Headline
Membicarakan seputar Ramadan sampai dinamika geopolitik.
Kumpulan Berita DPR RI
MISI Tetap Iran untuk PBB secara tegas membantah klaim yang menyebut Teheran telah menutup Selat Hormuz. Dalam pernyataan resminya, Iran menyebut laporan tersebut sebagai informasi yang tidak berdasar dan menuduh Amerika Serikat (AS) telah membahayakan keamanan pelayaran di kawasan strategis tersebut.
"Klaim bahwa Iran menutup Selat Hormuz tidak berdasar dan tidak masuk akal," tulis pernyataan resmi Misi Iran melalui platform media sosial X pada Jumat (6/3).
Pihak Teheran menegaskan kembali bahwa mereka tetap berkomitmen pada hukum internasional dan prinsip kebebasan navigasi.
Bantahan ini muncul di tengah ketegangan hebat setelah insiden penenggelaman fregat Dena milik Angkatan Laut Iran. Menurut pernyataan tersebut, kapal perang yang membawa 130 pelaut itu dihantam dan ditenggelamkan oleh kapal selam AS tanpa peringatan di perairan internasional.
Insiden tersebut terjadi hampir 2.000 mil dari pantai Iran. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan pada Kamis bahwa serangan itu berlangsung di lepas pantai Sri Lanka saat kapal dalam perjalanan pulang usai berpartisipasi dalam latihan angkatan laut di India bulan lalu.
Serangan sembrono ini dilaporkan menewaskan lebih dari 100 pelaut Iran. Sebanyak 32 pelaut lainnya mengalami luka-luka, sementara banyak personel lainnya masih dinyatakan hilang di Samudra Hindia.
Serangan terhadap kapal perang Dena merupakan bagian dari eskalasi militer yang dimulai sejak Sabtu pekan lalu, di mana Israel dan AS melancarkan operasi militer ke wilayah Iran.
Serangan militer gabungan di daratan Iran dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 926 orang. Korban tewas termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta sejumlah pejabat tinggi militer lainnya. Kehilangan kepemimpinan puncak ini memicu ketidakpastian keamanan di seluruh kawasan Timur Tengah.
Sebagai bentuk balasan, Iran telah meluncurkan gelombang serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel. Selain itu, Teheran juga menyasar negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan atau aset militer Amerika Serikat.
Meski terlibat dalam baku tembak terbuka, Misi Iran di PBB menekankan bahwa narasi penutupan Selat Hormuz adalah bentuk provokasi informasi. Iran mengklaim pihak AS-lah yang justru melanggar kebebasan navigasi dengan menyerang kapal mereka di jalur internasional.
Situasi di Samudra Hindia dan Teluk Persia kini dalam pengawasan ketat komunitas internasional, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi pasokan energi dunia yang mengangkut hampir sepertiga dari total minyak mentah global setiap harinya. (Ant/Z-10)
Amerika Serikat dilaporkan kehilangan peralatan militer senilai hampir US$2 miliar atau sekitar Rp33 triliun selama operasi militer terhadap Iran sejak Sabtu (28/2).
Di tengah meningkatnya ketegangan konflik Timur Tengah, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan sebanyak 15 warga negara Indonesia (WNI) di Teheran, Iran, menyatakan kesiapan untuk dievakuasi menyusul memanasnya konflik Timur Tengah.
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh dilaporkan menjadi sasaran serangan drone pada Selasa (3/3). Insiden tersebut diumumkan Kementerian Pertahanan Arab Saudi.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa operasi militer negaranya akan terus berlangsung dengan kekuatan penuh.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved