Headline

Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.

Militer Israel Siksa Balita Satu Tahun Selama 10 Jam demi Paksa Pengakuan sang Ayah

Haufan Hasyim Salengke
25/3/2026 12:44
Militer Israel Siksa Balita Satu Tahun Selama 10 Jam demi Paksa Pengakuan sang Ayah
Karim Abu Nassar, balita Palestina berusia satu tahun, disiksa oleh pasukan Israel untuk menekan ayahnya.(Royanews)

KEKEJAMAN militer Israel di Jalur Gaza kembali terungkap. Seorang balita Palestina yang baru menginjak usia satu tahun, Karim Abu Nassar, dilaporkan menjadi korban penyiksaan fisik selama 10 jam oleh pasukan Israel. Tindakan ini secara sengaja dilakukan sebagai alat koersi untuk mendapatkan pengakuan dari ayahnya, Osama Abu Nassar.

Peristiwa mengerikan ini terjadi di dekat kamp pengungsi Al-Maghazi, Gaza Tengah. Berdasarkan kesaksian yang dihimpun, militer Israel mencegat perjalanan Karim dan ayahnya dengan rentetan tembakan. Sementara Osama digelandang ke pos pemeriksaan untuk diinterogasi, balita malang tersebut dibiarkan di bawah penguasaan tentara di lapangan.

Selama penahanan 10 jam, saksi mata melaporkan perlakuan yang sangat tidak manusiawi terhadap Karim. Balita tersebut menderita luka bakar akibat sundutan rokok di sekujur tubuhnya. Ironisnya, tangisan pilu sang bayi akibat rasa sakit dari kuku dan benda tajam sengaja digunakan tentara untuk menekan psikologis ayahnya agar menyerah dalam interogasi.

Karim akhirnya dikembalikan kepada keluarganya melalui mediasi Komite Internasional Palang Merah (ICRC) dalam kondisi trauma hebat dan penuh luka fisik. Sementara itu, nasib sang ayah hingga kini masih belum diketahui dalam tahanan militer Israel.

Pelanggaran Berat Hukum Internasional

Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) mengecam keras tindakan tersebut dan melabelinya sebagai perbuatan yang "menjijikkan". CAIR mendesak Kongres AS dan badan dunia untuk melakukan investigasi menyeluruh terhadap perilaku militer Israel yang terus melanggar konvensi internasional.

Organisasi hak asasi manusia menegaskan bahwa menjadikan anak-anak sebagai sandera atau alat tekanan dalam taktik militer adalah pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan merupakan kejahatan perang yang nyata. Dunia internasional dituntut untuk tidak lagi menutup mata atas penggunaan balita sebagai instrumen penyiksaan di medan konflik. (Anadolu/Roya News/B-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya