Headline

Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.

Konflik Israel-Iran Akibatkan Warga di Tepi Barat Barat Jadi Korban

Khoerun Nadif Rahmat
23/3/2026 13:43
Konflik Israel-Iran Akibatkan Warga di Tepi Barat Barat Jadi Korban
Ilustrasi.(AFP)

TRAGEDI berdarah menghantam sebuah salon kecantikan di Beit Awa, wilayah pendudukan Tepi Barat, Palestina pada Rabu (18/3) waktu setempat. Empat perempuan Palestina tewas setelah sebuah proyektil meledak tepat di depan pintu akibat saling serang antara Israel dan Iran.

Puing-puing kuku akrilik dan botol cat kuku berwarna merah serta biru pirus berserakan di lantai yang kini bernoda darah kering. Serpihan logam menembus dinding bangunan prefabrikasi tersebut, menyisakan lubang-lubang kecil dan kawah di titik ledakan.

Hadeel Masalmeh, salah satu pemilik salon, kembali ke lokasi dengan perban menutupi luka-luka di wajah dan tubuhnya.

"Saya seharusnya tidak meninggalkan rumah sakit, tetapi saya ingin mengucapkan selamat tinggal kepada Sahera," ujarnya dikutip dari Wral News.

Selain Sahera, serangan itu merenggut nyawa Maes, Aseel, dan Amal yang sedang hamil enam bulan. Putri Amal yang berusia tiga tahun termasuk di antara belasan korban luka yang dilarikan ke rumah sakit. 

Bulan Sabit Merah Palestina melaporkan bahwa beberapa korban harus menjalani operasi darurat hingga amputasi.

Insiden itu mempertegas ketimpangan perlindungan bagi warga sipil. Di saat warga Israel memiliki akses ke ruang perlindungan bawah tanah (bunker) yang diwajibkan sejak Perang Teluk pertama, warga Palestina di Tepi Barat tidak memiliki fasilitas serupa.

Mereka terbiasa menjalani aktivitas seperti biasa meski sirene meraung atau dentuman intersepsi bergema di langit.

"Kami mendengar suara sirene, tetapi kami tidak terlalu memperhatikan dan tidak menduga akan ada serpihan atau apa pun yang jatuh menimpa kami," kenang Hadeel.

Proses evakuasi pun terhambat oleh hambatan fisik di lapangan. Perjalanan ambulans yang seharusnya hanya memakan waktu 10 menit membengkak menjadi 25 menit karena gerbang militer Israel yang tertutup di dekat permukiman Negohot.

Bulan Sabit Merah Palestina menyatakan bahwa penutupan jalan ini memaksa ambulans mengambil rute alternatif yang terjal, sehingga kehilangan "Golden Hour" yang sangat krusial untuk menyelamatkan nyawa.

Hingga kini, asal-usul proyektil tersebut masih menjadi perdebatan. Militer Israel mengeklaimnya sebagai hantaman langsung rudal Iran yang membawa amunisi klaster.

Sebaliknya, Kementerian Dalam Negeri Otoritas Palestina menyebutnya sebagai serpihan pencegat (interseptor) dari sistem pertahanan udara Israel. Terlepas dari siapa yang bertanggung jawab, warga di Beit Awa merasa terjepit dalam konflik yang bukan milik mereka.

"Kami berada di antara dua api," cetus Mahmoud Sweity, salah satu pelayat.

Tragedi itu menambah daftar panjang penderitaan di wilayah Hebron Hills, yang juga didera krisis ekonomi sejak izin kerja warga Palestina dicabut dan meningkatnya aksi kekerasan oleh pemukim ilegal. 

Data PBB mencatat sedikitnya 18 warga Palestina telah tewas oleh pemukim dan tentara Israel di Tepi Barat sejak awal tahun 2026. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya