Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH Jepang membuka peluang untuk mengerahkan kekuatan militernya dalam misi pembersihan ranjau di Selat Hormuz. Opsi tersebut bakal dipertimbangkan dengan catatan apabila gencatan senjata telah tercapai dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Menteri Luar Negeri Jepang, Toshimitsu Motegi, mengungkapkan kemungkinan tersebut dalam sebuah wawancara dengan Fuji TV.
Motegi menyatakan bahwa Tokyo dapat mengambil peran teknis jika situasi keamanan di jalur perdagangan vital tersebut sudah mulai mereda.
"Jika terjadi gencatan senjata menyeluruh, secara hipotetis, maka hal-hal seperti penyapuan ranjau dapat muncul," ujar Motegi sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.
Ia menekankan bahwa langkah itu masih bersifat pengandaian dan sangat bergantung pada kondisi di lapangan.
Menurutnya, hambatan berupa ranjau laut di jalur pelayaran internasional menjadi perhatian serius bagi keamanan navigasi global.
"Ini murni hipotetis, tetapi jika gencatan senjata ditetapkan dan ranjau laut menciptakan hambatan, maka saya pikir itu akan menjadi sesuatu yang perlu dipertimbangkan," lanjutnya.
Pernyataan Motegi itu muncul setelah sebelumnya Jepang sempat menyatakan tidak akan mengirimkan pasukan untuk mengamankan rute perdagangan tersebut.
Keputusan itu diambil meskipun ada tekanan dan permintaan bantuan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk menjaga stabilitas di kawasan Selat Hormuz. (H-4)
KETEGANGAN di kawasan Teluk kembali meningkat setelah militer Iran mengeluarkan peringatan keras kepada Uni Emirat Arab (UEA) terkait potensi serangan dari wilayah negara tersebut.
Iran ancam balas total jika infrastruktur energi mereka diserang lagi. Serangan di Teluk Persia picu lonjakan harga bensin & lumpuhkan 17% kapasitas ekspor LNG Qatar.
Prancis menyatakan membantu menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Namun, langkah konkret baru akan diambil setelah tercapai gencatan senjata.
Menteri tersebut menggemakan pernyataan Kanselir Friedrich Merz yang menyebut konflik di Timur Tengah “bukan perang Jerman.”
Ia menyatakan bahwa negara-negara yang memperoleh manfaat dari keamanan pelayaran di selat itu harus membayar biaya dan pajak kepada Iran.
Prancis menyatakan membantu menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Namun, langkah konkret baru akan diambil setelah tercapai gencatan senjata.
Milisi Kataib Hizbullah sepakati jeda serangan terhadap Kedubes AS di Baghdad dengan syarat ketat. Sementara itu, pasokan gas Iran ke Irak terhenti total.
Pakistan dan Afghanistan sepakat menghentikan sementara konflik maut demi menghormati Idul Fitri, menyusul serangan udara di Kabul yang menewaskan ratusan jiwa.
Teheran sebut laporan komunikasi dengan AS sebagai "kebohongan murni". Menlu Abbas Araghchi tegaskan Iran tidak pernah meminta gencatan senjata sejak perang pecah.
AS prediksi perang melawan Iran berakhir dalam hitungan minggu. Namun, Teheran tegaskan siap bertempur panjang tanpa negosiasi. Simak update selengkapnya
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved