Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Kongres AS Soroti Dugaan Serangan Kedua yang Tewaskan Penyintas Kapal di Karibia

Thalatie K Yani
01/12/2025 12:40
Kongres AS Soroti Dugaan Serangan Kedua yang Tewaskan Penyintas Kapal di Karibia
Serangan lanjutan terhadap kapal diduga pengangkut narkoba di Karibia memicu reaksi keras dari anggota parlemen AS lintas partai. (Media Sosial X)

PARA legislator Amerika Serikat dari Partai Republik dan Demokrat menyuarakan keprihatinan mendalam atas laporan dugaan serangan lanjutan terhadap kapal yang dicurigai terlibat perdagangan narkoba di Karibia. Serangan kedua tersebut dilaporkan menewaskan orang-orang yang selamat dari serangan pertama, dan kini memicu janji pengawasan ketat dari komite pertahanan di Senat dan DPR.

Anggota Komite Angkatan Bersenjata DPR, Rep. Mike Turner, mengatakan serangan susulan itu berada “sepenuhnya di luar apa pun yang pernah dibahas dengan Kongres” terkait operasi pemerintahan Trump terhadap kapal narkoba di Karibia. “Tentu saja, jika hal itu terjadi, itu akan menjadi sangat serius, dan saya setuju bahwa itu akan menjadi tindakan ilegal,” ujarnya dalam program Face the Nation di CBS.

Sumber yang mengetahui operasi tersebut sebelumnya mengatakan kepada CNN bahwa militer melancarkan serangan kedua pada 2 September setelah serangan awal gagal menewaskan seluruh awak kapal. Menurut salah satu sumber, Menteri Pertahanan Pete Hegseth memerintahkan agar operasi memastikan tidak ada yang selamat, meski belum jelas apakah ia diberi tahu bahwa masih ada penyintas sebelum serangan kedua dilakukan.

Senator Singgung Potensi Pelanggaran Hukum Perang

Senator Demokrat Tim Kaine menilai laporan itu “meningkat ke tingkat kejahatan perang jika memang benar,” Senator Mark Kelly, yang juga kritis terhadap tindakan pemerintahan Trump, menyampaikan hal serupa. “sepertinya begitu,” kata Kelly kepada CNN, menambahkan bahwa ia memiliki “serious concerns” jika benar ada pihak dalam rantai komando yang melampaui batas hukum.

Komentar tersebut muncul bersamaan dengan pernyataan bersama Komite Angkatan Bersenjata Senat yang dipimpin Partai Republik dan Demokrat bahwa mereka akan melakukan “vigorous oversight” untuk memastikan fakta di balik peristiwa tersebut. Hal yang sama juga disampaikan pimpinan Komite Angkatan Bersenjata DPR, Mike Rogers dan Adam Smith, yang berkomitmen mengumpulkan laporan lengkap mengenai serangan itu.

Sebelumnya CNN melaporkan sejumlah pihak yang mengetahui operasi “double-tap” tersebut khawatir tindakan itu melanggar hukum konflik bersenjata, yang melarang eksekusi kombatan musuh yang sudah “hors de combat", yakni tidak lagi mampu bertempur karena luka atau menyerah.

Hegseth dan Trump Beri Tanggapan

Sumber menyebutkan bahwa serangan pertama melumpuhkan kapal dan menewaskan sebagian awak, namun militer menilai masih ada yang selamat. Serangan kedua kemudian membunuh seluruh awak yang tersisa, dengan total korban mencapai 11 orang, dan kapal tenggelam sepenuhnya.

Dalam pernyataan di media sosial, Hegseth kembali membela operasi tersebut dan menuliskan,“Operasi kami saat ini di Karibia sah menurut hukum AS dan internasional, dengan semua tindakan mematuhi hukum konflik bersenjata.”

Sementara itu, Presiden Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa Hegseth tidak memerintahkan serangan kedua. "No. 1, saya tidak tahu itu terjadi... Jadi, kami akan menyelidikinya, tetapi tidak, saya tidak menginginkan itu, tidak ada serangan kedua," katanya kepada wartawan di Air Force One. Ketika ditanya apakah ia percaya tidak ada serangan kedua, Trump menjawab, "Saya tidak tahu; saya akan mencari tahu tentang itu. Tetapi Pete mengatakan dia tidak memerintahkan kematian kedua pria itu."

Kasus ini masih memicu perdebatan luas di Washington, sambil menunggu investigasi resmi dari komite pertahanan Senat dan DPR. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya