Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Profil Ali Larijani: Sosok di Balik Bantahan Diplomasi antara Iran dengan AS

 Gana Buana
02/3/2026 17:45
Profil Ali Larijani: Sosok di Balik Bantahan Diplomasi antara Iran dengan AS
Profil Ali Larijani, Sekretaris SNSC Iran.(Dok. CNBC News)

NAMA Ali Larijani mendadak menjadi pusat perhatian dunia pada awal Maret 2026. Sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) Iran, ia kini berdiri di garis terdepan dalam menghadapi eskalasi militer dengan Amerika Serikat dan Israel.

Di tengah laporan wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei akibat serangan udara, Larijani muncul sebagai sosok yang secara de facto mengendalikan stabilitas nasional Teheran.

Dikenal sebagai diplomat ulung yang cerdas namun dingin, Larijani kini memegang peran krusial dalam menentukan apakah Timur Tengah akan terjerumus ke dalam perang terbuka atau tetap dalam koridor ketegangan terkendali.

Profil Ali Larijani: Latar Belakang Keluarga Elit

Ali Ardashir Larijani lahir pada 3 Juni 1958 di Najaf, Irak. Ia bukan berasal dari keluarga sembarangan; ayahnya adalah Ayatollah Mirza Hashem Amoli, seorang ulama besar Syiah.

Akar keluarganya yang kuat di dunia religius Qom memberikan Larijani legitimasi yang jarang dimiliki politisi sekuler lainnya di Iran.

Pendidikannya pun mencerminkan kombinasi unik antara sains dan filsafat. Ia memegang gelar sarjana di bidang Ilmu Komputer dan Matematika dari Universitas Teknologi Sharif, namun kemudian mendalami Filsafat Barat hingga meraih gelar PhD dari Universitas Teheran.

Keahliannya dalam filsafat, terutama pemikiran Immanuel Kant, seringkali tercermin dalam gaya diplomasinya yang metodis dan penuh perhitungan.

Karier Politik dan Militer

Sebelum dikenal sebagai wajah diplomasi Iran, Larijani memulai kariernya di Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Pengalaman militer ini memberikannya koneksi mendalam dengan para jenderal tinggi Iran, sebuah aset yang sangat berharga dalam posisinya saat ini.

Beberapa jabatan strategis yang pernah diembannya antara lain:

  • Menteri Kebudayaan dan Bimbingan Islam (1992-1994): Mengatur narasi budaya Iran pasca-perang.
  • Kepala IRIB (1994-2004): Memimpin badan penyiaran negara selama satu dekade.
  • Ketua Parlemen (Majlis) (2008-2020): Menjadi salah satu Ketua Parlemen terlama dalam sejarah Republik Islam.
  • Sekretaris SNSC (2005-2007 & 2025-Sekarang): Bertanggung jawab langsung atas kebijakan keamanan dan program nuklir.

"Pearl for Bonbons": Diplomasi Nuklir dan Hubungan dengan Barat

Larijani dikenal dunia internasional saat menjabat sebagai kepala negosiator nuklir pada era 2000-an. Ia pernah melontarkan kalimat terkenal yang mengkritik tawaran Barat sebagai upaya "menukar mutiara dengan permen" (trading pearls for bonbons).

Meskipun sering dianggap sebagai tokoh konservatif pragmatis, sikap Larijani mengeras secara signifikan pada tahun 2026. Kegagalan diplomasi masa lalu dan kembalinya Donald Trump ke kursi kepresidenan AS dengan kebijakan "Israel First" membuat Larijani menutup rapat pintu dialog. Bagi Larijani, kedaulatan teknologi nuklir Iran adalah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi.

Peran Kunci dalam Krisis Maret 2026

Per Maret 2026, peran Larijani melampaui sekadar penasihat keamanan. Setelah serangan udara besar-besaran yang mengguncang Teheran pada akhir Februari, ia mengumumkan pembentukan mekanisme kepemimpinan transisi. Dalam pernyataannya di platform X, ia menegaskan bahwa Iran tidak akan bernegosiasi di bawah tekanan militer.

Kritik tajamnya terhadap Donald Trump, yang ia sebut telah mengkhianati slogan "America First" demi kepentingan "Israel First", menunjukkan pergeseran total Iran menuju strategi pertahanan aktif. Larijani kini menjadi orang yang mengoordinasikan serangan balasan drone dan rudal ke pangkalan-pangkalan AS di Teluk sebagai respons atas tewasnya pejabat tinggi Teheran.

Fakta Menarik tentang Ali Larijani

1. Apa jabatan Ali Larijani saat ini?
Ali Larijani menjabat sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) Iran sejak Agustus 2025 dan merupakan anggota Dewan Kebijaksanaan.

2. Apakah Ali Larijani akan menggantikan Ayatollah Khamenei?
Meskipun ia memimpin dewan transisi, secara konstitusi Larijani tidak bisa menjadi Pemimpin Tertinggi (Rahbar) karena ia bukan seorang Ayatollah atau ulama tingkat tinggi.

3. Mengapa Ali Larijani menolak negosiasi dengan AS di tahun 2026?
Larijani menilai diplomasi tidak mungkin dilakukan saat AS melakukan serangan militer langsung ke wilayah Iran dan menganggap pemerintahan AS saat ini lebih memprioritaskan kepentingan Israel.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya