Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

No Kings Meledak di 50 Negara Bagian

Ferdian Ananda Majni
29/3/2026 18:22
No Kings Meledak di 50 Negara Bagian
Gerakan No Kings terjadi serentak di 50 negara bagian pada Sabtu (28/3).(AFP)

GERAKAN No Kings mengguncang Amerika Serikat setelah aksi massa serentak digelar di lebih dari 3.300 titik di seluruh 50 negara bagian pada Sabtu (28/3). Demonstrasi ini menjadi simbol penolakan terhadap kepemimpinan Presiden Donald Trump yang dinilai semakin otoriter.

Aksi No Kings merupakan mobilisasi besar ketiga dari gerakan akar rumput yang berkembang sebagai respons atas meningkatnya kekecewaan publik terhadap pemerintah.

Ribuan hingga jutaan warga turun ke jalan membawa pesan yang sama: menolak konsentrasi kekuasaan dan membela demokrasi.

Para demonstran menyoroti berbagai kebijakan yang dianggap menggerus nilai demokrasi, mulai dari pengetatan imigrasi, pembatasan hak aborsi, hingga keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik bersenjata baru.

Meski tidak berfokus pada satu isu, gerakan No Kings secara luas mengkritik perluasan kekuasaan eksekutif.

“Ini tentang segalanya,” ujar Caitlin Pease, peserta aksi yang впервые mengikuti demonstrasi di Upstate New York.

Ketidakpuasan Publik Meningkat

Aksi No Kings berlangsung di tengah menurunnya tingkat persetujuan publik terhadap Trump, termasuk dari sebagian pendukungnya sendiri. Sejumlah kebijakan menjadi sorotan tajam, seperti konflik dengan Iran yang menewaskan 13 personel militer AS, lonjakan harga bahan bakar, serta kenaikan harga kebutuhan pokok akibat kebijakan tarif.

Di sisi lain, politisi Partai Republik menilai gerakan No Kings tidak efektif, sementara Trump menyebut aksi tersebut sebagai “lelucon”.

Namun, koalisi kelompok progresif yang menginisiasi aksi mengklaim jumlah peserta kali ini melampaui rekor sebelumnya. Pada demonstrasi Oktober lalu, sekitar 7 juta orang dilaporkan ikut serta.

Dari Kota Besar hingga Wilayah Konservatif

Gerakan No Kings menjangkau hampir seluruh wilayah AS, dari kota besar hingga daerah konservatif, termasuk Alaska dan kawasan sekitar Mar-a-Lago. Hal ini menunjukkan bahwa gelombang penolakan tidak terbatas pada satu basis politik.

Demonstrasi terbesar dilaporkan terjadi di depan Gedung Capitol Negara Bagian Minnesota. Ezra Levin, salah satu pendiri Indivisible, menyebutnya sebagai aksi terbesar dalam sejarah negara bagian tersebut.

Gubernur Minnesota, Tim Walz, bahkan menyatakan dukungan terbuka.

“Ketika demokrasi terancam, Minnesota mengatakan tidak,” tegasnya.

Meluas ke Dunia Internasional

Gerakan No Kings juga berkembang secara global. Aksi solidaritas digelar di berbagai kota dunia seperti Roma, Paris, Madrid, Amsterdam, Sydney, dan Tokyo, menandakan resonansi internasional terhadap isu demokrasi di AS.

Di Washington DC, demonstrasi berlangsung di National Mall hingga sekitar Gedung Putih. Massa membawa spanduk bertuliskan “Fight for Democracy” dan “History Has Its Eyes on Us”.

Sebagian peserta mengaku khawatir menunjukkan identitas karena bekerja di instansi pemerintah. Namun, banyak juga yang memilih bersuara.

“Dulu saya takut kehilangan pekerjaan, tapi sekarang tidak lagi,” ujar Kim, seorang pegawai federal.

Melalui gerakan No Kings, para demonstran berharap tidak hanya membangun kesadaran publik, tetapi juga mendorong perubahan politik nyata, termasuk dalam pemilu mendatang. (Z-10)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya