Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Kontradiksi Negosiasi AS-Iran: Trump Klaim Ada Kesepakatan, Teheran Membantah Keras

Thalatie K Yani
26/3/2026 09:23
Kontradiksi Negosiasi AS-Iran: Trump Klaim Ada Kesepakatan, Teheran Membantah Keras
Donald Trump menyebut negosiator Iran takut dibunuh rakyatnya sendiri jika mengaku berunding dengan AS. Di sisi lain, Iran sebut negosiasi adalah kekalahan.(White House)

KETEGANGAN diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran memasuki babak baru yang penuh kontradiksi. Presiden AS Donald Trump bersikeras Teheran sebenarnya sedang berupaya melakukan perundingan damai, meski pemerintah Iran berulang kali mengeluarkan bantahan resmi di hadapan publik.

Dalam acara makan malam bersama anggota Kongres dari Partai Republik, Trump menyebut penolakan Iran untuk mengakui adanya pembicaraan tersebut didasari rasa takut para negosiatornya terhadap reaksi domestik di negara mereka sendiri.

"Mereka sebenarnya sedang bernegosiasi, dan mereka sangat ingin membuat kesepakatan," ujar Trump sebagaimana dikutip dari AFP. "Tetapi mereka takut untuk mengatakannya, karena mereka berpikir akan dibunuh oleh rakyatnya sendiri."

Bantahan Tegas dari Teheran

Pernyataan Trump tersebut berbanding terbalik dengan sikap resmi Iran. Pemerintah Iran baru-baru ini menolak rencana AS untuk menghentikan perang di Timur Tengah. Alih-alih mereda, Teheran justru meluncurkan lebih banyak serangan terhadap Israel dan negara-negara Arab di Teluk.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan melalui televisi pemerintah bahwa pihaknya tidak terlibat dalam pembicaraan apa pun untuk mengakhiri perang. Ia menekankan bahwa posisi Iran saat ini sama sekali tidak membuka ruang untuk diplomasi dengan Washington.

"Berbicara tentang negosiasi sekarang adalah sebuah pengakuan atas kekalahan," tegas Araghchi.

Senada dengan Araghchi, saluran televisi pemerintah Iran berbahasa Inggris juga mengutip seorang pejabat anonim yang menyatakan bahwa Iran menolak proposal gencatan senjata AS. Iran dikabarkan memiliki tuntutan tersendiri sebagai syarat berakhirnya pertempuran.

Tekanan Gedung Putih

Sebelumnya, pejabat dari Pakistan, yang bertindak sebagai perantara penyampai rencana AS ke Iran, memaparkan adanya proposal berisi 15 poin untuk meredakan konflik. Meski Iran membantah, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, tetap pada posisi bahwa komunikasi kedua negara masih berjalan.

"Pembicaraan terus berlanjut. Ini produktif, seperti yang dikatakan Presiden pada hari Senin, dan pembicaraan tersebut terus berlanjut," kata Leavitt pada Rabu waktu setempat.

Namun, Leavitt juga memberikan peringatan keras jika jalur diplomasi ini menemui jalan buntu. Ia menyatakan bahwa Donald Trump tidak akan ragu mengambil langkah militer yang ekstrem. "Jika pembicaraan dengan Iran tidak membuahkan hasil, dia (Trump) akan memastikan mereka dipukul lebih keras daripada yang pernah mereka alami sebelumnya," pungkasnya. (AFP/The Guardian/Z-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya