Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Menhan AS Hegseth Bantah Melihat Korban Selamat sebelum Serangan Kedua Kapal di Karibia

Thalatie K Yani
03/12/2025 07:07
Menhan AS Hegseth Bantah Melihat Korban Selamat sebelum Serangan Kedua Kapal di Karibia
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan tidak melihat korban selamat sebelum serangan lanjutan terhadap kapal yang diduga digunakan untuk narkoba di Karibia. (BBC)

MENTERI Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menyatakan “tidak secara pribadi melihat korban selamat”, sebelum serangan lanjutan yang menewaskan dua orang di sebuah kapal yang diduga terlibat dalam perdagangan narkoba di wilayah Karibia. Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya kekhawatiran serangan pada 2 September tersebut dapat melanggar hukum konflik bersenjata.

Menurut laporan awal, serangan pertama meninggalkan dua orang yang masih hidup dan terlihat bertahan di atas kapal yang terbakar, sebelum serangan kedua diduga diperintahkan dan menyebabkan kematian keduanya. Gedung Putih menyatakan keputusan mengeksekusi serangan lanjutan diambil Laksamana Angkatan Laut AS, Frank Bradley.

The Washington Post pertama kali melaporkan rincian mengenai serangan kedua tersebut. Laporan itu memicu reaksi dari anggota Kongres baik dari Partai Demokrat maupun Republik.

Dalam sesi tanya jawab dengan wartawan saat rapat Kabinet di Gedung Putih, Hegseth mengataka menyaksikan serangan pertama “secara langsung”. Namun ia segera beralih ke pertemuan lain.

“Saya tidak secara pribadi melihat korban selamat,” ujar Hegseth. “Kapal itu terbakar dan meledak… Anda tidak bisa melihat apa pun. Ini disebut kabut perang.”

Ia menambahkan ia baru mengetahui keputusan Laksamana Bradley “yang benar” untuk menenggelamkan kapal tersebut “beberapa jam kemudian.” “Kami mendukungnya,” kata Hegseth mengenai Bradley.

Presiden Donald Trump turut membela Bradley, meski menyatakan dirinya tidak mengetahui perintah serangan kedua. “Dan saya bisa katakan ini: saya ingin kapal-kapal itu disingkirkan,” ujar Trump.

Serangan di Karibia

Sejak awal September, lebih dari 80 orang tewas dalam gelombang serangan serupa di wilayah Karibia dan Pasifik Timur. Pemerintahan Trump berulang kali membela operasi tersebut sebagai tindakan pertahanan diri untuk melindungi warga Amerika dari perdagangan narkoba. Pada Selasa, Trump mengklaim serangan-serangan ini telah mengurangi jalur penyelundupan narkoba melalui laut, tanpa memberikan bukti.

Anggota parlemen AS dari dua kubu menyatakan kekhawatiran atas insiden 2 September, dengan Komite Angkatan Bersenjata Senat berjanji melakukan “pengawasan ketat” untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Bradley, yang saat itu menjabat sebagai komandan Joint Special Operations Command, dijadwalkan hadir di Capitol Hill pekan ini. Ia kini menjabat sebagai komandan Special Operations Command setelah dipromosikan sebulan setelah insiden.

Konvensi Jenewa melarang penargetan kombatan yang terluka dan mewajibkan mereka dirawat. Beberapa pakar yang diwawancarai BBC meragukan legalitas serangan lanjutan tersebut. Setelah kejadian 2 September, AS memperluas kehadiran militer di kawasan, dan Trump kembali menyatakan rencana untuk “memulai serangan di darat.” (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik