Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
DUNIA internasional dikejutkan oleh eskalasi besar di Timur Tengah pada awal Maret 2026. Serangan udara gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel, yang diberi sandi Operation Epic Fury, dilaporkan telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei. Menanggapi peristiwa tersebut, Korea Utara melalui media pemerintahnya, KCNA, mengeluarkan pernyataan resmi yang sangat keras terhadap Washington dan Tel Aviv.
Pemerintah Korea Utara menyatakan bahwa serangan terhadap Iran merupakan bentuk "agresi ilegal" yang melanggar kedaulatan nasional secara keji. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara menegaskan bahwa tindakan militer tersebut tidak dapat diterima dalam keadaan apa pun. Pyongyang secara spesifik menyoroti peran Amerika Serikat yang dinilai menyalahgunakan kekuatan militer demi ambisi hegemonik.
Dalam pernyataannya, Korea Utara kembali menggunakan istilah 'gangster-like nature' (perilaku seperti gangster) untuk mendeskripsikan kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Bagi Pyongyang, keterlibatan AS dalam pembunuhan pemimpin tertinggi negara berdaulat adalah bukti nyata bahwa Washington tidak menghargai hukum internasional, meski di saat yang sama AS sering mengajak Korea Utara kembali ke meja perundingan nuklir.
Hubungan antara Korea Utara dan Iran telah terjalin erat selama puluhan tahun. Kedua negara yang sama-sama berada di bawah sanksi berat Barat ini dikenal saling berbagi teknologi militer. Beberapa poin penting dalam hubungan mereka meliputi:
Pengamat meyakini bahwa Korea Utara mengamati dengan saksama efektivitas serangan AS terhadap fasilitas bawah tanah Iran untuk mengevaluasi sistem pertahanan mereka sendiri di Semenanjung Korea. Solidaritas yang ditunjukkan Kim Jong Un bukan sekadar dukungan moral, melainkan pesan kepada Washington bahwa tekanan militer hanya akan mempererat aliansi negara-negara yang menentang hegemoni AS. (E-4)
KETEGANGAN antara Amerika Serikat dan Iran mencapai titik puncak setelah upaya diplomasi terakhir di Jenewa berakhir tanpa kesepakatan.
PRESIDEN AS, Donald Trump, menyatakan bahwa operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran diperkirakan akan berlangsung sekitar empat pekan, atau bahkan lebih singkat.
Serangan Militer AS-Israel ke Iran, DPR Dorong Pemerintah Aktifkan Skenario Fiskal Kontinjensi dan Stabilitas Moneter
ESKALASI konflik di Timur Tengah pasca serangan Amerika Serikat ke Iran memicu sentimen risk off di pasar keuangan global.
PT Pertamina (Persero) meningkatkan pengawasan operasional sebagai respons atas dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved