Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Pangkas Emisi Karbon, Pakar Dorong Pemerintah Segera Eksekusi Pembangunan PLTN

Rahmatul Fajri
15/2/2026 16:14
Pangkas Emisi Karbon, Pakar Dorong Pemerintah Segera Eksekusi Pembangunan PLTN
Ilustrasi(Freepik.com)

PAKAR energi dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Muhammad Bachtiar Nappu mendukung rencana Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Harian Dewan Energi Nasional (DEN), Bahlil Lahadlia, untuk mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

Bachtiar menyatakan teknologi Small Modular Reactor (SMR) adalah solusi paling tepat bagi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan.

"SMR adalah true energy security untuk masa depan. Dibandingkan PLTN konvensional berkapasitas 1.000 MW, reaktor modular berkapasitas kecil seperti 50 MW lebih fleksibel dan bisa dibangun bertahap sesuai kebutuhan elektrifikasi di wilayah terpencil," ujar Bachtiar melalui keterangannya, Minggu (15/2/2026).

Pakar energi STT Migas Balikpapan, Andi Jumardi menilai Indonesia mampu secara mandiri karena memiliki cadangan bahan baku nuklir yang melimpah, seperti uranium dan thorium yang tersebar di Bangka Belitung, Kalimantan Barat, hingga Mamuju.

Andi juga menampik kekhawatiran publik terkait faktor keamanan. Menurutnya, industri nuklir modern telah belajar banyak dari insiden masa lalu dan terus berkembang dengan sistem proteksi yang jauh lebih canggih.

"Dari sisi SDM, kita sangat kompeten. Kasus masa lalu seperti Fukushima adalah force majeure bencana alam. Teknologi nuklir saat ini sudah sangat modern dan mampu mengantisipasi risiko serupa. Secara ekonomi, harga listriknya pun relatif lebih murah dibanding energi fosil," kata Andi.

Energi Bersih dengan Densitas Tinggi

Sementara itu, Peneliti Laboratorium Rekayasa Termal dan Sistem Energi (RTSE) ITS, Ary Bachtiar Krishna Putra, menyoroti keunggulan teknis nuklir dari sisi efisiensi. Ia menjelaskan bahwa nuklir memiliki densitas energi yang luar biasa. Selain itu, bahan bakar dalam jumlah kecil mampu menghasilkan listrik dalam skala besar dan stabil.

"Secara proses, nuklir itu bersih dan relevan dengan target penurunan emisi nasional karena tidak menghasilkan karbon dioksida. Hanya ada panas untuk memutar turbin," jelas Ary.

Ary menilai tantangan terbesar saat ini bukanlah teknologi, melainkan penentuan lokasi dan kesiapan infrastruktur. Ia menyayangkan masih adanya sentimen negatif di masyarakat, padahal sistem kontrol nuklir terbaru telah meminimalkan faktor kesalahan manusia (human error).

"Nuklir sering diserang lewat isu lingkungan, padahal pembangkit fosil jauh lebih mencemari. Dengan teknologi terbaru, risiko bisa ditekan sangat rendah dan sistem kontrolnya sangat ketat," pungkasnya.

Langkah Menteri Bahlil untuk memasukkan nuklir dalam strategi energi nasional dianggap para pakar sebagai terobosan berani guna memastikan ketahanan energi jangka panjang sekaligus memenuhi komitmen Net Zero Emission Indonesia. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya