Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

AS Keluarkan Peringatan Darurat bagi Warganya di Iran, Ada Apa?

Ferdian Ananda Majni
06/2/2026 22:33
AS Keluarkan Peringatan Darurat bagi Warganya di Iran, Ada Apa?
Menlu Iran Abbas Araghchi dan Utusan AS Steve Witkoff.(Al Jazeera)

PEMERINTAH Amerika Serikat (AS) menerbitkan peringatan darurat bagi seluruh warga negaranya yang masih berada di Iran, menjelang dimulai putaran krusial perundingan dengan Teheran di Oman pada Jumat (5/2). 

Langkah ini diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa ketegangan antara kedua negara dapat berkembang menjadi konflik yang lebih luas.

Melalui Virtual Embassy di Iran, pemerintah AS pada Jumat pagi mendesak seluruh warga negara Amerika Serikat untuk segera meninggalkan Iran dan menyiapkan rencana keberangkatan secara mandiri tanpa bergantung pada bantuan pemerintah AS. 

Peringatan tersebut disampaikan menjelang pembicaraan bilateral AS-Iran yang dijadwalkan berlangsung di Muscat, ibu kota Oman.

Dilansir CNBC, Jumat (6/2), peringatan keamanan itu muncul ketika proses negosiasi antara Washington dan Teheran masih menunjukkan minim kemajuan, khususnya dalam menyepakati agenda utama perundingan.

Dalam pertemuan tersebut, Utusan Khusus AS Steve Witkoff bersama Jared Kushner, menantu Presiden Donald Trump, dijadwalkan bertemu dengan delegasi Iran yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.

Hingga kini, kedua pihak belum mencapai kesepakatan mengenai fokus pembahasan. Amerika Serikat menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium serta membatasi program rudal balistiknya. Namun, Teheran secara tegas menolak tuntutan tersebut karena dinilai melanggar kedaulatan nasional.

Ancaman penggunaan kekuatan militer oleh Presiden Trump apabila Iran tidak memenuhi tuntutan tersebut terus membayangi proses diplomatik dan memperbesar kekhawatiran akan eskalasi konflik.

Peringatan bagi warga AS ini juga mencerminkan meningkatnya ketidakpastian situasi keamanan dan politik di Iran. 

Dalam pesannya, pemerintah AS menyoroti risiko pembatasan akses internet, potensi pembatalan atau gangguan penerbangan, serta keterbatasan jaringan komunikasi seluler sebagai alasan tambahan bagi warga Amerika untuk segera meninggalkan negara tersebut.

Di sisi lain, AS dan Iran telah hampir delapan bulan tidak menggelar pertemuan diplomatik langsung sejak krisis besar pada Juni lalu. 

Saat itu, konflik bersenjata selama 12 hari antara Israel dan Iran berujung pada serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir utama Iran yang semakin memperburuk hubungan kedua negara dan stabilitas kawasan.

Sejumlah isu lain turut menjadi sumber ketegangan, termasuk tuntutan AS agar Iran menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya, membatasi dukungan terhadap kelompok militan di Timur Tengah, serta menghentikan pendanaan terhadap aktor non-negara.

Iran menolak seluruh tuntutan tersebut dan menilai langkah itu sebagai pelanggaran kedaulatan. Teheran juga mengancam akan membalas setiap serangan militer dengan menyerang target militer AS di kawasan maupun Israel.

Pemerintah AS menegaskan bahwa dalam situasi hubungan yang memburuk, mereka tidak dapat menjamin keselamatan warganya di Iran maupun memberikan bantuan konsuler secara efektif. 

Oleh karena itu, peringatan tersebut menekankan pentingnya rencana keberangkatan yang independen.

Sejumlah pengamat menilai peluang keberhasilan perundingan kali ini relatif kecil, mengingat perbedaan tuntutan yang masih sangat tajam. 

Di saat yang sama, penguatan kehadiran militer AS di kawasan Teluk Arab dalam beberapa pekan terakhir dinilai sebagai bagian dari strategi tekanan untuk mendorong Iran kembali ke meja perundingan. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya