Headline
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
MENTERI Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, mengonfirmasi sebuah kapal selam Amerika telah menenggelamkan kapal perang milik Iran di Samudra Hindia. Dalam konferensi pers pada Rabu waktu setempat, Hegseth menyatakan kapal tersebut karam setelah dihantam torpedo pada Selasa dan mengalami "kematian yang sunyi".
Meskipun Hegseth tidak menyebutkan nama kapal secara spesifik, pengumuman ini menyusul laporan pejabat Sri Lanka mengenai upaya penyelamatan kapal perang Iran bernama Iris Dena. Kapal tersebut dilaporkan tenggelam sekitar 40 kilometer dari garis pantai selatan Sri Lanka.
Data yang dihimpun dari pihak berwenang Sri Lanka menunjukkan dampak fatal dari insiden ini. Seorang pejabat pertahanan Sri Lanka mengatakan kepada BBC Sinhala, tim penyelamat menemukan 80 jenazah di kapal tersebut. Dari total sekitar 180 orang yang diyakini berada di atas kapal berdasarkan dokumen perjalanan, hanya 32 orang yang berhasil diselamatkan.
Menteri Luar Negeri Sri Lanka, Vijitha Herath, menyatakan para penyintas dalam kondisi "luka parah" dan telah dilarikan ke rumah sakit di pelabuhan selatan Galle. Juru bicara Angkatan Laut Sri Lanka, Budhika Sampath, menambahkan meskipun lokasi kejadian berada di luar perairan teritorial mereka, wilayah tersebut masuk dalam zona pencarian dan penyelamatan (SAR) internasional Sri Lanka.
Dalam pernyataannya, Hegseth menegaskan kapal selam AS menenggelamkan kapal perang Iran yang "mengira mereka aman di perairan internasional". Ia juga melontarkan klaim berani mengenai operasi militer tersebut.
"Ini adalah penenggelaman kapal musuh pertama oleh torpedo sejak Perang Dunia Kedua," klaim Hegseth.
Meskipun ini merupakan pertama kalinya sejak 1945 kapal selam Amerika melakukan aksi serupa, catatan sejarah menunjukkan Inggris dan Pakistan juga pernah menenggelamkan kapal menggunakan torpedo dalam konflik pasca-1945. Departemen Pertahanan AS juga merilis rekaman video yang memperlihatkan detik-detik kapal tersebut dihantam hingga meledak.
Iris Dena adalah kapal perusak (destroyer) yang diluncurkan pada 2015 dan tergabung dalam Armada Selatan Iran. Kapal ini biasanya bertugas di Selat Hormuz dan Teluk Oman, serta baru saja berpartisipasi dalam International Fleet Review 2026 di India.
Insiden ini terjadi di tengah gelombang serangan udara AS dan Israel ke Iran yang telah memasuki hari kelima. Di saat yang sama, militer Israel melaporkan telah menggempur "markas keamanan" di Teheran. Situasi regional kian memanas dengan adanya serangan balasan yang dilaporkan terjadi di Arab Saudi dan Kuwait, serta jatuhnya rudal Iran yang mengarah ke wilayah Turki.
Sri Lanka sendiri memilih untuk tetap netral dalam konflik ini. Pemerintah Sri Lanka menyerukan agar semua pihak menahan diri dan segera melakukan de-eskalasi demi mencegah peperangan yang lebih luas di kawasan tersebut. (BBC/Z-2)
Presiden Trump menegaskan dirinya memegang kendali atas Venezuela pasca-penangkapan Maduro. Pentagon ungkap detail keterlibatan 200 personel elit dalam penggerebekan di Caracas.
Anggota parlemen AS menekan pemerintahan Trump agar merilis video serangan “double-tap” 2 September dengan membatasi anggaran perjalanan Menhan Pete Hegseth.
Sejumlah anggota Kongres AS menegaskan Menhan Pete Hegseth tidak memberi perintah “kill them all” dalam serangan kedua di Karibia.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan tidak melihat korban selamat sebelum serangan lanjutan terhadap kapal yang diduga digunakan untuk narkoba di Karibia.
Gedung Putih mengonfirmasi komandan Angkatan Laut AS memerintahkan serangan kedua terhadap kapal narkoba Venezuela.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved