Headline

Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.

Indonesia Aman dari Krisis Energi Global, ini Strategi DEN

Media Indonesia
24/3/2026 22:29
Indonesia Aman dari Krisis Energi Global, ini Strategi DEN
Pengunjung menggunakan motor listrik untuk berkeliling di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Senin (23/3/2026).(Antara/Fakhri Hermansyah)

LAPORAN terbaru dari The Economist menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara berkembang yang paling aman dari dampak krisis energi global akibat eskalasi konflik antara Iran melawan Israel-Amerika Serikat. Menanggapi hal tersebut, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Satya Widya Yudha, menilai pencapaian ini merupakan bukti nyata keberhasilan pemerintah dalam menjaga stabilitas energi nasional di tengah tekanan geopolitik yang sangat dinamis.

Laporan bertajuk 'Which country is the biggest loser from the energy shock' tersebut mengategorikan Indonesia ke dalam kelompok negara dengan paparan risiko rendah tetapi memiliki bantalan ketahanan yang kuat (low exposure, strong buffer). Posisi ini sangat krusial mengingat konflik di Timur Tengah berpotensi mengganggu jalur distribusi minyak dunia, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi jalur bagi sekitar 20% pasokan minyak global setiap harinya.

Satya Widya Yudha menegaskan bahwa penilaian positif dari The Economist mencerminkan efektivitas respons pemerintah terhadap situasi perdagangan minyak mentah dunia, terutama terkait ancaman blokade di Selat Hormuz.

"Ini sebagai bentuk keberhasilan pemerintah merespons situasi perdagangan minyak mentah, terutama yang melewati Selat Hormuz yang diblokade oleh Iran," ujar Satya dalam keterangan resmi, Selasa (24/3/2026).

Strategi Jangka Pendek: Edukasi dan Penghematan

Dalam jangka pendek, pemerintah dinilai cukup efektif dalam mengedukasi masyarakat untuk melakukan penghematan energi. Satya meminta agar tren positif ini terus dilanjutkan sebagai langkah antisipasi ketidakpastian global.

Beberapa langkah penghematan yang didorong oleh pemerintah meliputi:

  • Optimalisasi penggunaan transportasi umum.
  • Akselerasi penggunaan kendaraan listrik dan kompor listrik.
  • Konversi BBM menuju listrik atau bahan bakar gas (BBG).
  • Penerapan kebijakan work from home (WFH) untuk membatasi mobilisasi kerja yang tidak mendesak.

Ketahanan Jangka Panjang: Infrastruktur dan Eksplorasi

Untuk memperkuat kedaulatan energi dalam jangka panjang, Satya menyoroti pentingnya pembangunan tambahan storage (tangki penyimpanan) untuk cadangan BBM nasional. Langkah ini akan memastikan ketersediaan pasokan untuk kebutuhan domestik tetap terjaga meski terjadi gangguan impor.

Selain itu, peningkatan aktivitas eksplorasi migas domestik menjadi harga mati. Saat ini, produksi minyak Indonesia berada di kisaran 600 ribu barel per hari, sementara konsumsi nasional mencapai lebih dari 1,5 juta barel per hari. Terdapat celah (gap) besar yang harus ditutup melalui peningkatan produksi dalam negeri agar tidak terlalu bergantung pada fluktuasi harga pasar internasional.

Catatan DEN: "Cadangan operasional juga harus ditingkatkan supaya coverage days-nya bisa menjadi tiga bulan. Di samping itu, pemerintah perlu juga mendorong peningkatan cadangan migas dengan aktivitas eksplorasi," saran Satya.

Perbandingan dengan Negara Tetangga

Analisis The Economist juga menunjukkan posisi strategis Indonesia yang jauh lebih stabil dibandingkan negara tetangga seperti Vietnam. Meskipun keduanya berada di zona low exposure, Indonesia memiliki skor ketahanan (resilience score) yang lebih tinggi.

Hal itu karena Vietnam dianggap lebih rentan terhadap gangguan rantai pasok manufaktur global yang sangat bergantung pada stabilitas harga energi. Keunggulan Indonesia dalam memiliki sumber daya domestik dan kebijakan subsidi yang terukur menjadi pembeda utama dalam menghadapi guncangan ekonomi global.

Ke depan, DEN menekankan bahwa kombinasi antara edukasi publik, diversifikasi energi, peningkatan cadangan operasional, serta percepatan transisi energi akan menjadi kunci utama dalam menjaga ketahanan nasional di tengah dinamika geopolitik yang diprediksi masih akan berlanjut. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya