Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Iran-AS Mulai Jalur Diplomasi di Oman, Perbedaan Agenda Bayangi Risiko Konflik Baru

Ferdian Ananda Majni
06/2/2026 22:38
Iran-AS Mulai Jalur Diplomasi di Oman, Perbedaan Agenda Bayangi Risiko Konflik Baru
Abbas Araghchi dan Steve Witkoff.(Al Jazeera)

IRAN dan Amerika Serikat (AS) membuka jalur perundingan tingkat tinggi melalui mediasi Oman guna meredakan perbedaan mendalam terkait program nuklir Teheran. Namun, perbedaan pandangan mengenai perluasan agenda pembahasan dinilai berpotensi menggagalkan upaya diplomasi dan memicu ketegangan baru di Timur Tengah.

Seorang pejabat Iran mengatakan bahwa pembicaraan tersebut belum resmi dimulai, meski Iran telah menyampaikan tuntutannya kepada pihak Amerika Serikat melalui perantara Oman.

Menurut pejabat itu, negosiasi tidak langsung mungkin akan dimulai setelah pertemuan antara negosiator utama AS dan Menteri Luar Negeri Oman. Ia menambahkan bahwa perundingan sebelumnya antara Iran dan AS memang dilakukan melalui pendekatan diplomasi ulang-alik.

Kendati kedua pihak menyatakan kesiapan untuk menghidupkan kembali dialog terkait sengketa nuklir Iran yang berlangsung lama dengan Barat, Washington mendorong agar pembahasan diperluas. 

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa Amerika Serikat ingin memasukkan isu rudal balistik Iran, dukungan Teheran terhadap kelompok bersenjata di kawasan, serta perlakuan terhadap rakyat mereka sendiri ke dalam agenda perundingan.

Namun, sumber diplomatik Iran memperingatkan bahwa kehadiran CENTCOM (Komando Pusat AS) atau pejabat militer regional mana pun dalam pembicaraan dapat membahayakan proses pembicaraan nuklir tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat di Oman.

Iran menegaskan keinginannya agar Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff hanya membahas isu nuklir dalam pertemuan di Muscat, ibu kota Oman. 

Menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner, yang sebelumnya berperan dalam perundingan gencatan senjata Gaza, juga dijadwalkan ikut terlibat dalam diskusi tersebut.

Kepemimpinan ulama di Teheran dilaporkan masih khawatir Presiden Trump dapat merealisasikan ancamannya untuk menyerang Iran, menyusul peningkatan kehadiran militer Angkatan Laut AS di wilayah sekitar Iran.

Pada Juni lalu, Amerika Serikat menyerang sejumlah target nuklir Iran dengan bergabung pada tahap akhir kampanye pengeboman Israel selama 12 hari. Setelah itu, Teheran menyatakan bahwa aktivitas pengayaan uranium telah dihentikan.

Pengerahan angkatan laut AS terjadi setelah pemerintah Iran melakukan penindakan keras terhadap gelombang protes nasional bulan lalu, yang semakin meningkatkan ketegangan hubungan antara Washington dan Teheran.

Trump sebelumnya memperingatkan bahwa hal-hal buruk dapat terjadi jika kesepakatan gagal dicapai, pernyataan yang memperkuat tekanan terhadap Republik Islam di tengah kebuntuan yang memicu ancaman serangan udara timbal balik.

"Sementara negosiasi ini berlangsung, saya ingin mengingatkan rezim Iran bahwa presiden memiliki banyak pilihan yang dapat ia gunakan, selain diplomasi, sebagai panglima tertinggi militer terkuat dalam sejarah dunia," kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt.

Kekuatan global dan negara-negara kawasan menyatakan kekhawatiran bahwa kegagalan diplomasi dapat memicu konflik baru antara AS dan Iran yang berpotensi meluas ke seluruh kawasan Timur Tengah yang kaya minyak.

Iran berjanji akan merespons dengan keras setiap serangan militer dan memperingatkan negara-negara Teluk Arab yang menampung pangkalan militer AS bahwa mereka dapat ikut terdampak jika terlibat dalam konflik. Iran diketahui memiliki salah satu persediaan rudal balistik terbesar di Timur Tengah.

Para negosiator di Oman dihadapkan pada garis merah Teheran terkait program rudal. Iran dengan tegas menolak pembahasan mengenai kemampuan pertahanannya, termasuk rudal dan jangkauannya, sebagai bagian dari kesepakatan.

Sebagai sinyal sikap keras, televisi pemerintah Iran melaporkan beberapa jam sebelum pembicaraan dimulai bahwa salah satu rudal balistik jarak jauh tercanggih negara itu, Khorramshahr-4, telah ditempatkan di salah satu kota rudal bawah tanah milik Garda Revolusi.

Meski demikian, Iran menyatakan kesediaan untuk menunjukkan fleksibilitas dalam isu nuklir. 

Para pejabat Iran mengatakan bahwa Teheran bersedia mempertimbangkan fleksibilitas dalam pengayaan uranium, termasuk menyerahkan 400 kg uranium yang sangat diperkaya (HEU) dan menerima pengayaan nol di bawah pengaturan konsorsium sebagai solusi.

Iran tetap menegaskan bahwa haknya untuk memperkaya uranium tidak dapat dinegosiasikan dan menuntut pencabutan sanksi internasional yang diberlakukan kembali sejak 2018, ketika Presiden Trump menarik AS dari kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 dengan enam negara.

Amerika Serikat, sekutu-sekutu Eropanya, dan Israel menuduh Iran menggunakan program nuklirnya sebagai kedok untuk mengembangkan senjata nuklir. Tuduhan tersebut dibantah Teheran yang menegaskan bahwa program nuklirnya semata-mata untuk tujuan damai.

Israel menyamakan ancaman program rudal Iran dengan bahaya nuklirnya. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada Januari lalu menyebut upaya Iran untuk membangun senjata atom dan 20.000 rudal balistik sebagai dua benjolan kanker.

Sementara itu, pengaruh Iran di kawasan dilaporkan melemah seiring terpukulnya jaringan sekutu regionalnya akibat serangan Israel sejak konflik Hamas-Israel pecah di Gaza pada 2023 serta runtuhnya kekuasaan Bashar al-Assad di Suriah. (RTE/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya