Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Respons Keras Korea Utara atas Serangan AS-Israel ke Iran: Kecam 'Aksi Gengster' Washington

Media Indonesia
02/3/2026 11:46
Respons Keras Korea Utara atas Serangan AS-Israel ke Iran: Kecam 'Aksi Gengster' Washington
Tiga warga membentangkan poster saat mengikuti aksi solidaritas untuk Iran di depan Kedutaan Besar Iran, Jakarta, Minggu (1/3/2026).(Antara)

DUNIA internasional dikejutkan oleh eskalasi besar di Timur Tengah pada awal Maret 2026. Serangan udara gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel, yang diberi sandi Operation Epic Fury, dilaporkan telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei. Menanggapi peristiwa tersebut, Korea Utara melalui media pemerintahnya, KCNA, mengeluarkan pernyataan resmi yang sangat keras terhadap Washington dan Tel Aviv.

Mengutuk 'Agresi Ilegal' dan Pelanggaran Kedaulatan

Pemerintah Korea Utara menyatakan bahwa serangan terhadap Iran merupakan bentuk "agresi ilegal" yang melanggar kedaulatan nasional secara keji. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara menegaskan bahwa tindakan militer tersebut tidak dapat diterima dalam keadaan apa pun. Pyongyang secara spesifik menyoroti peran Amerika Serikat yang dinilai menyalahgunakan kekuatan militer demi ambisi hegemonik.

Kutipan Resmi KCNA: "Kampanye militer terhadap Iran oleh kedua negara tersebut merupakan tindakan agresi yang sepenuhnya ilegal dan bentuk pelanggaran kedaulatan yang paling keji. Tindakan ini menunjukkan perilaku tak tahu malu dan seperti gangster."

Narasi 'Gangster' dan Standar Ganda AS

Dalam pernyataannya, Korea Utara kembali menggunakan istilah 'gangster-like nature' (perilaku seperti gangster) untuk mendeskripsikan kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Bagi Pyongyang, keterlibatan AS dalam pembunuhan pemimpin tertinggi negara berdaulat adalah bukti nyata bahwa Washington tidak menghargai hukum internasional, meski di saat yang sama AS sering mengajak Korea Utara kembali ke meja perundingan nuklir.

Aliansi Pyongyang-Teheran: Lebih dari Sekadar Retorika

Hubungan antara Korea Utara dan Iran telah terjalin erat selama puluhan tahun. Kedua negara yang sama-sama berada di bawah sanksi berat Barat ini dikenal saling berbagi teknologi militer. Beberapa poin penting dalam hubungan mereka meliputi:

  • Kerja Sama Rudal: Pertukaran teknologi rudal balistik yang membantu Iran meningkatkan jangkauan proyektilnya.
  • Fasilitas Bawah Tanah: Korea Utara diyakini mengirim tenaga ahli untuk membangun bunker dan fasilitas militer bawah tanah di Iran.
  • Front Anti-Barat: Kesamaan nasib sebagai negara yang diisolasi oleh sistem keuangan global.

Pengamat meyakini bahwa Korea Utara mengamati dengan saksama efektivitas serangan AS terhadap fasilitas bawah tanah Iran untuk mengevaluasi sistem pertahanan mereka sendiri di Semenanjung Korea. Solidaritas yang ditunjukkan Kim Jong Un bukan sekadar dukungan moral, melainkan pesan kepada Washington bahwa tekanan militer hanya akan mempererat aliansi negara-negara yang menentang hegemoni AS. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya