Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
Nama Jared Kushner kembali mencuat di panggung diplomasi internasional setelah pemaparan visi ambisiusnya di Forum Ekonomi Dunia di Davos. Sebagai menantu sekaligus penasihat senior terdekat Donald Trump, Kushner bukan sekadar anggota keluarga kepresidenan, melainkan arsitek kebijakan luar negeri yang mencoba mendisrupsi pola lama perdamaian di Timur Tengah.
Melalui proposal terbarunya mengenai pembangunan kembali Gaza pasca-perang, Kushner menawarkan pendekatan yang sangat berbeda dari diplomasi tradisional: mengedepankan manajemen ekonomi dan keterlibatan sektor swasta global di atas solusi politik konvensional.
Jared Kushner dikenal luas sebagai figur yang berada di persimpangan bisnis, politik, dan diplomasi. Sebagai pengusaha real estat sekaligus penasihat dekat Donald Trump, ia membawa cara pandang yang tidak lazim dalam isu perdamaian Timur Tengah. Alih-alih memulai dari negosiasi kedaulatan dan batas wilayah, Kushner menempatkan pembangunan ekonomi sebagai titik awal. Pendekatan inilah yang kemudian melahirkan gagasan “New Gaza”, sebuah visi rekonstruksi berskala besar yang salah satu simbol utamanya adalah rencana pembangunan 180 gedung tinggi di kawasan pesisir Gaza.
Berbeda dengan diplomat karier, Kushner datang dari dunia properti dan investasi. Dalam berbagai kesempatan, ia berulang kali menyampaikan keyakinannya bahwa konflik berkepanjangan tidak akan selesai tanpa perubahan kondisi material yang nyata. Menurut logika ini, kemiskinan, keterisolasian, dan minimnya infrastruktur dipandang sebagai faktor yang memperpanjang instabilitas.
Dari sudut pandang tersebut, pembangunan fisik bukan sekadar hasil dari perdamaian, melainkan alat untuk menciptakan perdamaian itu sendiri. Gaza, dalam kerangka berpikir Kushner, tidak dilihat terutama sebagai wilayah konflik, melainkan sebagai aset geografis pesisir Mediterania yang belum dimanfaatkan secara ekonomi.
Salah satu elemen paling menonjol dalam visi Kushner adalah konsep pembangunan sekitar 180 gedung tinggi di sepanjang pantai Gaza. Gedung-gedung ini digambarkan sebagai bangunan multifungsi yang menggabungkan hunian, hotel, ruang usaha, dan fasilitas komersial.
Dalam narasi Kushner, deretan menara tersebut berfungsi sebagai tulang punggung ekonomi baru. Pariwisata internasional, jasa, teknologi, dan investasi swasta diposisikan sebagai mesin pertumbuhan utama. Gaza dibayangkan bertransformasi dari wilayah yang terisolasi menjadi kota pesisir modern dengan konektivitas global.
Penting dicatat, angka 180 gedung tinggi ini berasal dari materi konsep dan visualisasi perencanaan. Ia mencerminkan skala ambisi, bukan rencana konstruksi yang telah disetujui secara hukum atau politik.
Visi ini tidak berdiri pada gedung tinggi semata. Dalam kerangka “New Gaza”, pembangunan vertikal tersebut disertai dengan infrastruktur pendukung berskala besar, seperti pelabuhan laut, bandara, jaringan transportasi barang, pembangkit listrik, serta fasilitas air bersih dan desalinasi.
Tujuannya adalah menciptakan ekosistem ekonomi yang relatif mandiri. Gaza diproyeksikan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada jalur logistik eksternal, melainkan memiliki kapasitas produksi, distribusi, dan perdagangan sendiri. Pendekatan ini mencerminkan filosofi bisnis klasik: properti dan infrastruktur besar hanya bernilai jika didukung oleh sistem logistik dan utilitas yang stabil.
Keberhasilan rencana ini tetap bergantung pada stabilitas keamanan permanen di lapangan, yang merupakan variabel paling tidak menentu dalam doktrin tersebut.
Untuk menggerakkan visi tersebut, Kushner mengaitkannya dengan gagasan pembentukan Board for Peace, sebuah badan yang dirancang mengelola rekonstruksi dan investasi secara terpusat. Dalam model ini, pengambilan keputusan ekonomi ditempatkan di atas mekanisme politik lokal yang selama ini dianggap lambat dan terfragmentasi.
Pendekatan ini menandai pergeseran penting. Rekonstruksi tidak diposisikan sebagai proyek bantuan kemanusiaan, melainkan sebagai proyek pembangunan korporatif dengan standar efisiensi, audit, dan imbal hasil investasi.
Bagi pendukungnya, model ini menawarkan kecepatan dan disiplin. Bagi pengkritiknya, ia menimbulkan pertanyaan serius tentang legitimasi, representasi politik, dan hak masyarakat lokal.
Sejak awal, visi “New Gaza” memicu perdebatan tajam. Kritik utama tidak selalu tertuju pada skala bangunan, melainkan pada asumsi dasarnya. Banyak pengamat menilai bahwa pembangunan ekonomi tidak bisa dilepaskan dari isu kedaulatan, keamanan, dan hak politik warga Palestina.
Ada pula kekhawatiran bahwa transformasi pesisir menjadi kawasan bernilai tinggi dapat mendorong marginalisasi penduduk lokal. Tanpa jaminan hak kepemilikan dan partisipasi, pembangunan vertikal berisiko menjadi simbol ketimpangan baru.
Dengan kata lain, pertanyaan kuncinya bukan apakah 180 gedung tinggi bisa dibangun, melainkan untuk siapa dan dalam kerangka kekuasaan seperti apa.
| Elemen Visi | Status Fakta (Januari 2026) | Risiko Strategis |
|---|---|---|
| 180 Gedung Tinggi | Cetak biru konseptual / Masterplan. | Risiko gentrifikasi dan pengusiran penduduk asli. |
| Investasi US$25-50M | Estimasi kebutuhan modal awal. | Ketergantungan pada kemauan politik negara-negara Teluk. |
| Board for Peace | Usulan mekanisme tata kelola. | Masalah legitimasi dan absennya perwakilan Palestina. |
| Pelabuhan/Bandara | Bagian dari rencana integrasi regional. | Kendala keamanan ketat dari negara tetangga. |
Terlepas dari pro dan kontra, visi Jared Kushner tentang Gaza menandai perubahan cara berpikir dalam diskursus konflik Timur Tengah. Ia memindahkan fokus dari meja perundingan ke papan perencanaan kota, dari resolusi politik ke neraca investasi.
Apakah pendekatan ini realistis atau utopis masih menjadi perdebatan terbuka. Namun sebagai gagasan, “New Gaza” dan simbol 180 gedung tingginya telah menempatkan satu pertanyaan besar di tengah diskusi global: bisakah kemakmuran ekonomi skala besar menggantikan politik sebagai fondasi perdamaian, atau justru menciptakan konflik dalam bentuk baru?
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved