Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Perundingan Nuklir AS-Iran di Jenewa Buntu, Teheran Tolak Hancurkan Fasilitas Utama

Media Indonesia
27/2/2026 17:12
Perundingan Nuklir AS-Iran di Jenewa Buntu, Teheran Tolak Hancurkan Fasilitas Utama
Perundingan AS-Iran.(Al Jazeera)

PUTARAN ketiga perundingan intensif antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait program nuklir di Jenewa, Swiss, dilaporkan berakhir tanpa kesepakatan. Laporan dari Wall Street Journal menyebutkan bahwa kedua belah pihak gagal mencapai konsensus terkait isu-isu fundamental yang menjadi inti sengketa.

Ketidakhadiran titik temu ini memicu kekhawatiran baru di pasar global dan stabilitas kawasan Timur Tengah, mengingat kedua negara saat ini berada dalam posisi diplomasi yang sangat kaku.

Tuntutan Keras AS: Penghancuran Fasilitas Strategis

Dalam meja perundingan, delegasi AS yang dipimpin oleh utusan khusus Steve Witkoff mengajukan syarat-syarat berat sebagai prasyarat kesepakatan baru. Sumber yang mengetahui masalah tersebut mengungkapkan bahwa Washington menuntut langkah radikal dari Teheran.

Tuntutan utama Amerika Serikat meliputi:

  • Penghancuran total fasilitas nuklir di Fordow, Natanz, dan Isfahan.
  • Transfer seluruh sisa cadangan uranium yang diperkaya ke wilayah Amerika Serikat.
  • Penghentian permanen seluruh aktivitas pengayaan uranium di dalam negeri Iran.

Respons Iran: Menolak Keras Pemindahan Uranium

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang memimpin delegasi Teheran, secara tegas menolak proposal tersebut. Iran menyatakan bahwa kedaulatan program nuklir mereka tidak dapat dinegosiasikan pada tingkat pembongkaran fasilitas fisik.

Isu Utama Posisi Amerika Serikat Posisi Iran
Fasilitas Nuklir Wajib dibongkar/dihancurkan Menolak pembongkaran
Cadangan Uranium Dikirim ke luar negeri (AS) Tetap berada di wilayah Iran
Pengayaan Uranium Berhenti total Tetap berjalan dengan pembatasan

Ancaman 'Armada Besar' dan Memori Operasi Midnight Hammer

Kegagalan di Jenewa ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan militer dari Washington. Bulan lalu, Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan bahwa "armada besar" militer sedang bergerak menuju posisi strategis di dekat Iran. Trump mendesak Teheran untuk menandatangani kesepakatan yang ia sebut sebagai "adil dan setara".

Ketegangan ini semakin nyata mengingat sejarah militer setahun lalu. Pada Juni 2025, militer AS melancarkan Operasi Midnight Hammer, sebuah serangan udara langsung yang menargetkan fasilitas nuklir Iran. Trump secara terbuka mengingatkan bahwa kegagalan diplomasi kali ini bisa memicu tindakan militer yang jauh lebih destruktif.

"Serangan berikutnya akan jauh lebih buruk," tegas pemimpin AS tersebut, seraya menyerukan agar eskalasi militer ini dihindari melalui konsesi diplomatik.

Meskipun berakhir buntu, kedua pihak dilaporkan masih menyusun proposal alternatif. Dunia internasional kini menanti apakah ada ruang untuk kompromi sebelum "armada besar" yang disebutkan Trump mengambil tindakan lebih lanjut di lapangan.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya