Headline

Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.

Trump Klaim Terima 'Hadiah Besar' dari Iran terkait Selat Hormuz

Thalatie K Yani
25/3/2026 05:25
Trump Klaim Terima 'Hadiah Besar' dari Iran terkait Selat Hormuz
Presiden AS Donald Trump menyebut Iran memberikan 'hadiah' signifikan terkait aliran minyak di Selat Hormuz. Apakah ini sinyal berakhirnya perang?(White House)

PRESIDEN Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan sebuah pernyataan mengejutkan terkait perkembangan konflik dengan Iran. Pada Selasa waktu setempat, Trump mengklaim Teheran telah memberinya "hadiah yang sangat besar" terkait Selat Hormuz, sebuah langkah yang meningkatkan keyakinannya Washington kini tengah bernegosiasi dengan pihak yang tepat untuk mengakhiri perang.

Pernyataan misterius ini muncul hanya sehari setelah Trump secara tak terduga menunda rencana serangan terhadap pembangkit listrik Iran. Ia menyebutkan proses negosiasi sedang berlangsung dengan tokoh-tokoh tertentu di Iran, meskipun pihak Teheran hingga kini masih membantah adanya keterlibatan dalam pembicaraan damai tersebut.

"Hadiah" Terkait Aliran Minyak

Dalam pertemuan di Oval Office saat upacara pelantikan Menteri Keamanan Dalam Negeri yang baru, Markwayne Mullin, Trump menggambarkan "hadiah" tersebut sebagai sesuatu yang sangat signifikan dan bernilai fantastis.

"Mereka melakukan sesuatu yang luar biasa kemarin. Mereka memberi kami hadiah dan hadiah itu tiba hari ini. Itu adalah hadiah yang sangat besar senilai uang yang sangat banyak," ujar Trump kepada wartawan.

Lebih lanjut, Trump mengonfirmasi bahwa hal ini berkaitan erat dengan tuntutannya agar Iran membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas pengiriman minyak global yang sempat terganggu selama empat minggu terakhir. "Ya, itu terkait dengan aliran (minyak) dan terkait selat tersebut," tambahnya.

Meskipun enggan merinci identitas sosok yang menjadi lawan bicaranya, Trump meyakini telah terjadi perubahan peta kekuatan di internal Iran setelah tewasnya pemimpin tertinggi Ali Khamenei pada hari pertama kampanye udara bersama Israel-AS.

Tim Negosiasi dan Peran Mediator

Trump membeberkan sejumlah nama besar yang terlibat dalam upaya diplomasi ini, termasuk Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, utusan global Steve Witkoff, hingga menantunya, Jared Kushner. Ada laporan yang menyebutkan tim tersebut kemungkinan menuju Pakistan untuk melanjutkan pembicaraan.

Di sisi lain, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif secara terbuka menawarkan diri sebagai mediator. Sharif mengaku telah berkomunikasi dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk membantu membawa perdamaian di kawasan tersebut.

Diplomasi di Tengah Ketegangan Militer

Meski jalur diplomasi mulai terbuka, tensi militer tetap terasa kuat. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, memberikan pernyataan tegas saat dipanggil oleh Trump ke podium. Hegseth mengisyaratkan bahwa militer tetap dalam posisi siap tempur jika negosiasi gagal.

"Kami menganggap diri kami sebagai bagian dari negosiasi ini juga. Kami bernegosiasi dengan bom," tegas Hegseth.

Hingga saat ini, dunia internasional masih menunggu rincian lebih lanjut mengenai kesepakatan tersebut, mengingat pentingnya Selat Hormuz sebagai urat nadi pasokan energi dunia. (AFP/Z-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya