Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Ribuan Massa Kepung Gedung Putih Tolak Perang Lawan Iran

Thalatie K Yani
02/3/2026 12:49
Ribuan Massa Kepung Gedung Putih Tolak Perang Lawan Iran
Gelombang protes pecah di penjuru Amerika Serikat usai tewasnya Ali Khamenei. Demonstran sebut kebijakan Trump sebagai bentuk tirani dan menyeret AS ke perang tanpa akhir.(AFP)

GELOMBANG aksi unjuk rasa besar-besaran meletus di berbagai kota di Amerika Serikat, mulai dari Times Square hingga di depan Gedung Putih. Massa menyuarakan penolakan keras terhadap keterlibatan militer AS di Timur Tengah setelah kabar tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan udara gabungan AS dan Israel di Teheran.

Sentimen anti-perang ini dipicu langkah Presiden Donald Trump yang dianggap melangkahi wewenang Kongres. Para demonstran menilai tindakan tersebut sebagai ancaman serius bagi demokrasi dan stabilitas global.

Tudingan Tirani dan Pelanggaran Konstitusi

Di New York, ratusan demonstran berkumpul di bawah koordinasi koalisi kelompok sayap kiri. Sue Johnson, salah satu peserta aksi, menyatakan keprihatinannya atas arah kebijakan pemerintah saat ini.

"Ini tidak disetujui oleh Kongres, jadi apa yang dilakukan Trump adalah atas kemauannya sendiri; itu menjadikannya seorang fasis dan menjadikan negara ini sebagai negara fasis," ujar Sue.

Ia menambahkan kekecewaannya terhadap urgensi serangan tersebut. "Tidak ada presiden yang boleh menyerang, menculik, atau membom negara lain tanpa izin dari Kongres. Namun, apa yang dipikirkan Kongres menjadi tidak relevan karena presiden ini melakukan apa pun yang dia inginkan terhadap negara mana pun."

Senada dengan Sue, organisasi hak sipil ternama, ACLU, bersama sejumlah politisi Partai Demokrat mendesak Kongres untuk segera bertindak menghentikan penggunaan kekuatan militer yang dianggap tidak konstitusional.

Perang Demi Kepentingan Bisnis?

Kritik juga datang dari warga Brooklyn, Willie Cotton, 48. Meskipun ia menentang kepemilikan senjata nuklir oleh Iran dan mendukung hak Israel untuk membela diri, ia tidak percaya bahwa intervensi militer AS bertujuan untuk membantu rakyat di kawasan tersebut.

"Sejarah AS menunjukkan bahwa mereka masuk ke konflik-konflik ini demi keuntungan mereka sendiri, bukan demi kepentingan rakyat di sana. Saya rasa dia (Trump) tidak menyimpang dari jalur perlindungan kepentingan bisnis AS, termasuk kepentingannya sendiri," kata Cotton skeptis.

Aspirasi di Tengah Krisis Biaya Hidup

Bagi banyak demonstran, perang ini dianggap sebagai pengalihan isu dari masalah domestik yang lebih mendesak. Christina Perez (44), seorang pekerja kesehatan, merasa lelah dengan rentetan kebijakan pemerintah yang mengejutkan setiap pagi.

"Rakyat Amerika memiliki keluhan yang sah, tetapi tidak pernah ada uang untuk menyelesaikan masalah itu, sementara selalu ada uang untuk perang," keluhnya.

Situasi Keamanan Nasional Meningkat

Sementara demonstrasi terus meluas dari kota besar hingga kota-kota kecil seperti Albany dan Springfield, FBI telah menempatkan tim kontra-terorisme dan kontra-intelijen dalam status siaga tinggi di seluruh negeri. Menteri Keamanan Dalam Negeri, Kristi Noem, menyatakan bahwa pihaknya berkoordinasi langsung dengan aparat penegak hukum federal untuk memantau dan menggagalkan setiap potensi ancaman terhadap keamanan dalam negeri.

Hingga Minggu waktu setempat, aksi unjuk rasa dilaporkan masih terus berlanjut, menjadi pengingat keras bagi pemerintahan Trump bahwa sebagian besar publik menolak "perang tanpa akhir" lainnya di Timur Tengah. (The Guardian/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya