Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Menlu Oman Albusaidi Temui JD Vance di Washington Cegah Perang AS-Iran

Media Indonesia
27/2/2026 17:07
Menlu Oman Albusaidi Temui JD Vance di Washington Cegah Perang AS-Iran
Perundingan AS-Iran.(Al Jazeera)

KETEGANGAN geopolitik di Timur Tengah memasuki babak baru yang sangat menentukan. Menteri Luar Negeri (Menlu) Oman, Badr Albusaidi, dijadwalkan melakukan pertemuan tingkat tinggi dengan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), JD Vance, di Washington pada Jumat (27/2/2026). Pertemuan ini membawa misi tunggal yang krusial: mencegah pecahnya perang terbuka antara Amerika Serikat dan Iran.

Berdasarkan laporan saluran TV MS Now, Oman kembali mengaktifkan peran tradisionalnya sebagai mediator utama atau jembatan komunikasi antara Teheran dan Washington. Kehadiran Albusaidi di Gedung Putih dipandang sebagai upaya diplomasi terakhir untuk meredam eskalasi militer yang kian memanas setelah serangkaian ancaman terbuka dari kedua belah pihak.

Babak Baru Negosiasi Nuklir di Wina 2 Maret

Di tengah ketegangan militer, sinyal diplomasi teknis mulai muncul dari pihak Teheran. Menlu Iran, Abbas Araghchi, mengonfirmasi bahwa Iran dan AS berpeluang mengadakan putaran negosiasi baru dalam waktu dekat. Delegasi dari kedua negara dijadwalkan memulai konsultasi teknis di markas Badan Energi Atom Internasional (IAEA) di Wina pada 2 Maret 2026.

Hingga saat ini, kedua negara merampungkan tiga putaran perundingan intensif terkait isu nuklir. Berikut profil delegasi utama yang terlibat:

Pihak Ketua Delegasi Status Perundingan
Iran Abbas Araghchi (Menlu) Menyusun Proposal
Amerika Serikat Steve Witkoff (Utusan Khusus) Menyusun Proposal

Bayang-bayang Operasi Midnight Hammer dan Ancaman Trump

Diplomasi ini berjalan di bawah tekanan militer yang sangat nyata. Bulan lalu, Presiden AS Donald Trump secara terbuka memperingatkan bahwa armada besar militer AS tengah bergerak menuju perairan dekat Iran. Trump secara tegas menyatakan harapannya agar Teheran segera menyetujui kesepakatan yang adil dan setara.

Ancaman ini bukan sekadar retorika. Publik masih mengingat jelas peristiwa pada Juni 2025, saat militer Amerika Serikat melancarkan Operasi Midnight Hammer. Operasi tersebut merupakan serangan udara presisi yang menghantam fasilitas nuklir Iran sebagai respons atas kegagalan perundingan sebelumnya.

Presiden Trump memperingatkan bahwa jika jalur diplomasi yang diupayakan Oman dan delegasi di Wina gagal, serangan berikutnya akan jauh lebih destruktif. "Serangan berikutnya akan jauh lebih buruk," tegas Trump. Ia menyerukan agar pihak Iran tidak membiarkan eskalasi tersebut terjadi.

Urgensi Pertemuan Albusaidi dan JD Vance

Pertemuan antara Menlu Albusaidi dan Wapres JD Vance hari ini diharapkan mampu menghasilkan terobosan atau setidaknya pendinginan suasana sebelum perundingan teknis di Wina dimulai. Sebagai mediator yang memiliki akses langsung ke Pemimpin Tertinggi Iran dan Presiden AS, posisi Oman menjadi kunci untuk menghindari konfrontasi berskala besar.

Dunia kini menanti hasil dari Washington. Apakah keterlibatan aktif Wakil Presiden JD Vance menandakan pergeseran strategi AS menuju solusi politik ataukah armada besar yang disebut Trump akan tetap menjadi instrumen utama dalam penyelesaian krisis nuklir ini. (Ant/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya