Headline
Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH dokumen bocor mengungkap rencana kontroversial yang disebut “Gaza Riviera”. Gaza Riviera ialah proyek pembangunan kota-kota futuristik di atas wilayah Gaza. Rencana itu, yang dilaporkan Washington Post, langsung menuai kecaman karena dianggap menutupi agenda pemindahan paksa lebih dari 2 juta penduduk Gaza.
Proposal setebal 38 halaman itu diberi nama Gaza Reconstitution, Economic Acceleration and Transformation Trust (Great). Disebut-sebut disusun pihak yang sebelumnya menggagas Gaza Humanitarian Foundation dengan dukungan konsultan Boston Consulting Group. Rencana ini bahkan mengusulkan “relokasi sementara” seluruh warga Gaza ke negara lain atau ke zona terbatas selama masa rekonstruksi.
Sebagai gantinya, pemilik tanah akan diberi “token digital” yang bisa digunakan untuk membiayai hidup di tempat baru. Bagi yang memilih bertahan, tempat tinggal yang ditawarkan hanya seluas 30 meter persegi, jauh lebih kecil dibanding rumah rata-rata di Gaza.
Belum jelas apakah ini mencerminkan kebijakan resmi AS. Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri menolak berkomentar. Namun, dokumen tersebut sejalan dengan retorika Donald Trump yang pernah menyatakan keinginan untuk “membersihkan” Gaza dan membangunnya kembali.
Rencana ini menuai kritik tajam dari berbagai pihak. Philip Grant, direktur eksekutif organisasi HAM Trial International, menyebutnya sebagai “cetak biru deportasi massal yang dipasarkan sebagai pembangunan,” yang bisa dikategorikan kejahatan internasional. Ia menegaskan pihak-pihak yang terlibat, termasuk perusahaan swasta, berisiko menghadapi tuntutan hukum.
Media Israel seperti Haaretz pun menyindirnya sebagai “skema kaya mendadak ala Trump, berbasis kejahatan perang, AI, dan turisme.”
Isi proposal memang terdengar bombastis: pelabuhan modern, delapan kota canggih bertenaga AI mirip proyek Neom di Arab Saudi, hingga kawasan industri “Elon Musk” di atas reruntuhan zona industri Erez. Namun, dokumen itu juga menghapus batas kedaulatan Gaza, Israel, dan Mesir, hanya menyisakan “hak keamanan” Israel. Tidak ada konsep negara Palestina, hanya “polity” yang diarahkan bergabung dengan Abraham Accords.
Kecaman juga datang dari berbagai pakar. HA Hellyer dari Royal United Services Institute menilai rencana itu “gila dan tak masuk akal,” sementara pengacara HAM Katherine Gallagher memperingatkan perusahaan yang terlibat bisa menghadapi gugatan internasional.
Pejabat senior Hamas, Basem Naim, menolak mentah-mentah gagasan tersebut. “Gaza bukan untuk dijual. Gaza adalah bagian dari tanah air Palestina,” tegasnya. (The Guardian/Z-2)
Militer Iran sindir tajam klaim damai Donald Trump. Sebut AS hanya bernegosiasi dengan diri sendiri terkait 15 poin rencana damai dan stabilitas energi.
Menlu Oman Badr al-Busaidi tegaskan Iran tidak bertanggung jawab atas perang yang dimulai AS-Israel. Oman desak diplomasi demi keamanan Selat Hormuz.
Presiden Trump kirim sinyal baur: klaim misi militer di Iran hampir usai namun tambah 2.500 pasukan. Ketidakpastian ini picu gejolak harga minyak dan pasar saham.
Presiden Donald Trump menyatakan perang melawan Iran telah dimenangkan. Namun, ia tetap membuka peluang serangan udara jika negosiasi pengakhiran konflik menemui jalan buntu.
Setelah satu tahun ditahan tanpa dakwaan, peneliti bahasa AS Dennis Coyle akhirnya dibebaskan oleh Taliban.
Presiden AS Donald Trump menyebut Iran memberikan 'hadiah' signifikan terkait aliran minyak di Selat Hormuz. Apakah ini sinyal berakhirnya perang?
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved