Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
GAGASAN Menteri ESDM sekaligus Ketua Harian Dewan Energi Nasional (DEN) Bahlil Lahadalia untuk mengembangkan energi nuklir di Indonesia mendapat sambutan positif dari kalangan akademisi.
Pakar menilai, langkah tersebut bukan hanya strategis untuk transisi energi, tetapi juga solusi konkret bagi persoalan elektrifikasi di wilayah terpencil, selama dilakukan dengan teknologi yang tepat dan tata kelola yang kuat.
Dalam diskusi energi yang digelar di Makassar, Pakar energi Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof. Muhammad Bachtiar Nappu secara tegas mendorong pemerintah agar tidak sekadar membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) konvensional, melainkan langsung mengadopsi teknologi reaktor modular kecil atau Small Modular Reactor (SMR).
Menurutnya, SMR adalah wajah masa depan ketahanan energi nasional. “Truly energy security for the future adalah PLTN, tapi dalam bentuk small. Jangan PLTN konvensional yang minimal 1.000 MW, tapi reaktor modular 50 MW. Itu jauh lebih cocok untuk negara kepulauan seperti Indonesia,” ujar Bachtiar.
Ia menjelaskan, SMR dapat dibangun secara bertahap sesuai kebutuhan dan tidak memerlukan investasi awal yang membebani.
Teknologi ini juga lebih fleksibel secara geografis, sehingga ideal untuk menghidupkan listrik di kawasan timur Indonesia dan daerah perbatasan yang selama ini belum tersentuh secara optimal.
Bachtiar mengungkapkan, Indonesia sebenarnya tidak perlu ragu karena memiliki cadangan uranium dan thorium yang tersebar di sejumlah wilayah, seperti Bangka Belitung, Kalimantan, hingga Mamuju, Sulawesi Barat.
"Bahan bakunya kita punya. Tinggal bagaimana kita mengelolanya dengan riset dan teknologi yang tepat," imbuhnya.
Senada dengan itu, Direktur Lembaga Studi Kebijakan Publik, M. Kafrawy Saenong, menekankan bahwa energi nuklir harus ditempatkan sebagai opsi realistis untuk diversifikasi energi nasional, bukan sekadar wacana.
Ia mendorong pemerintah untuk memulai proyek percontohan di Kalimantan Barat, wilayah yang dikenal memiliki potensi uranium yang menjanjikan.
“Kalau Kalbar dijadikan lahan uji coba, ini bisa menjadi model utama. Dari sana kita belajar, lalu dikembangkan ke daerah terpencil lainnya. Nuklir bukan hanya infrastruktur, ketersediaan bahan baku juga kunci,” tegas Kafrawy.
Namun, ia mengingatkan bahwa aspek keselamatan dan penguatan riset harus menjadi panglima. Menurutnya, pelibatan saintis dan pengawasan ketat akan menjadi kunci agar publik dapat menerima nuklir sebagai opsi energi yang wajar dan aman.
Dari sisi ekonomi, Prof. Syamsuri Rahim, ekonom Universitas Muslim Indonesia (UMI), menilai kehadiran PLTN khususnya di daerah tertinggal dapat membuka ruang tumbuh ekonomi baru.
“Listrik adalah gerbang utama pertumbuhan. Jika energi sudah dinikmati seluruh masyarakat, ekonomi akan bergerak. Industri kecil bisa hidup, lapangan kerja terbuka,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan agar pembangunan PLTN tidak membuat pemerintah terpaku pada satu opsi saja. Kebijakan diversifikasi energi harus tetap berjalan sesuai karakteristik daerah masing-masing.
“Tidak semua wilayah cocok atau terjangkau infrastruktur nuklir. Maka pengembangan energi surya, angin, dan air tetap harus berjalan paralel,” pungkasnya. (LN/E-4)
Presiden Rusia Vladimir Putin menawarkan dukungan tenaga ahli untuk proyek pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Indonesia dalam pertemuannya dengan Presiden Prabowo di Moskow
Kita harus jujur mengakui, selama lima dekade perjalanan Indonesia dalam isu nuklir, selalu tersandung pada simpul yang sama: komitmen yang mudah diucapkan, tapi rapuh ketika diuji.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan telah bertemu dengan pihak dari Kanada dan Rusia membahas pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Indonesia.
Pemerintah harus mengirim tenaga ahli ke negara-negara maju yang telah mengoperasionalkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).
Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE), sebagai subholding dari PT Pertamina menyatakan keinginan untuk mengembangkan PLTN di Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved