Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Trump Klaim Operasi Militer AS-Israel Gagalkan 2 Kali Rencana Iran Bunuh Dirinya

Ferdian Ananda Majni
02/3/2026 16:41
Trump Klaim Operasi Militer AS-Israel Gagalkan 2 Kali Rencana Iran Bunuh Dirinya
Donald Trump ungkap Iran dua kali coba bunuh dirinya sebelum Ali Khamenei tewas dalam operasi militer AS-Israel.(Dok. White House)

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeklaim keberhasilan operasi militer gabungan antara AS dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Dalam pernyataan terbarunya, Trump mengungkapkan bahwa tindakan militer tersebut merupakan langkah preventif sebelum rencana pembunuhan terhadap dirinya terealisasi.

Berbicara dalam wawancara eksklusif dengan ABC News, Trump menyebut Teheran telah melakukan upaya serius untuk melenyapkannya. Namun, operasi intelijen dan militer yang dilakukan pada Sabtu (28/2) berhasil membalikkan keadaan.

Upaya Preemptive Trump Terhadap Teheran

"Saya bisa mendapatkannya (terbunuh) sebelum dia mendapatkan (membunuh) saya. Mereka (Iran) sudah mencoba dua kali. Tapi saya bergerak lebih dulu," tegas Trump kepada jurnalis ABC News, Jonathan Karl, Senin (2/3).

Trump menambahkan bahwa serangan udara besar-besaran tersebut tidak hanya menargetkan Ali Khamenei secara personal, tetapi juga menyasar sejumlah figur yang diprediksi akan menjadi kandidat kuat penggantinya. Hal ini, menurut Trump, secara signifikan telah menghancurkan peta suksesi kepemimpinan di Iran.

"Serangan itu sangat berhasil hingga menyingkirkan sebagian besar kandidat. Pemimpin Iran di masa depan bukan orang yang kami perkirakan sebelumnya, karena mereka semua sudah tewas dalam operasi tersebut," lanjutnya.

Ketidakpastian Suksesi Kepemimpinan Iran

Sebelum operasi ini dilancarkan, Trump mengaku telah mengantongi setidaknya tiga nama yang dipersiapkan Teheran untuk meneruskan takhta Khamenei. Meski demikian, ia memilih untuk tetap merahasiakan identitas tokoh-tokoh tersebut dari publik.

Pernyataan ini muncul di tengah spekulasi global mengenai transisi kekuasaan di Iran. Ali Khamenei, yang telah memimpin Iran sejak 1989, dilaporkan tewas dalam serangan militer terkoordinasi yang menghantam pusat komando tertinggi di Teheran.

Isu ancaman pembunuhan terhadap Donald Trump oleh agen Iran sebenarnya telah mencuat sejak beberapa tahun lalu. Pada tahun 2024, Kementerian Kehakiman AS sempat mengungkap dokumen pengadilan terkait plot Farhad Shakeri yang diminta pejabat Iran untuk merancang skema pembunuhan terhadap Trump menjelang Pilpres AS.

Babak Baru Ketegangan AS-Iran

Situasi pasca-tewasnya Khamenei diperkirakan akan memicu eskalasi baru di Timur Tengah. Para pengamat internasional kini menyoroti bagaimana faksi-faksi di dalam Garda Revolusi Iran (IRGC) akan bereaksi terhadap kekosongan kekuasaan yang ditinggalkan oleh pemimpin spiritual mereka.

Hingga berita ini diturunkan, pihak otoritas di Teheran belum memberikan pernyataan resmi mengenai siapa yang akan mengisi posisi Pemimpin Tertinggi sementara, mengingat klaim Trump bahwa para kandidat utama telah ikut menjadi korban dalam operasi militer tersebut.

Ketegangan antara Washington dan Teheran kini memasuki fase paling kritis dalam sejarah diplomasi kedua negara, sekaligus membuka tabir ketidakpastian politik di Republik Islam Iran pasca-era Khamenei. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya