Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
PUTARAN ketiga perundingan intensif antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait program nuklir di Jenewa, Swiss, dilaporkan berakhir tanpa kesepakatan. Laporan dari Wall Street Journal menyebutkan bahwa kedua belah pihak gagal mencapai konsensus terkait isu-isu fundamental yang menjadi inti sengketa.
Ketidakhadiran titik temu ini memicu kekhawatiran baru di pasar global dan stabilitas kawasan Timur Tengah, mengingat kedua negara saat ini berada dalam posisi diplomasi yang sangat kaku.
Dalam meja perundingan, delegasi AS yang dipimpin oleh utusan khusus Steve Witkoff mengajukan syarat-syarat berat sebagai prasyarat kesepakatan baru. Sumber yang mengetahui masalah tersebut mengungkapkan bahwa Washington menuntut langkah radikal dari Teheran.
Tuntutan utama Amerika Serikat meliputi:
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang memimpin delegasi Teheran, secara tegas menolak proposal tersebut. Iran menyatakan bahwa kedaulatan program nuklir mereka tidak dapat dinegosiasikan pada tingkat pembongkaran fasilitas fisik.
| Isu Utama | Posisi Amerika Serikat | Posisi Iran |
|---|---|---|
| Fasilitas Nuklir | Wajib dibongkar/dihancurkan | Menolak pembongkaran |
| Cadangan Uranium | Dikirim ke luar negeri (AS) | Tetap berada di wilayah Iran |
| Pengayaan Uranium | Berhenti total | Tetap berjalan dengan pembatasan |
Kegagalan di Jenewa ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan militer dari Washington. Bulan lalu, Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan bahwa "armada besar" militer sedang bergerak menuju posisi strategis di dekat Iran. Trump mendesak Teheran untuk menandatangani kesepakatan yang ia sebut sebagai "adil dan setara".
Ketegangan ini semakin nyata mengingat sejarah militer setahun lalu. Pada Juni 2025, militer AS melancarkan Operasi Midnight Hammer, sebuah serangan udara langsung yang menargetkan fasilitas nuklir Iran. Trump secara terbuka mengingatkan bahwa kegagalan diplomasi kali ini bisa memicu tindakan militer yang jauh lebih destruktif.
"Serangan berikutnya akan jauh lebih buruk," tegas pemimpin AS tersebut, seraya menyerukan agar eskalasi militer ini dihindari melalui konsesi diplomatik.
Meskipun berakhir buntu, kedua pihak dilaporkan masih menyusun proposal alternatif. Dunia internasional kini menanti apakah ada ruang untuk kompromi sebelum "armada besar" yang disebutkan Trump mengambil tindakan lebih lanjut di lapangan.
Teheran sebut laporan komunikasi dengan AS sebagai "kebohongan murni". Menlu Abbas Araghchi tegaskan Iran tidak pernah meminta gencatan senjata sejak perang pecah.
Menlu Iran Abbas Araghchi tegas menolak tuntutan "penyerahan tanpa syarat" dari Donald Trump. Iran pilih terus melawan demi martabat dan keamanan rakyatnya.
Iran membantah klaim penutupan Selat Hormuz dan menuduh AS melanggar hukum internasional usai penenggelaman fregat Dena di Samudra Hindia yang tewaskan 100 pelaut.
Amerika Serikat dan Iran kembali berunding di Jenewa dengan mediasi Oman di tengah pengerahan militer besar-besaran AS. Presiden Donald Trump membuka peluang diplomasi.
Menlu Iran Abbas Araghchi sebut peluang kesepakatan nuklir dengan AS terbuka di Jenewa, meski Donald Trump ancam serangan militer. Simak poin kesepakatannya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved