Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Iran Ancam tidak akan Menahan Diri jika Infrastruktur Energi Diserang Lagi

Haufan Hasyim Salengke
20/3/2026 14:13
Iran Ancam tidak akan Menahan Diri jika Infrastruktur Energi Diserang Lagi
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi.(Tasnim News Agency)

MENTERI Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengeluarkan peringatan keras bahwa Teheran tidak akan lagi menunjukkan penahanan diri jika fasilitas energi mereka kembali menjadi sasaran. Pernyataan ini muncul sehari setelah Israel menyerang ladang gas South Pars, yang kemudian dibalas oleh Teheran dengan menyerang fasilitas energi di seluruh wilayah Teluk Persia.

Melalui unggahannya di media sosial X pada Kamis (19/3), Araqchi menegaskan bahwa tindakan Iran sebelumnya barulah sebagian kecil dari kekuatan militer yang dimiliki. "Tanggapan kami terhadap serangan Israel terhadap infrastruktur kami hanya menggunakan SEBAGIAN KECIL dari kekuatan kami. SATU-SATUNYA alasan untuk menahan diri adalah menghormati permintaan de-eskalasi," tulisnya.

Dampak Vital 

South Pars merupakan aset krusial bagi Iran karena menjadi sumber pasokan gas domestik terbesar yang menyediakan 80% kebutuhan gas alam negara tersebut. Serangan terhadap fasilitas ini dianggap sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas energi nasional Iran.

Peringatan ini juga bertepatan dengan upaya Qatar menilai kerusakan masif di Kota Industri Ras Laffan. Lokasi tersebut merupakan titik vital yang memproses sekitar 20% pasokan gas alam cair (LNG) global. Akibat serangan balasan Iran, kapasitas ekspor LNG Qatar melumpuh hingga 17%.

Dalam pernyataan terpisah, Presiden Donald Trump menyatakan kekesalannya dengan meminta Israel untuk tidak menyerang infrastruktur gas alam Iran. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pun telah memberikan klarifikasi bahwa serangan ke fasilitas tersebut dilakukan sendiri, tanpa keterlibatan AS.  

Krisis Energi Global 

CEO QatarEnergy, Saad Al-Kaabi, menyatakan kepada Reuters bahwa serangan balasan Iran tersebut merusak dua dari 14 unit LNG Qatar serta satu fasilitas gas-to-liquids (GTL). Kerusakan ini diprediksi menghentikan produksi sebesar 12,8 juta ton per tahun selama tiga hingga lima tahun ke depan, dengan potensi kerugian pendapatan mencapai $20 miliar per tahun.

Eskalasi ini memicu kekhawatiran global terhadap inflasi seiring melonjaknya harga bensin. Situasi semakin genting karena Selat Hormuz, jalur air yang dilalui seperlima pasokan minyak dan LNG dunia, kini efektif terblokir di tengah ketegangan tersebut. "Tidak akan ada pengekangan sama sekali jika infrastruktur kita diserang lagi," pungkas Araqchi. (Fars/B-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik