aksi digelar dari kota besar hingga wilayah suburban dan kota kecil, mencerminkan jangkauan gerakan yang meluas lintas negara bagian.
Peserta turun ke jalan dengan berbagai bentuk aksi, mulai dari berbaris, bernyanyi, hingga membawa poster protes.
Aksi besar tercatat terjadi di kota-kota seperti New York dan Los Angeles, sementara acara utama di Minnesota bahkan menghadirkan musisi Bruce Springsteen serta sejumlah tokoh publik.
Secara keseluruhan, lebih dari 3.000 aksi digelar secara serentak di seluruh AS, dengan partisipasi jutaan orang, menjadikannya salah satu mobilisasi terbesar dalam sejarah demonstrasi di negara tersebut.
Gerakan No Kings tidak berfokus pada satu isu tunggal. Demonstrasi ini menyoroti berbagai kebijakan Presiden Donald Trump, termasuk:
Kombinasi isu tersebut menjadi alasan utama mengapa massa dari berbagai latar belakang ikut terlibat dalam aksi.
Aksi 28 Maret merupakan gelombang ketiga dari gerakan No Kings sejak 2025. Sebelumnya, jutaan orang juga telah turun ke jalan dalam dua aksi besar yang berlangsung relatif damai.
Sejak saat itu, dinamika politik di AS terus berkembang, mulai dari operasi imigrasi skala nasional hingga tekanan ekonomi akibat konflik perang. Kondisi tersebut disebut turut memperbesar partisipasi publik dalam aksi terbaru ini.
Melalui agenda Mass Call pada 31 Maret, gerakan No Kings berupaya menjaga momentum. Forum ini akan menjadi ruang bagi aktivis untuk:
Peserta juga akan mendengar langsung dari para pemimpin gerakan serta aktivis lokal mengenai arah gerakan ke depan.
Langkah ini menunjukkan bahwa No Kings tidak berhenti pada aksi jalanan semata, melainkan bergerak menuju pengorganisasian jangka panjang berbasis komunitas.
Sejak kemunculannya, No Kings berkembang menjadi salah satu bentuk oposisi terbesar terhadap pemerintahan Trump.
Gerakan ini digerakkan oleh jaringan organisasi sipil, serikat pekerja, dan kelompok advokasi yang mengusung pesan utama: menolak kekuasaan yang dianggap menyerupai “raja” dalam sistem demokrasi.
Dengan skala mobilisasi yang luas dan strategi lanjutan yang terstruktur, No Kings kini tidak lagi sekadar aksi protes, tetapi telah berkembang menjadi gerakan sosial nasional yang berupaya mempertahankan momentumnya di tengah dinamika politik Amerika Serikat. (Z-10)
Gerakan No Kings mengguncang Amerika Serikat setelah aksi massa serentak digelar di lebih dari 3.300 titik di seluruh 50 negara bagian pada Sabtu (28/3).
Gerakan No Kings ramai di Amerika Serikat lewat aksi demonstrasi besar. Sebenarnya apa itu No Kings dan apa tujuan di balik gerakan ini?
Gerakan No Kings ramai di Amerika Serikat lewat aksi demonstrasi besar. Sebenarnya apa itu No Kings dan apa tujuan di balik gerakan ini?
Prince Harry melontarkan sindiran tajam soal politik Amerika Serikat dan Donald Trump saat tampil mengejutkan di The Late Show with Stephen Colbert.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved