Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
GELOMBANG aksi unjuk rasa besar-besaran meletus di berbagai kota di Amerika Serikat, mulai dari Times Square hingga di depan Gedung Putih. Massa menyuarakan penolakan keras terhadap keterlibatan militer AS di Timur Tengah setelah kabar tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan udara gabungan AS dan Israel di Teheran.
Sentimen anti-perang ini dipicu langkah Presiden Donald Trump yang dianggap melangkahi wewenang Kongres. Para demonstran menilai tindakan tersebut sebagai ancaman serius bagi demokrasi dan stabilitas global.
Di New York, ratusan demonstran berkumpul di bawah koordinasi koalisi kelompok sayap kiri. Sue Johnson, salah satu peserta aksi, menyatakan keprihatinannya atas arah kebijakan pemerintah saat ini.
"Ini tidak disetujui oleh Kongres, jadi apa yang dilakukan Trump adalah atas kemauannya sendiri; itu menjadikannya seorang fasis dan menjadikan negara ini sebagai negara fasis," ujar Sue.
Ia menambahkan kekecewaannya terhadap urgensi serangan tersebut. "Tidak ada presiden yang boleh menyerang, menculik, atau membom negara lain tanpa izin dari Kongres. Namun, apa yang dipikirkan Kongres menjadi tidak relevan karena presiden ini melakukan apa pun yang dia inginkan terhadap negara mana pun."
Senada dengan Sue, organisasi hak sipil ternama, ACLU, bersama sejumlah politisi Partai Demokrat mendesak Kongres untuk segera bertindak menghentikan penggunaan kekuatan militer yang dianggap tidak konstitusional.
Kritik juga datang dari warga Brooklyn, Willie Cotton, 48. Meskipun ia menentang kepemilikan senjata nuklir oleh Iran dan mendukung hak Israel untuk membela diri, ia tidak percaya bahwa intervensi militer AS bertujuan untuk membantu rakyat di kawasan tersebut.
"Sejarah AS menunjukkan bahwa mereka masuk ke konflik-konflik ini demi keuntungan mereka sendiri, bukan demi kepentingan rakyat di sana. Saya rasa dia (Trump) tidak menyimpang dari jalur perlindungan kepentingan bisnis AS, termasuk kepentingannya sendiri," kata Cotton skeptis.
Aspirasi di Tengah Krisis Biaya Hidup
Bagi banyak demonstran, perang ini dianggap sebagai pengalihan isu dari masalah domestik yang lebih mendesak. Christina Perez (44), seorang pekerja kesehatan, merasa lelah dengan rentetan kebijakan pemerintah yang mengejutkan setiap pagi.
"Rakyat Amerika memiliki keluhan yang sah, tetapi tidak pernah ada uang untuk menyelesaikan masalah itu, sementara selalu ada uang untuk perang," keluhnya.
Sementara demonstrasi terus meluas dari kota besar hingga kota-kota kecil seperti Albany dan Springfield, FBI telah menempatkan tim kontra-terorisme dan kontra-intelijen dalam status siaga tinggi di seluruh negeri. Menteri Keamanan Dalam Negeri, Kristi Noem, menyatakan bahwa pihaknya berkoordinasi langsung dengan aparat penegak hukum federal untuk memantau dan menggagalkan setiap potensi ancaman terhadap keamanan dalam negeri.
Hingga Minggu waktu setempat, aksi unjuk rasa dilaporkan masih terus berlanjut, menjadi pengingat keras bagi pemerintahan Trump bahwa sebagian besar publik menolak "perang tanpa akhir" lainnya di Timur Tengah. (The Guardian/Z-2)
Mantan Duta Besar RI untuk Iran, Dian Wirengjurit, menilai serangan militer AS ke Iran merupakan upaya Presiden AS Donald Trump untuk mengalihkan perhatian dari skandal Epstein Files.
Wakil presiden tidak memberikan penjelasan lebih lanjut, dengan mengatakan bahwa ia tidak ingin mendahului Presiden Donald Trump
Militer AS mengerahkan bom raksasa 5.000 pon untuk hancurkan situs bawah tanah Iran.
Iran menanggapi serangan brutal itu dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menuduh Iran menembakkan rudal dari sekolah dan rumah sakit. Ia menegaskan AS tidak akan terjebak dalam perang tanpa akhir.
Perang tersebut terlalu menguras anggaran negara. Padahal, menurut dia, situasi internal di Amerika Serikat tidak baik-baik saja dan membutuhkan sokongan.
FBI selidiki Joe Kent terkait dugaan kebocoran informasi rahasia. Kent sebut pembunuhan Ali Khamenei oleh AS-Israel adalah kesalahan fatal.
Eks Kepala Kontraterorisme AS Joe Kent mengungkap fakta mengejutkan pasca-mundur. Ia menyebut tak ada intelijen soal serangan Iran dan adanya pembungkaman suara kritis.
Penasihat militer Iran prediksi perang lawan AS berakhir sebelum 21 Maret. Apa itu Nowruz dan mengapa menjadi simbol perdamaian bagi Iran? Simak detailnya di sini.
Mojtaba kemungkinan terluka dalam serangan udara di Teheran pada hari pertama perang. Serangan tersebut membuat ayahnya Ali Khamenei gugur.
Konflik di Libanon memanas setelah Hizbullah menyerang Israel sebagai respons atas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Update 2026: Donald Trump tidak menutup pintu perundingan dengan Iran. Simak pandangannya soal Mojtaba Khamenei dan respons keras Vladimir Putin.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved